Ekonomi dan Bisnis

Banting Stir dari Operator Alat Berat, Slamet Ubah Limbah Akar Ulin Ini Jadi Meja Hias yang Eksotik

Melihat limbah akar kayu ulin itu, Slamet Syafi'i yang sebelumnya menjadi sopir alat berat, terpikirkan kenapa tidak dibikin meja yang alami.

Banting Stir dari Operator Alat Berat, Slamet Ubah Limbah Akar Ulin Ini Jadi Meja Hias yang Eksotik
banjarmasinpost.co.id/syaiful anwar
Meja eksotik dari limbah akar ulin hasil kerajinan tangan Slamet Syafi'i. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Selama ini limbah kayu ulin sering dimanfaatkan warga Sidomulyo Kecamatan Kelumpang Hulu, Kotabaru dibikin arang.

Melihat limbah akar kayu ulin itu, Slamet Syafi'i yang sebelumnya menjadi operator alat berat, terpikirkan kenapa tidak dibikin meja yang alami.

Dia kemudian 'meninggalkan' profesi dan konsen memanfaatkan limbah ulin menjadi meja unik dan menarik, sehingga beberapa masyarakat pun tertarik membelinya.

"Meja kursi bikinan saya ini bukan diukir melainkan seni alami. Kayu pun bukan yang lama tapi usianya ulinnya lama hingga terlihat serat-seratnya," paparnya, Jumat (31/1/2020) sore.

Terlibat Kecelakaan Motor Vs Motor di Desa Cabi Mataraman, Pelajar SMK Telkom Banjarbaru Tewas

Sosok Wanita Gaib Ikuti Hotman Paris Disebut Mbak You di Depan Teddy, Suami Lina, Begini wujudnya

Pencemaran Sungai Satui Diduga dari Tambang di Tala, Dewan Desak DLH Provinsi Berikan Sanksi

100 Hari Kabinet Jokowi Dinilai Gagal Bawa Harapan Baru, Analis: RI Kehilangan Wibawa di Natuna

Mejanya terbuat akar limbah Ulin dengan bentuk bulat, lonjong menyesuaikan bentuk aslinya. Kaki meja pun terbuat dari akar kayu dan tidak tentu tongkatnya empat.

Sandaran kursinya pun bukan dibentuk atau diukir, melainkan asli dari akar yang memanjang hingga terlihat unik dan menarik. Ada juga tempat duduknya potongan Ulin berbentuk bulat.

"Meja limbah Ulin ini biasanya diletakkan sebagai meja hias, meja taman atau meja teras," tandas Slamet seraya menambahkan membikinnya memakan waktu satu bulan.

Harga meja buatannya, lanjut dia, per set nya mulai Rp 2 juta hingga Rp 10 juta, tergantung bentuk yang dipesan.

Dijelaskannya, meja limbah Ulin ini per bulannya laku satu set saja. Pemesannya kebanyakan dari warga Banjarmasin, Pelaihari dan Banjarbaru.

"Sebenarnya ada saja yang memesan dari Jawa, cuma ongkos kirim ke sana cukup besar, sehingga tak jadi membeli," ucap Slamet.

VIRAL Pedangdut Cantik Lepas Bra Saat Goyang di Panggung, Si Candoleng-doleng Nekat karena Disawer

Nasib Bayi Nikita Mirzani Pasca Sobat Billy Syahputra Dijemput Paksa Polisi, Putra Dipo Latief Rewel

Pengusiran Aurel Hermansyah Oleh Ashanty Terungkap, Istri Anang Murka Anak Krisdayanti Lakukan Ini

Kendala lainnya, papar dia, dirinya kesulitan mencari bahan baku akar Ulin, karena sebagian dibakar untuk arang.

"Saya juga kesulitan memasarkan produk meja akar Ulin ini. Saya sangat berharap pemerintah daerah, khususnya instansi terkait membantu memasarkan meja bikinannya," pungkasnya.

(banjarmasin post.co.id/syaiful Anwar)

Penulis: Syaiful Anwar
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved