BPost Cetak

Kisah Pengrajin Kue Keranjang Panen Saat Imlek, Linda Selalu Pakai Gula Merah dari Barabai

Perayaan Imlek juga memunculkan berbagai makanan tradisional. Salah satunya kue keranjang. Kue yang dalam bahasa Cina disebut nian gao

Editor: Hari Widodo
BPost Cetak
BPost Edisi Rabu (29/1/2020). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Kemeriahan Imlek tampak di sejumlah pusat perbelanjaan di Banjarmasin lewat dekorasi seperti lampion dan atribut lainnya. Kesenian barongsai pun kerap dijumpai di jalanan. Mereka mampir di toko-toko dan melakukan atraksi menyambut Tahun Baru Cina ini.

Perayaan Imlek juga memunculkan berbagai makanan tradisional. Salah satunya kue keranjang. Kue yang dalam bahasa Cina disebut nian gao ini adalah suguhan wajib di rumah. Rasanya yang manis dan teksturnya yang kenyal menyerupai dodol.

Di Banjarmasin, kue keranjang antara lain dibikin dan dipasarkan oleh Linda Wijaya (71), warga Jalan Veteran. Usaha ini telah dijalankannya lebih dari 30 tahun. Mulanya kue khas Cina ini diproduksi ibunya.

“Proses pembuatan kue keranjang ada beberapa tahapan. Bahan yang dipersiapkan antara lain ketan, gula aren dan gula putih.

Wuhan Mencekam, Mahasiswa Banjar Ini Ungkap Sempat Sulit Cari Makan, Corona Tewaskan 106 Warga Cina

Ketua KPU RI 7 Jam Diperiksa KPK, Arief Mengaku Tak Terima Duit Harun

Borok Rizky Febian Dibongkar Teddy Suami Lina, Putra Sule Itu Disebut Lakukan Ini pada Ibunya

Peringatan Putra Veronica Tan Saat Ahok BTP Bersama Wanita Selain Puput Nastiti Devi, Nicholas Ucap

“Kualitas gula merah sangat mempengaruhi warna kue. Saya pernah terbeli yang kualitasnya rendah sehingga warnanya pucat. Gula merah yang digunakan harus asli, biasanya dari Barabai,” kata Linda.

Sebelum dimasak, ketan dicuci bersih, kemudian ditiriskan dan dijemur hingga kering. Sementara itu gula aren dan gula putih direbus kemudian didinginkan,” jelasnya.

Selanjutnya ketan dan rebusan gula dicampur dan diaduk hingga rata. Adonan lalu dimasukkan dalam dandang untuk dikukus. Proses pengukusan sekitar 5-6 jam.

Dalam sehari Linda bisa melakukan 3-4 kali pembuatan. Sekali membuat bisa menghasilkan 70-100 kue keranjang. Ukurannya adalah dua yakni satu kilogram dan 05, kilogram.

Sekitar dua bulan menjelang Imlek, Linda membuka pesanan. Puncak pesanan terjadi pada satu pekan sebelum Imlek. Di antara yang memesan adalah Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kalsel sebanyak 200 biji.

Pemesannya tidak hanya dari Banjarmasin, tapi juga dari wilayah lain seperti Batulicin dan Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

“Setelah Imlek, pemesanan masih ramai. Itu karena dua pekan setelahnya ada Cap Go Meh. Jadi permintaan kue keranjang masih ramai hingga dua bulan ke depan,” ujar Linda.

Selain meneruskan usaha ibu, Linda mengakui usaha ini menambah penghasilan keluarga. Dia bisa mendapat Rp 5 juta per bulan.

Membuat kue keranjang tidak sekadar bisnis. Ada filosofi dalam kue ini. Bentuknya yang bundar bermakna kekeluargaan yang artinya keterikatan tanpa batas.

“Di atas kue keranjang biasanya diselipkan kertas merah khas nuansa Imlek. Kue keranjang ini dipercaya membawa hoki bagi keluarga sehingga menjadi menu wajib setiap perayaan Imlek,” imbuhnya.

Kisah Helmy Yahya Tergoda Menjadi Dirut TVRI, Pernah Dilarang Sang Kakak Tantowi Yahya

Pejabat yang Angkat Honorer Bakal Kena Sanksi, Mereka Dipekerjakan Hingga Desember

Ritual yang Dilakukan Teddy Sepeninggal Lina, Ibu Rizky Febian & Eks Sule Muncul di Ruangan?

Kemudian, tekstur yang lembut dan kenyal menggambarkan keuletan, kegigihan serta daya juang yang tinggi. Kue ini juga punya sifat yang tahan lama. Hal ini memiliki makna penting dalam menjalin relasi yang awet dan berkualitas.

Rasa manis dari kue keranjang turut bermakna suka cita. Rasa yang bisa membahagiakan orang lain serta membagikan nilai-nilai positif bagi sesama. (banjarmasinpost.co.id/mariana)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved