Opini Publik

Refleksi Hari Pers Nasional 2020, Menjaga Kemandirian Pers

PERS dituntut untuk senantiasa ikut berkontribusi dalam membangun negeri ini menuju perubahan yang lebih baik. Maka, selain harus menjadi penyedia

Refleksi Hari Pers Nasional 2020, Menjaga Kemandirian Pers
Dok Banjarmasinpost.co.id
Refleksi Hari Pers Nasional 2020, Menjaga Kemandirian Pers 

Oleh: Djoko Subinarto, Kolumnis dan Bloger

BANJARMASINPOST.CO.ID - PERS dituntut untuk senantiasa ikut berkontribusi dalam membangun negeri ini menuju perubahan yang lebih baik. Maka, selain harus menjadi penyedia informasi yang akurat, berimbang serta objektif, pers -- sebagai pilar keempat demokrasi -- harus tetap setia menjadi anjing penjaga kekuasaan di negeri ini sehingga kekuasaan tidak sampai disalahgunakan.

Saat ini, ancaman bagi kelangsungan industri pers di negeri ini bukan lagi instruksi pemberangusan atau breidel dari penguasa bertangan besi seperti di zaman Orde Lama (Orla) maupun Orde Baru (Orba), melainkan justru dari kian melorotnya tiras yang kemudian dilanjutkan dengan penurunan raihan kue iklan.

Tidak bisa kita mungkiri, lahirnya internet, sebagai salah satu buah dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, telah menjadikan arus informasi saat ini bukan lagi monopoli segelintir individu atau segelintir kelompok. Siapa pun, sepanjang memiliki akses internet, bisa melahap informasi tanpa batas dan membagikannya kepada pihak lain yang dikehendakinya.

Pada saat yang sama, siapa pun kini bisa pula memproduksi informasi, terlepas apakah informasi itu bernilai atau tidak, dan menyebarkannya ke seantero jagat dengan cepat serta seketika alias real time. Di tengah kemajuan dahsyat teknologi informasi dan komunikasi, yang menimbulkan guncangan-guncangan hebat di pelbagai sektor bisnis sekarang ini, industri pers menghadapi paling tidak dua tantangan besar.

Tantangan pertama yaitu bagaimana mempertahankan kelangsungan platform cetaknya. Makin mudahnya khalayak mencari dan juga memproduksi informasi melalui kanal digital tak ayal membuat jumlah pembaca media cetak mengalami penyusutan. Ini terjadi di mana-mana, bukan cuma di Indonesia, tetapi juga di pelbagai belahan dunia lainnya. Masih mending apabila penyusutan jumlah pembaca ini diimbangi dengan raihan iklan yang cukup gemuk. Namun, apabila raihan iklan juga ikut menciut, alamat bakal kian sulit bagi para pengelola media cetak menjalankan bisnis mereka.

Hitung-hitungan statistik, secara global, telah terjadi penurunan tiras surat kabar di pelbagai belahan bumi. Ini sebuah sinyal nyata bahwa secara umum orang memang semakin enggan saja membaca surat kabar. Orang-orang, terutama mereka yang lebih muda, sekarang ini lebih suka membaca berita lewat internet. “Buat apa berlangganan atau membeli surat kabar, toh semuanya telah tersedia lewat internet,” demikian paling tidak yang ada dalam pikiran mereka.

Karenanya, dewasa ini para pengelola media cetak dituntut untuk mampu menciptakan pelbagai inovasi cemerlang. Tujuan utamanya bukan untuk menaikkan jumlah pembaca secara drastis, melainkan lebih untuk mempertahankan jumlah pembaca agar tidak terus melorot. Pada saat bersamaan, diharapkan jumlah kue iklan yang diperoleh juga stabil. Syukur-syukur bisa meningkat lebih signifikan.

Akibat kian seretnya raihan iklan, beberapa surat kabar di negeri ini terpaksa gulung tikar lebih cepat. Sejumlah lainnya memilih mengurangi jumlah rubrik dan halamannya serta menyetop edisi Minggu-nya. Sedangkan beberapa lainnya kini harus berjalan dengan tertatih-tatih, antara hidup segan, mati tak mau.

Sudah barang tentu, kondisi seperti itu harus dapat dibaca dengan jeli dan disiati dengan tepat oleh para pengelola surat kabar yang masih bertahan di negeri ini jika tidak ingin cepat-cepat menutup bisnis mereka untuk selama-lamanya. Dalam karyanya bertajuk Strategic Newspaper Management, Conrad C Fink (1998) menyebutkan ada tiga fondasi yang mesti dibangun oleh pengelola penerbitan surat kabar jika ingin maju dan berkembang dengan sehat. Ketiga fondasi itu adalah memahami industri bersangkutan, memahami pasar dan memahami pesaing.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved