Fikrah

KH Husin Naparin : Kebahagiaan

Dalam hidup dan kehidupan dunia, banyak manusia mengira kebahagiaan itu ada pada takhta, harta dan wanita.

KH Husin Naparin : Kebahagiaan
Kaltrabu
KH Husin Naparin 

Oleh: KH Husin Naparin, Lc. MA

BANJARMASINPOST.CO.ID - Dalam hidup dan kehidupan dunia, banyak manusia mengira kebahagiaan itu ada pada takhta, harta dan wanita. Setelah didapatkannya dengan susah payah, ia seperti seorang pengembara di padang pasir melihat telaga air nan luas di kejauhan, namun setelah ia sampai disana ternyata hanya menemukan onggokan pasir belaka yang disebut fatamorgana. Apa itu bahagia? Kamus Besar Bahasa Indonesia menulis; “Bahagia (n) keadaan atau perasaan tenang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan).”

Baru-baru ini ada berita dari Inggris cukup mengagetkan, Pangeran Harry dan Meghan Markle tidak bahagia, mundur dari Keluarga Kerajaan. (BPost, Jumat 10/2/2020). Meghan Markle dan Pangeran Harry resmi menyatakan mundur dari status sebagai anggota senior Kerajaan Inggris. dan akan membagi waktu seimbang antara Inggris dan Amerika Utara demi perkembangan buah hati mereka Archie Harrison Mountbatten Windsor.

Dikatakan setelah diskusi internal berbulan-bulan, kami mememilih melakukan transisi pada tahun ini. Kami berniat mundur sebagai anggota bangsawan senior Keluarga Kerajaan dan bekerja mandiri secara finansial. Kami tetap mendukung Paduka Ratu. Pihak Istana Buckingham kecewa atas keputusan yang diambil tanpa konsultasi lebih dahulu dengan pihak istana termasuk kepada Pangeran William dan Ratu Elizabeth. Jubir Istana menyatakan keduanya tak tahan dan kurang bahagia dengan kehidupan di Kerajaan. Keduanya ingin hidup layaknya orang banyak tanpa sorotan kamera dan upacara resmi yang harus dilakukan.

Apa yang terjadi di Inggris ini, mengingatkan kita kepada seorang sufi Ibrahim ibn Adham, yaitu Abu Ishak Ibrahim bin Adham dari keluarga bangsawan Arab, lahir di Balkh th.168 H/782 M, seorang raja di Balkh, daerah awal perkembangan Budha. Ia menjalani pengendalian tubuh/jiwa seperti yang dilakukan Budha Sidharta. berupa keberanian, rendah hati, dan gaya hidup yang bertolak belakang dengan kehidupan semasa menjadi Raja Balkh; serta menekankan pentingnya ketenangan dan meditasi dalam melakukan pelatihan pengendalian tubuh dan jiwa. Salah satu muridnya yang terkenal adalah Shaqiq al-Balki.

Banjarmasin Post edisi Jumat (31/1/2020).
Banjarmasin Post edisi Jumat (31/1/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Sebagian besar penulis percaya silsilahnya berasal dari Umar bin Khattab. Ia meninggalkan tahtanya dan memilih menjalani kehidupannya sebagai seorang petapa setelah mendapat teguran Tuhan melalui penampakan Khidir sebanyak dua kali, lalu memutuskan turun dari takhtanya dan memilih menjalani kehidupannya sebagai pertapa di Suriah. Semenjak melepaskan jabatannya sebagai raja, ia berangkat ke Naishapur dan hidup di dalam gua selama sembilan tahun. Selama dalam gua ia pernah bertemu dengan ular yang sangat besar, Ia Ibrahim berdoa “Ya Allah, Engkau telah mengirim makhluk ini dalam bentuk yang halus, tetapi sekarang terlihat bentuknya yang sebenarnya yang sangat mengerikan. Aku tak sanggup melihatnya“. Kemudian sang ular pun bergerak dan bersujud di depan Ibrahim sebanyak tiga kali.

Setelah dari pertapaan tersebut Ibrahim berangkat ke Makkah. Dalam perjalanan menemui banyak kejadian yang luar biasa. Pada saat berada di Dzatul Irq, ia bertemu tujuh puluh orang berjubah kain perca yang tergeletak dengan darah yang mengalir dari hidung dan telinga mereka. Setelah 14 tahun berkelana di padang pasir akhirnya beliau sampai ke Makkah dan hidup sebagai tukang kayu, terkadang berjalan sampai jauh ke Selatan hingga ke Gaza. Semasa menjalani kehidupannya, ia sangat menghindari untuk mengemis dan memilih bekerja membanting tulang tanpa mengenal lelah untuk mendapatkan pembiayaan hidupnya sehari-hari, antara lain menggiling jagung atau hanya sekedar merawat kebun. Diperkirakan ia pernah bergabung militer di perbatasan wilayah Byzantium dan kematiannya pada satu ekpedisi angkatan laut yang diikutinya.

Pada zaman now problematika kehidupan telah membawa manusia kepada “stres” yaitu gangguan/kekacauan mental dan emosional disebabkan faktor luar berupa ketegangan perebutan sumber rezeki dan faktor internal dari dalam diri seseorang berupa ambisi pribadi yang tak terkendali. Dua-puluh tahunan yang lalu Prof Dr Dadang Hawari pernah mengatakan bahwa 20 persen penduduk Jakarta telah menderita Stres, Sedang penduduk Kalsel kena stres menurut Dr Yulizar Darwis mencapai 18 persen. Bayangkan kondisi manusia dewasa ini, mereka tinggal. Kota kecil berubah menjadi kota semi besar. Kota semi besar berubah menjadi kota besar. Kota besar berubah menjadi kota metropolitan, akhirnya kota metropolitan berubah menjadi kota neraka.

Tambah mengglobal dunia ini membuktikan urgennya tuntunan hidup, itulah huda (petunjuk) Al Qur’an yang membawa penduduk bumi menjadi orang beriman kepada Allah. “Alladziina aamanuu watathma’innnu quluubuhum bidzikrillaahi, alaa bidzikrillaahi tathma’innul-quluub (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. alladziina aamanuu wa amilush-shaalihaati thuuba lahum wahusnu ma’aab.” Orang-orang yang beriman dan beramal saleh bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang layak (QS.13/28-29). (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved