Suara Rekan

Budaya Sepak Bola

PERNYATAAN Ketua Dewan Pengawas TVRI Arief Hidayat Thamrin bahwa tayangan sepak bola Liga Inggris tidak sesuai dengan budaya bangsa harus dijelaskan

Dok BPost
Pramono BS 

Oleh: Pramono BS

BANJARMASINPOST.CO.ID - PERNYATAAN Ketua Dewan Pengawas TVRI Arief Hidayat Thamrin bahwa tayangan sepak bola Liga Inggris tidak sesuai dengan budaya bangsa harus dijelaskan agar tidak menimbulkan salah pengertian.

Pernyataan itu dikeluarkan sebagai salah satu alasan mengapa Dewan Pengawas (Dewas) memecat Direktur Utama TVRI Helmy Yahya. TVRI, katanya, tidak cocok menyiarkan sepak bola Liga Inggris karena tidak sesuai dengan budaya bangsa (Haluan.Co 21 Januari 2020). Alasan lain yang tidak sesuai dengan budaya bangsa adalah tayangan Discovery yang juga dari luar negeri. “Dari pada menayangkan buaya Afrika kan lebih baik buaya dalam negeri saja,” begitu kira-kira pernyataannya.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mencampuri kisruh pemecatan Helmy Yahya, apalagi membela salah satu pihak. Tapi semata-mata ingin mengritisi ucapan yang bisa merendahkan berbagai upaya untuk memajukan sepak bola nasional yang terus menerus terpuruk di laga internasional.

Apa salah sepak bola Liga Inggris sehingga dianggap tidak sesuai dengan budaya bangsa. Liga Inggris adalah favorit pecandu bola Indonesia, seperti liga-liga yang lain dari Italia, Spanyol, German dll. Menteri BUMN Eric Thohir pun pernah mengakuisisi klub terkenal Italia Inter Milan yang berlaga di seri A, setingkat Liga Inggris, dan tahun 2013 ia menjadi Presiden klub yang sudah berusia 106 tahun itu.

Sepak bola adalah olah raga universal, disukai semua orang di dunia. Aturannya sama, permainannya sama. Pendeknya di seluruh dunia sepak bola itu sama, yang membedakan hanya kualitas pemain. Indonesia seperti halnya Inggris juga anggota FIFA, tunduk pada hukum FIFA. Jadi tidak ada yang beda kecuali kelasnya.

Indonesia perlu belajar agar bermain lebih sportif, tidak gampang tersulut emosinya sehingga memancing keributan. Suporter Indonesia yang terkenal dengan istilah bonek (bondo nekad), jack mania dll justru lebih tidak berbudaya. Perkelahian antarsuporter sampai ada yang meninggal seperti ketika Persija melawan Persib.

Banjarmasin Post edisi Minggu (2/2/2020)
Banjarmasin Post edisi Minggu (2/2/2020) (Dok Banjarmasinpost.co.id)

***

Yang lebih menyakitkan adalah pengaturan skor. Pertandingan yang demikian gegap gempita ternyata hanya sandiwara karena hasil akhir sudah diatur. Cara ini justru dikendalikan oleh oknum pengurus PSSI. Ketua Umum PSSI Joko Driyono dihukum penjara karena kasus pengaturan skor ini.

Masih kurang? Hanya di Indonesia ada polisi masuk lapangan menangkap dua pemain yang berkelahi di saat pertandingan berlangsung. Ini terjadi tahun 2009 di Solo saat Gersik United melawan Persis Solo. Bernard Mamadou (Gersik United) dan Nova Zaenal Persis) dianggap sebagai pemicu keributan sehingga polisi menangkapnya di tengah lapangan tanpa diminta wasit. Peristiwa ini disaksikan Walikota Solo Joko Widodo (kini Presiden RI), Kapolda Jateng Komjen Alex Bambang Riatmojo dan sejumlah petinggi.

Polisi juga pernah menangkap wasit di tengah lapangan karena menilai kepemimpinannya tidak adil. Jadi seperti apa warna sepak bola di Indonesia. Inikah budaya sepakbola Indonesia yang diinginkan oleh Ketua Dewas TVRI Arief Hidayat Thamrin?

Sepak bola kita tidak pernah bisa maju, kita lagi mencari cara untuk memperbaiki. Manajemen sepak bola luar negeri, teknik-teknik tinggi klub asing tidak haram diterapkan. Ini bagian dari pendidikan sepak bola untuk pemain atau masyarakat.

Seperti halnya sepak bola, dalam dunia binatang buaya dari Afrika atau Indonesia sama saja harus diselamatkan. Tayangan Discovery tentang kehidupan buaya adalah sarana pendidikan, tidak peduli itu buaya asing atau lokal seperti yang dimasalahkan Dewas TVRI. Ini mencari alasan atau alasan yang dicari-cari. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved