Opini Publik

Guru Milenial; Antara Gaya dan Jati Diri

BEBERAPA tahun terakhir ini, sekolah atau madrasah negeri diramaikan dengan kehadiran guru-guru muda. Mereka diterima sebagai PNS setelah melalui

Guru Milenial; Antara Gaya dan Jati Diri
Shutterstock
Ilustrasi.

Alipir Budiman SPd Mpd, Guru pada MTsN 1 Banjar, Kabupaten Banjar

BANJARMASINPOST.CO.ID - BEBERAPA tahun terakhir ini, sekolah atau madrasah negeri diramaikan dengan kehadiran guru-guru muda. Mereka diterima sebagai PNS setelah melalui berbagai seleksi yang cukup ketat. Kehadiran mereka yang masih fresh graduate tentu saja akan sangat membantu keberlangsungan sekolah.

Bahkan, bisa-bisa membuat guru yang sudah tua, guru gagap teknologi, guru yang enggan meng-update dan meng-upgrade ilmunya akan tersisih. Pasalnya, guru-guru muda ini rata-rata sudah familiar dengan teknologi informasi.

Institusi sekolah juga memerlukan tenaga-tenaga yang cakap dalam mengikuti perkembangan di era digital ini. Dulu, proses belajar mengajar di kelas hanya menggunakan buku teks, spidol, dan papan tulis. Sekarang, media pembelajaran sudah bertambah dengan kehadiran proyektor, presentasi dengan teknologi Augmented Reality, penayangan video, dan lain-lain, yang semuanya mempermudah pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan.

Generasi yang dididik di sekolah saat ini dikategorikan generasi milenial, dimana mereka sudah mengerti teknologi modern. Siswa sekarang juga lebih bersifat group oriented, yaitu sangat mementingkan pertemanan kelompok, sehingga mempunyai kecenderungan gampang terpengaruh. Dunia maya sudah menjadi bagian dari dunia mereka, sehingga media sosial seperti facebook, twitter, Instagram, whatsapp, line, dan sebagainya lebih penting buat mereka. Berbagai aplikasi seperti webtoon, wattpad, tiktok, dan lain-lain sudah menjadi santapan mereka.

Menghadapi siswa generasi milenial ini, mau tidak mau, guru juga harus bisa memantaskan dan membekali diri dengan kemampuan yang setidaknya sama dengan yang dikuasai siswa, sehingga bisa “nyambung” dengan siswa-siswa milenial.

Kehadiran guru-guru muda yang terlahir dari generasi Y, akan lebih cocok dan “nyambung” dengan keinginan siswa dari generasi Z. Sangat berbeda dengan guru-guru “old” yang lahir dari generasi X, yang sangat ingin menguasai teknologi, tapi lebih terlihat seperti kelas pemula. Mereka kalah bersaing dalam hal kemampuan menguasai teknologi dibanding siswa. Bisa jadi, guru-guru “old” jadi bahan olokan siswa, karena bila ingin ini itu di aplikasi, justru mereka yang banyak bertanya dan lambat mengerti.

Banjarmasin Post edisi Selasa (28/1/2020).
Banjarmasin Post edisi Selasa (28/1/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Guru Milenial

Guru-guru dari generasi Y, yang penulis menyebut mereka dengan guru milenial, harus memiliki smartphone yang cukup mahal, laptop, memiliki akun di banyak media sosial, dan memiliki pengetahuan tentang IT yang baik. Hal tersebut harus dimiliki dengan tujuan untuk mempermudah dan menunjang pekerjaan guru. Misalnya guru harus memiliki smartphone tujuannya mempermudah komunikasi antara orangtua, siswa dan guru. Laptop juga dapat menunjang, mempermudah, dan mempercepat pekerjaan guru. Media sosial juga harus dimiliki guru supaya tidak ketinggalan informasi yang terkini, dan untuk memperbanyak relasi.

Selain itu guru juga harus mempunyai pengetahuan dan kemampuan di bidang IT yang baik. Guru tidak boleh gagap teknologi karena hal itu dapat menghambat kegiatan belajar mengajar di kelas.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved