Berita Banjarbaru

Jalur Alternatif Sungai Ulin-Mataraman Masih Terseok-seok, Satu Warga Tuntut Keadilan

Jalur Alternatif Mataraman-Sungai Ulin hingga saat ini masih belum tersambung. Prosesnya pun masih terseok-seok

Jalur Alternatif Sungai Ulin-Mataraman Masih Terseok-seok, Satu Warga Tuntut Keadilan
banjarmasinpost.co.id/nurholis huda
Helmi dan ibunya warga desa jingah habang ilir menujukkan bukti lokasi lahan miliknya yang terkena dampak pembebasan lahan Mataraman-Sungai Ulin 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Jalur Alternatif Mataraman-Sungai Ulin hingga saat ini masih belum tersambung. Prosesnya pun masih terseok-seok, Menyusul masih adanya pembebasan lahan yang masih belum selesai.

Pembebasan lahan yang masih belum rampung ini berada di RT 001 Desa Jingah Habang Hilir. Lahan seluas kurang lebih 3000 meter persegi milik almarhum H Supriadi yang saat ini diwariskan kepada anaknya Helmi.

Keluarga ini keberatan dengan pembebasan lahan yang menurut mereka tidak ada keadilan dibanding dengan pembebasan lahan yang ada di barisan belakang tanahnya.

"Kami tidak menghalangi proses pengerjaan jalan itu. Kami bahkan sangat mendukung. Namun, kami merasa tidak ada keadilan dalam hal pembebasan lahan ini," kata Helmi, Selasa, (4/2/2020).

VIDEO Para Penjual Jamu Stamina di Pangeran Samudera Banjarmasin, The Legend!

Perayaan Cap Gomeh di Kalsel Diisi berbagai Kebudayaan Nusantara Termasuk Madihin

Akhirnya Teddy Buka Suara & Ungkap Pencuri Perhiasan Ibu Rizky Febian, Lina yang Diberi Sule

Nikah Siri Sarita Abdul Mukti & Brondong 18 Tahun Terjadi di Masa Lalu, Bikin Faisal Harris Begini

Permasalahan pembebasan lahan ini dikarenakan harga lahan miliknya dinilai terlalu murah dibanding dengan lahan yang berada di belakangnya.

"Tanah kami hanya dinilai Rp166 ribu dan Rp172 ribu per meternya. Sementara lahan yang ada dibelakang kami sampai dihargai Rp400 ribu permeternya," keluhnya.

Lalu, Helmi juga berujar bahwa ketika dilakukan penghitungan tahun 2014 lalu. Tanah miliknya dihargai Rp.220 ribu, namun semakin ke sini nominal tersebut semakin turun.

"Kok bisa semakin turun setiap tahunnya, dari mana penilaiannya. Logikanya, biasanya harga jual tanah semakin naik," tanyanya.

Selain itu, nilai ganti tanam tumbuh dari ratusan pohon yang ada dilahannya juga dinilai tidak sesuai. Ada total 600 batang tanaman buah yang masih produktif dan hanya dihargai Rp61,5 juta.

"Untuk penggantian lahan, kami berharap minimal tidak berjauh dengan harga lahan yang ada di belakang lahan kami. Lahan kami ini, berada di pinggir akses jalan utama kecamatan," tegasnya.

Halaman
123
Penulis: Nurholis Huda
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved