Berita Banjarbaru

Perubahan Nomenklatur Energi Baru Terbarukan Bikin Risau, Bisa Hambat Pengembangan di Kalsel

Pada nomenklatur atau penamaan kegiatan yang baru EBT hanya mengakomodir untuk panas bumi, sementara untuk panas bumi di Kalsel potensinya sedikit

Perubahan Nomenklatur Energi Baru Terbarukan Bikin Risau, Bisa Hambat Pengembangan di Kalsel
kompas.com
Ilustrasi-Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Selasa (27/12/2016) meresmikan tiga proyek infrastruktur pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) milik PT Pertamina (Persero) senilai 532,07 juta dollar AS atau Rp 6,18 triliun. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengubah nomenklatur kegiatan pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT). Dimana Pada nomenklatur atau penamaan kegiatan yang baru EBT hanya mengakomodir untuk panas bumi, sementara untuk panas bumi di Kalsel potensinya sedikit.

Kabid Energi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalsel, Sutikno, Jumat (31/1/2020) mengemukakan bahwa panas bumi di Kalsel potensinya sangat kecil.

Satu contoh di Loksado, misalnya. Disana terdapat panas air yang berpotensi menghasilan energi 50 MW, namun lokasinya masuk kawasan hutan lindung.

"Ketiadaan nomenklatur anggaran berpotensi menghambat pengembangan EBT. Karena itu saya
berharap Kemendagri menerima usulan pihaknya untuk merevisi nomenklatur anggaran, sebab jika tidak diubah maka kami tidak bisa menganggarkan kegiatan tanpa adanya cantolan nomenklatur dari Kemendagri, " runutnya.

Empat Jembatan Besar di Banjarmasin Dibangun di 2020, Ada Jembatan Bromo dan HKSN

Terlibat Kecelakaan Motor Vs Motor di Desa Cabi Mataraman, Pelajar SMK Telkom Banjarbaru Tewas

Sosok Wanita Gaib Ikuti Hotman Paris Disebut Mbak You di Depan Teddy, Suami Lina, Begini wujudnya

Nasib Bayi Nikita Mirzani Pasca Sobat Billy Syahputra Dijemput Paksa Polisi, Putra Dipo Latief Rewel

Pada tahun lalu pengembangan EBT di Kalsel dilaksanakan dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (Plts) di beberapa titik.

Pada tahun ini sudah ditencakan dibangun kembali untuk nelayan di Kotabaru, namun saat ini program tersebut berpotensi tidak bisa dilaksanakan.

"Dengan posisi saat ini anggaran tertahan. Secara nasional kemungkinan pertimbangannya daerah pulau Jawa yang memiliki gunung merapi, sehingga potensi EBT panas bumi besar. Kami meminta kebijakan Kemendagri mengakomodir usulan daerah, sehingga gerakan revolusi energi dari tenaga fosil menjadi tenaga energi baru terbaurkan berhasil, karena kita dituntut mengurangi gas rumah kaca," urainya.

Di Provinsi Kalsel kegiatan pengembangan EBT sudah berjalan. Beberapa contoh EBT adalah pembangkit listrik tenaga surya (Plts), biogas, dan pemanfaatan cairan limbah pabrik kepala sawit (PKS).

Menyusul perubahan nomenklatur atau penamaan program kegiatan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), justru bisa berimbas pengembangan EBT yang sudah jalan dan akan dirancang di Kalsel mandek.

Sejauh ini, di Kalsel baru 6 persen dari total pembangkitan energi. Sementara, berdasarkan peraturan presiden (perpres) capaian EBT harus 32 persen dari total pembangkitan energi.

Halaman
12
Penulis: Nurholis Huda
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved