Opini Publik

Sekolah Ramah Anak dalam Bingkai Harapan

Indonesia darurat kekerasan terhadap anak ternyata bukan isapan jempol, kasus demi kasus bully masih terus saja terjadi sepanjang bulan Februari

Sekolah Ramah Anak dalam Bingkai Harapan
Istimewa/Tribunjateng.com
Screenshot video aksi bully siswi oleh siswa di SMP Muhammadiyah Butuh Purworejo, belum lama ini 

Oleh: UNTUNG LESTARI SPD.SD, Guru UPTD SDN 4 Sabuhur Tanahlaut

BANJARMASINPOST.CO.ID - Indonesia darurat kekerasan terhadap anak ternyata bukan isapan jempol, kasus demi kasus bully masih terus saja terjadi sepanjang bulan Februari dan menjadi viral di media sosial. Sebut saja kasus yang dialami salah seorang siswa SMP 16 Malang hingga berujung pada diamputasinya salah satu jari tangan korban, kemudian kasus bully yang dialami oleh siswi SMP Muhammadiyah,

Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo yang dilakukan oleh tiga teman sekelasnya. Terakhir kasus kekerasan yang dialami siswa yang dilakukan oleh guru di SMA 12 Kota Bekasi. Kasus bullying yang terjadi sudah selayaknya menjadi perhatian, apalagi kasus tersebut terjadi di lingkungan sekolah yang notabenenya adalah tempat seyogyanya anak mendapat perlingdungan dan rasa aman.

Bullying (perundungan) dapat diartikan sebagai suatu perlakuan yang mengganggu, mengusik terus menerus, dan juga menyusahkan. Menurut Olweus (1993; dalam Anesty, 2009) mencontohkan tindakan yang termasuk dalam kategori bullying yaitu: mengatakan hal yang tidak menyenangkan ataupun memanggil seseorang dengan sebutan/julukan yang buruk; mengabaikan atau mengucilkan seseorang atau suatu kelompok karena sebuah tujuan tertentu; memukul, menendang, menjegal atau menyakiti orang lain secara fisik; mengatakan rumor atau kebohongan yang tidak benar tentang seseorang yang membuat orang lain tidak menyukai orang yang dirumorkan tersebut.

Sebenarnya, Pemerintah `telah memberikan perlindungan yang jelas melalui Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 Pasal 1 tentang Pelindungan Anak, dimana disebutkan bahwa kekerasan adalah setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan/atau penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum.

Selanjutnya dalam pasal 9 ayat 1 secara tegas menyatakan setiap anak berhak mendapatkan perlindungan di satuan pendidikan dari kejahatan seksual dan kekerasan yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain. Dan dalam pasal 54 kembali menegaskan bahwa anak di dalam dan di lingkungan satuan pendidikan wajib mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual, dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain.

Salah satu upaya konkrit dalam upaya melindungi anak di sekolah, pemerintah telah merealisasikan program Sekolah Ramah Anak (SRA) yang dituangkan dalam Permen PP dan PA Nomor 8 Tahun 2014 tentang Kebijakan Sekolah Ramah Anak (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 1761).

Dijelaskan, Konsep Sekolah Ramah Anak didefinisikan sebagai program untuk mewujudkan kondisi aman, bersih, sehat, peduli, dan berbudaya lingkungan hidup, yang mampu menjamin pemenuhan hak dan perlindungan anak dari kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan salah lainnya, selama anak berada di satuan pendidikan, serta mendukung partisipasi anak terutama dalam perencanaan, kebijakan, pembelajaran dan pengawasan.

Banjarmasin Post edisi Sabtu (15/2/2020).
Banjarmasin Post edisi Sabtu (15/2/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Secara konseptual Sekolah Ramah Anak adalah satuan pendidikan yang mampu menjamin, memenuhi, menghargai hak-hak anak, dan perlindungan anak dari kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan salah lainnya serta mendukung partisipasi anak terutama dalam perencanaan, kebijakan, pembelajaran, dan mekanisme pengaduan.

Secara umum, prinsip utama sekolah ramah anak adalah bahwa anak mempunyai hak untuk dapat hidup tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Pembentukan dan Pengembangan Sekolah ramah anak (SRA) didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut yaitu: non diskriminasi (menjamin kesempatan setiap anak untuk menikmati hak anak untuk pendidikan tanpa diskriminasi berdasarkan disabilitas, gender, suku bangsa, agama, dan latar belakang orang tua) kepentingan anak (senantiasa menjadi pertimbangan utama dalam semua keputusan dan tindakan yang diambil oleh pengelola dan penyelenggara pendidikan yang berkaitan dengan anak didik), hidup, kelangsungan hidup-perkembangan (menciptakan lingkungan yang menghormati martabat anak dan menjamin pengembangan holistik dan terintegrasi setiap anak), penghormatan terhadap pandangan anak (mencakup penghormatan atas hak anak untuk mengekspresikan pandangan dalam segala hal yang mempengaruhi anak di lingkungan sekolah, dan pengelolaan yang baik (menjamin transparansi, akuntabilitas, partisipasi, keterbukaan informasi, dan supremasi hukum di satuan pendidikan).

Berdasar hal tersebut, sekolah diharapkan mampu menciptakan suasana yang kondusif agar anak merasa nyaman dan dapat mengekspresikan potensinya. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan, yaitu program sekolah (Program sekolah hendaknya disesuaikan dengan dunia anak, artinya program disesuaikan dengan tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan anak.
Anak tidak harus dipaksakan melakukan sesuatu tetapi dengan program tersebut anak secara otomatis terdorong untuk mengeksplorasi dirinya. Yang terpenting partisipasi aktif anak terhadap kegaiatan yang diprogramkan. Partisipasi yang tumbuh karena sesuai dengan kebutuhan anak); Lingkungan sekolah yang mendukung (Suasana lingkungan sekolah seharusnya menjadi tempat bagi anak untuk belajar tentang kehidupan nyata.

Apalagi sekolah yang memprogramkan kegiatannya sampai sore, suasana aktivitas anak yang ada di masyarakat hendaknya juga diprogramkan di sekolah sehingga anak tetap mendapatkan pengalaman-pengalaman yang seharusnya ia dapatkan di masyarakat. Bagi anak lingkungan dan suasana yang memungkinkan untuk bermain sangatlah penting karena bermain bagi anak merupakan bagian dari hidupnya); dan yang terakhir adalah sarana-prasarana yang memadai (dengan adanya sarana dan prasarana yang memadai maka anak akan mampu mengekspresikan potensi dirinya dengan baik).

Sekolah sebagai tempat anak menimba ilmu haruslah bebas dari segala bentuk perundungan, seluruh pihak terkait harus peduli dan tanggap terhadap masalah ini, jangan sampai kepedulian baru datang ketika masalah telah terjadi. Untuk itu, semua pihak diharapkan memahami bahwa penerapan sekolah ramah anak merupakan solusi, agar perundungan tidak kembali terjadi. Semoga! (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved