Opini Publik

Merdeka Belajar dan Masyarakat Tanpa Sekolah

Merdeka belajar sebagai konsep yang memerdekakan dalam dinamika dan perjalanan pendidikan di republik ini telah dikenalkan dan diingatkan kembali

Merdeka Belajar dan Masyarakat Tanpa Sekolah
DOK. KEMENDIKBUD
Mendikbud Nadim Makarim menjelaskan arah kebijakan pendidikan Merdeka Belajar dalam Rapat Koordinasi Mendikbud dengan Kepala Dinas Pendidikan se-Indonesia di Jakarta, Rabu (11/12/2019). 

Oleh: MOH. YAMIN, Dosen di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) di Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - Merdeka belajar sebagai konsep yang memerdekakan dalam dinamika dan perjalanan pendidikan di republik ini telah dikenalkan dan diingatkan kembali oleh Nadiem Anwar Makarim sebagai menteri muda dan progresif. Rasa gelisah dan refleksi dalam memaknai realitas perjalanan pendidikan yang selama ini sudah membuka kembali kesadaran baru bahwa ada yang salah dalam berpendidikan kita.

Berpendidikan kita tampaknya dari masa ke masa sudah kehilangan identitas relevansinya terhadap kebutuhan dan tuntutan di realitas. Berpendidikan selama ini dalam rentang sejarah yang panjang belum mampu menjawab perubahan dan keinginan bersama untuk melahirkan para sarjana yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri, independen dari segala bentuk kepentingan sektoral. Berpendidikan dalam makna praksisnya adalah selalu berhadapan dengan ego sektoral yang kemudian menghambat tujuan pendidikan yang memerdekakan.

Di setiap masa dan waktu, kita di republik ini terus menerus memproduksi para sarjana secara melimpah ruah namun kesarjanaan yang dimiliki tidak bisa dan belum memberikan kontribusi, setidaknya bagi kemajuan para sarjana itu sendiri dalam mengembangkan kemandirian dan karirnya. Kendala utama yang dihadapi adalah karena cara berpendidikan kita sangat positivis, selalu berpandangan bahwa jurusan saat memilih tempat studi menjadi pilihan terbaik yang dapat mengantarnya menjadi orang berguna dan bermakna.

Program studi yang dipilih sudah menyediakan banyak pilihan masa depan sehingga tidak perlu lagi belajar yang lain. Untuk itu, konsep dan pola berpendidikan semacam itu menjadi distortif. Berpendidikan menjadi formal sentris. Apa yang dipelajari di kelas atau bangku kuliah menjadi tidak membuka wawasan luas dan visioner. Prinsip belajar yang dikembangkan dan dilaksanakan adalah sebangun dengan semangat positivisme dimana hasil sesuai dengan pilihan yang dipilih di awal. Ini adalah ironi berpikir positivisme dan cara berpikir seperti ini perlu ditinggal jauh-jauh.

Padahal berbicara masa depan ke depan yang serba tidak menentu dan terus mengalami perubahan super cepat, para sarjana tidak bisa dan boleh kaku dalam berpendidikan. Mereka tidak cukup belajar satu disiplin ilmu saja, namun harus mampu interdisipliner. Setiap ilmu apapun perlu dipelajari. Keserbatidakmenentuan hidup di masa kini dan masa depan pun perlu direspon secara serius, cepat, kritis, dan progresif.

Berpendidikan saat di bangku kuliah pun menuntut setiap kita untuk bisa mengikuti perkembangan zaman dalam segala sektor. Belajar apapun adalah sebuah konsumsi wajib yang tidak bisa dibantah sebagai kekuatan dan modal utama untuk terus survive di segala musim. Kita tidak bisa bertahan dalam satu suasana dan tantangan. Multitantangan adalah ruang bagi kita semua untuk bisa dipelajari dan didalami sehingga kita menjadi para sarjana yang tegar dan kuat dalam melewati batas tantangan itu sendiri sebagai pribadi sarjana yang unggul.

Oleh sebab itu, berpendidikan pun perlu didefinisikan kembali sebagai belajar yang tidak terbatas ruang dan waktu, tidak terbatas pada disiplin ilmu tertentu. Siapapun adalah guru dan dimana pun adalah sekolah. Pada prinsipnya, karena sudah memilih satu disiplin ilmu tertentu pada satu jurusan tertentu, ini tetap dilalui sebagai sebuah pilihan wajib secara akademis untuk memenuhi kewajiban kurikulum, akan tetapi melebarkan banyak pilihan non wajib pun perlu dipelajari dan didalami sebagai bagian dari menguatkan kapasitas diri sebagai sarjana yang multiwawasan.

Berpendidikan, dengan demikian, adalah upaya dan kerja peradaban agar para sarjana menjadi lebih siap untuk berdialektika dengan kenyataan dan fakta hidup. Menyelesaikan persoalan dan masalah hidup tidak bisa didekati dengan satu pendekatan. Belajar banyak hal menjadi jalan menuju berkemampuan diri menjadi lebih bijaksana, arif dalam menjawab kenyataan, rasional dan jernih dalam mengurangi setiap fase kemunculan persoalan.

Banjarmasin Post edisi Kamis (6/2/2020).
Banjarmasin Post edisi Kamis (6/2/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Ivan Illich

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved