Kiprah Pencipta Tari Kreasi

Kehidupan Anak-anak Loksado dan Masyarakatnya, Menginspirasi Guru ini Menciptakan Karya Tari Kreasi

ABDURRAHIM Suryanegara, akrab disapa Ahim. Sudah sembilan tahun dia mengabdi di desa terpencil, Loksado, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai

Editor: Eka Dinayanti
Sanggar Seni Budaya Pusaka Meratus UNTUK BPOST GROUP
Penampilan penari anak-anak Loksado yang tergabung dalam sanggar Seni dan Budaya Pusaka Meratus, saat latihan di alam terbuka. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - ABDURRAHIM Suryanegara, akrab disapa Ahim. Sudah sembilan tahun dia mengabdi di desa terpencil, Loksado, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), sebagai guru Bimbingan Konseling (BK) di SMPN 1 Loksado.

Menariknya, Pria kelahiran Hulu Sungai Tengah, 14 Juni 1985 ini punya talenta lain.

Dia seorang koreografer atau pencipta gerakan tari.

Pencipta gerakan tari, sekaligus menjadi guru tari anak-anak di Pegunungan Meratus, sudah empat generasi dibinanya menjadi penari tradisional yaitu tari kreasi Dayak Loksado.

Sikap Maia Estianty ke Putri Mulan Jameela & Ahmad Dhani, Safeea dari Postingan Dul Jaelani Disorot

Misteri Pekerjaan Asli Teddy, Suami Lina Akhirnya Teruak, Apa Sebanding Sule si Ayah Rizky Febian?

Kena Tendangan Mematikan Temannya, Bocah SMP Ini Tergeletak dengan Tubuh Sudah Kaku di Kelas

Anak-anak yang dibina Ahim, adalah murid-murid di SMPN 1 Loksado.

Ditemui Rabu (5/2), Ahim menuturkan dia ditugaskan di SMPN 1 Loksado sejak 2011.

Ahim kemudian memutuskan tinggal di desa yang populer sebagai kawasan objek wisata alam yang indah tersebut.

Setelah empat tahun fokus mengajar, diapun mengaku mencari kegiatan lain di luar mengajar.

Pada 2016, terinspirasi untuk mengekplore seni dan budaya warga setempat.

Selama di sana, sering melihat ritual aruh adat, serta tari-tarian yang dibawakan warga adat.

“Saya jadi mikir, ingin tari adat ini bisa ditampilkan tak hanya di kegiatan aruh. Tapi di acara-acara penting. Seperti kegiatan pemerintahan dan menyambut tamu-tamu daerah,” katanya.

Namun, rencana itu terkendala masalah pantangan.

Tari adat, tak boleh ditampilkan sembarangan di luar ritual aruh.

Setelah konsultasi dengan kepala adat, Ahim mengaku dibolehkan mengadopsi tarian tersebut, dengan catatan tak sama persis.

“Akhirnya saya ciptakan gerakan-gerakan kreasi tambahan dengan dasar tari bakanjar dan babangsai. Jadi mengapa bukan murni tari tradisionalnya yang ditampilkan, karena saya menghormati ritual adat Dayak di sini,” jelasnya.

Merealisasi keinginan membina anak-anak Loksado menjadi penari yang bisa tampil di berbagai event, pada 2016 dibentuk Sanggar Seni Budaya Pusaka Meratus.

Awalnya sekretariatnya di rumah dinas guru.

Namanya Sanggar SMP Satu.

Baru 2018 menjadi mandiri dengan 11 penari dari murid SMPN 1 Loksado.

Anak-anak pedalaman yang dibina menjadi penari, tampil pertama di depan umum pada Car Free Sunday, Agustus 2016.

Sejak saat itu, banyak yang tertarik dengan penampilan anak-anak meratus tersebut.

Sejak itu pula, kata Ahim, sanggar Pusaka Meratus sering diundang ke acara-acara di kecamatan, hingga kabupaten.

“Kami ingin mengucapkan terimakasi kepada mantan Camat Loksado Abdul Karim. Beliaulah yang memberi kesempatan tampil di MTQ 2016. Ternyata itu menjadi pembuka peluang bagi kami, mendapat tawaran tampil di berbagai event lainnya. Termasuk saat aruh sastra di HSS, hingga sering menghibur tamu wisatawan lokal dan internasional yang berkunjung ke HSS,” ujarnya.

Bahkan, sebut Ahim, kebanggaan dia dan anak didiknya, pernah tampil di Taman Ismail Marzuki Jakarta, mewakili HSS di Festival Banjar.

Pada tahun 2019 lalu, sanggar Pusaka dengan jumlah anggota 19 orang penari dan pemusik tradisional, mengikuti Gelar Budaya Saraba Kawa, Festival Tari Dayak Pedalaman di Tabalong, Tanjung.

Meski gagal meraih juara, Ahim mengaku bangga jika anak-anak binaannya sering mendapat kesempatan tampil di luar daerah.

Karena hal itu, menambah pengalaman, wawasan dan kepercayaan diri anak-anak Loksado yang sebelumnya cenderung pemalu menampilkan bakat seni mereka.

Ahim sendiri, sudah menciptakan sejumlah tari kreasi, antara lain Parigal Bajang yang diinspirasi dari perilaku anak-anak Loksado.

Juga tari Arak Igal Bajang, yang dulu ditampilkan di Jakarta. Kemudian Aghanan Meratus atau dalam bahasa Indonesia artinya merindukan Meratus, Alap Aghanan atau menjemput kerinduan.

“Kreasi gerakan yang saya ciptakan, sering terinspirasi dari prilaku keseharian anak-anak di Loksado dan masyarakatnya,” beber Ahim.

Untuk mengasah kemampuan gerak, minimal latihan seminggu sekali. Ahim punya mimpi besar, ingin tari kreasi yang diadopsi dari tari tradisional Dayak tersebut bisa dikenal secara nasional.

Bahkan internasional.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved