Opini Publik

Menjadi Ibu Bahagia

AKHIR tahun 2019, banyak kita jumpai kasus seorang ibu yang melakukan penganiayaan terhadap anak-anaknya. Sebagaimana yang dilansir oleh Kompas.com

Menjadi Ibu Bahagia
Nikita
ibu dan anak 

Oleh: Laila Thamrin, Praktisi Pendidikan dan Founder Komunitas Ibu Cerdas Banua

BANJARMASINPOST.CO.ID - AKHIR tahun 2019, banyak kita jumpai kasus seorang ibu yang melakukan penganiayaan terhadap anak-anaknya. Sebagaimana yang dilansir oleh Kompas.com, seorang ibu di Nusa Tenggara Timur tega membenturkan kepala anak perempuannya yang baru berusia dua tahun hingga meregang nyawa keesokan harinya. Persoalannya sepele, karena si anak kencing di kasur. Di Boyolali, juga terjadi hal yang serupa.

Hanya gara-gara anak lelakinya yang berusia 6 tahun rewel berkepanjangan, seorang ibu mencubitnya, memukuli dan membenturkan kepala anaknya. Akhirnya, anaknya sakit dan menjemput ajalnya. Sementara di Kupang, lebih tragis lagi. Sepasang anak kembar berusia 5 tahun telah disabet parang oleh ibunya hingga tewas. Lalu si ibu berupaya melukai dirinya sendiri pula. Dan masih banyak kasus serupa yang terjadi menimpa anak-anak dengan pelaku penganiayaan adalah ibu kandungnya sendiri.

Kasus demi kasus yang terjadi ini kerapkali tersebab stress berat yang menimpa sang ibu. Banyak faktor yang memunculkan stress ini hingga memuncak. Dan sedihnya, anak yang dijadikan pelampiasan hingga berujung kematian. Namun, sesal kemudian tiada berguna.

Penyebab stres pada ibu bisa jadi karena persoalan dengan suami, kerabat atau keluarga besar lainnya. Bisa jadi pula karena faktor ekonomi yang kian membelenggu mereka. Banyak pengakuan para ibu pelaku penganiayaan terhadap anaknya karena mereka tak ingin anaknya menderita seperti dirinya. Akhirnya, dengan menghabisi anaknya dia berpikir persoalan akan selesai.

Buruknya sistem kehidupan Kapitalisme yang berlaku di negeri ini memang menuai banyak persoalan. Ekonomi yang kian sulit, menambah persoalan hidup semakin pelik. Apalagi ukuran kebahagiaan hanyalah materi semata. Alhasil, saat kebutuhan materi tak tercukupi maka hidup miskin dan terpinggirkan terpaksa menjadi pilihan. Hingga mereka merasa jauh dari kebahagiaan. Ditambah lagi, terkadang iman di dada semakin tipis tergerus zaman.

Sejatinya, ibu sebagai pelaku utama pendidik generasi. Di tangan seorang ibu lah anak-anak bisa menjadi sosok hebat dalam kehidupannya. Lihat saja bagaimana kekuatan semangat ibunda Imam Syafi’i kala mendidik anaknya. Dan hasilnya, Imam Syafi’i menjadi sosok ulama yang luas keilmuannya dan dikenal sepanjang masa. Bahkan menjadi salah satu rujukan umat muslim sedunia hingga saat ini.

Ibunda Sultan Muhammad Al Fatih juga sosok ibu yang sangat mengagumkan. Dari sang ibu lah A Fatih kecil mendapatkan pendidikan Islam yang baik dan semangat untuk berjuang. Hingga akhirnya Sultan Muhammad Al Fatih mampu menjadi penakluk Konstantinopel.

Banyak lagi sosok ibu-ibu hebat di abad ini yang melahirkan anak-anak hebat. Dan kita pun sebagai ibu pasti bisa mengikuti jejak langkah mereka.

Banjarmasin Post edisi Sabtu (1/2/2020).
Banjarmasin Post edisi Sabtu (1/2/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Ibu Bahagia, Ibu Hebat

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved