Ekonomi dan Bisnis

VIDEO Sasirangan Kreatif Mulai Diminati, Tas Kanaya Waistbag Merambah Shopee, Bukalapak & Tokopedia

Sasirangan adalah kain adat suku Banjar di Kalimantan Selatan (Kalsel), kain ini dibuat dari proses pewarnaan rintang dengan menggunakan bahan

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Sasirangan adalah kain adat suku Banjar di Kalimantan Selatan (Kalsel), kain ini dibuat dari proses pewarnaan rintang dengan menggunakan bahan perintang seperti tali, benang, atau sejenisnya menurut corak-corak tertentu.

Kain Sasirangan menjadi pilihan cinderamata bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Banjarmasin. Saat ini perajin Sasirangan semakin bertumbuh, ada yang khusus memproduksi kain atau bahan, ada pula yang memproduksi kain yang langsung dibuat dalam bentuk item fashion.

Salah seorang perajin kain Sasirangan di Banua yakni Nana Adiella, telah kembangkan bisnis Sasirangan kreatif di kediamannya bertempat di kawasan Sungai Andai Banjarmain.

"Awalnya pada 2018 saya mulai menjahit baju-baju atau kostum Sasirangan untuk lomba, jenisnya baju pesta. Melihat dari perkembangan Sasirangan sendiri yang bisa diaplikasikan ke berbagai item fashion sehingga mendoronga saya untuk lebih inovatif dan kreatif," ucapnya.

Kejanggalan Kematian Anak Finalis Indonesian Idol, Kuasa Hukum Karen Pooroe Sebut Nama Marshanda

VIDEO Objek Wisata Sungai Biyuku Destinasi Baru di Kota Banjarmasin yang Banyak Spot Fotonya

VIDEO Tim Porwarnas PWI Kalimantan Selatan Menang Telak 5-3 Atas Tim Siwo PWI

Ia pun memperdalam ilmu Sasirangan kreatif bersama salah seorang instruktur penjahit yang kala itu bertandang ke Banjarmasin dalam sebuah pelatihan. Nana fokus belajar pembuatan aneka jenis tas dan mendapat sambutan positif dari masyarakat.

Karyanya mulai dilirik para pecinta sasirangan Banua. Tak hanya customer di area Kalsel, tas-tas Sasirangan miliknya dengan brand Lamiz Modez sudah pernah dipesan customer dari Jakarta dan Lombok.

Sejumlah produk Sasirangan kreatif yang dibuatnya yakni tas kanaya mulai harga Rp 250.000, waist bag seharga Rp 150.000, tas ransel Rp 200.000, serta ada pula kain sasirangan dibanderol Rp 90.000-150.000 per dua meter.

"Paling laris tas kanaya dan waist bag, untuk kanaya biasanya dipakai untuk acata resmi atau kondangan oleh ibu-ibu, sedangkan waist bag banyak diburu anak-anak milenial karena cepat sekali habis stoknya," kata Nana.

Setiap hari diakuinya membuat sebanyak 10 pola hingga lebih. Pemesanan terbanyak pernah tembus 50 pcs oleh intansi-instansi pemerintahan.

Proses pembuatan tas berlangsung dalam beberapa tahap, mulanya kain sasirangan dipola dengan kain pelapis jenis M70, dipotong dan disetrika setelah itu dijahit sesuai jenis tas atau pola yang sudah dibuat. Untuk menambah kesan cantik pasa tas bisa ditambahkan aksesoris berupa pita warna-warni.

Demi meningkatkan penjualan, Nana kerap mempromosikan produknya di media sosial Instagram, Facebook, dan WhatsApp. Selain itu dia juga mulai rambah market place Shopee, Bukalapak dan Tokopedia.

"Harapan saya, produk Sasirangan yang saya buat bisa menembus pasar internasional. Tidak hanya di Banua atau dalam negeri saja tapi juga banyak orang luar negeri yang pakai. Dan pemerintah kami harapkan dapat turut mendukung pemasaran produk Sasirangan. (Banjarmasinpost.co.id/Mariana)

Penulis: Mariana
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved