Opini Publik

Pemerintahan Lambat Berevolusi

Setiap tanggal 12 Februari, bertepatan dengan hari kelahiran Charles Darwin, diperingati juga sebagai Hari Darwin

Pemerintahan Lambat Berevolusi
(Shutterstock)
Ilustrasi-Pengujian teknologi implan otak telah membuat enam pasien buta bisa "melihat" 

Oleh: Firda Zulivia Abraham, Peneliti BPSDMP Kominfo Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - Setiap tanggal 12 Februari, bertepatan dengan hari kelahiran Charles Darwin, diperingati juga sebagai Hari Darwin, dirayakan di seluruh Dunia untuk mengenang kontribusi Charles Darwin terhadap ilmu pengetahuan secara global. Charles Darwin dikenal dengan karyanya On the Origin of Species, yang mengatakan bahwa makhluk hidup berevolusi melalui seleksi alam.

Walaupun banyak menuai pro dan kontra mengenai teori ini, tetapi teori yang ditulis dalam buku yang terbit pada 1859, telah banyak merubah paradigma tentang evolusi dan bagaimana makhluk hidup bertahan hidup dengan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya.

Seiring perkembangan zaman, teori tersebut berkembang, terutama untuk manusia sebagai makhluk sosial. Manusia telah banyak berevolusi, terutama mengikuti perkembangan zaman dan perkembangan teknologi. Manusia berevolusi, beradaptasi dengan lebih bergantung dengan teknologi.

Ketergantungan manusia dengan teknologi sudah tidak dapat dihindarkan lagi, oleh sebab itu, kita selalu mengikuti dan berusaha menggunakan teknologi terbaru. Salah satu terknologi yang membuat manusia berevolusi adalah dengan munculnya media sosial untuk menggantikan cara lama dalam bersosialisasi.

Selain media sosial, kehadiran marketplace dalam beberapa tahun belakangan ini, menggantikan pasar tradisional dan mall konvensional yang semakin sepi pengunjung. Lahirnya aplikasi percapakan yang dilengkapi dengan fitur panggilan telepon dan panggilan video membuat telepon kabel maupun seluler tidak lagi diperlukan.

Dari hal itu semua, yang paling menarik adalah semua dapat diakses dalam genggaman. Tidak perlu pergi kesuatu lokasi, semua tersedia dimana saja, kapan saja, semua hadir dalam genggaman.

Banyak hal yang telah berevolusi dikarenakan kemajuan teknologi yang semakin cepat. Tetapi pemerintahan mengalami keterlambatan dalam berevolusi. Pemerintahan, terutama pelayanan publik di Indonesia, tidak banyak berubah. Masih mendewakan kertas yang selalu dibawa dan tidak bisa diakses oleh internet.

Banjarmasin Post edisi Kamis (13/2/2020).
Banjarmasin Post edisi Kamis (13/2/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Kemudahan akses melalui internet adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia sekarang, terutama kemudahan akses dalam genggaman. Semua menginginkan apapun itu dapat dengan mudah diakses dalam sebatang ponsel.

Keinginan ini juga berimbas pada layanan publik, dimana masyarakat menginginkan pelayanan publik yang dapat diakses dimanapun dan kapanpun. Sehingga, pelayanan publik berbasis elektronik adalah sebuah keharusan di era sekarang.

Pemerintah sebelumnya telah sadar akan perkembangan teknologi, pada tahun 2003 adalah awal dari e-Government di Indonesia dengan diterbitkannya Instruksi Presiden No.3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-Government. Hingga sekarang banyak hal yang telah dilakukan Pemerintah, mulai dari Pemeringkatan e-Government Indonesia (PeGI) hingga yang terbaru Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 2 Oktober 2018

Evaluasi terhadap SPBE dilakukan pada 616 intansi pemerintah, mulai dari Kementerian, LPNK, Pemerintah Provinsi, hingga Pemerintah Kabupaten serta Kota. Untuk penilaian tahun 2018, Indeks SBPE nasional masih sangat rendah, hanya 1,98, Masih jauh dari yang diharapkan oleh Pemerintah, yakni di angka, 2,6. Sebanyak 19 persen dari 616 instansi pemerintah medapatkan predikat baik sedangkan 81 persen sisanya belum memenuhi predikat baik.

Ini menandakan pemerintah gagal dalam berevolusi mengikuti perkembangan zaman. Tetapi bukan berarti menyalahkan pemerintah dalam segala hal. Perkembangan teknologi diikuti dengan kesadaran penggunaan teknologi tersebut. Dari hasil survey Kementerian Kominfo tahun 2019, sebanyak 68,20 persen masyarakat belum pernah mengakses layanan untuk mereka yang disediakan pemerintah melaui media daring.

Itu bisa terjadi mungkin dikarenakan masyarakat tidak mengetahui tentang layanan daring yang disediakan oleh pemerintah tersebut, atau masyarakat tidak memiiliki akses internet untuk mengakses layanan tersebut.

Seperti yang dikatakan diawal, Evolusi menurut Darwin adalah cara bertahan hidup dengan menyesuaikan dengan alam atau lingkungan. Pemerintah akan berusaha mengikuti perkembangan teknologi agar bertahan dan terus mengikuti zaman, dan selayaknya kita juga membantu pemerintah dalam melakukan evolusi dan mengikuti perkembangan zaman dengan mengikuti perkembangan layanan yang disediakan oleh pemerintah. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved