Opini Publik

ISIS, No!

KEPUTUSAN pemerintah untuk menolak kembalinya eks pejuang ISIS ke tanah air melegakan. Sebab pemerintah ingin melindungi lebih 260 juta warga negara

ISIS, No!
via KOMPAS.com
Perempuan asal Rusia dihukum seumur hidup di pengadilan Baghdad, Irak, Minggu (29/4/2018) lalu, karena bergabung dengan ISIS. (AFP/Ammar Karim) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - KEPUTUSAN pemerintah untuk menolak kembalinya eks pejuang ISIS ke tanah air melegakan. Sebab pemerintah ingin melindungi lebih 260 juta warga negara agar bisa hidup tenteram, tanpa rasa takut akan munculnya teror dalam bentuk lain. Penolakan ini diumumkan oleh Menko Polhukam Prof Mahfud MD selesai rapat terbatas bidang Polkam dengan Presiden Joko Widodo.

Kita semua sudah tahu apa cita-cita ISIS. Cita-cita inilah yang menjadi dasar ratusan orang pergi ke Suriah untuk berjuang demi tegaknya negara Islam. Mereka tidak membawa senjata apa-apa kecuali tekad dan faham yang sudah meracuni dirinya. Bahkan mereka rela melepas kewarganegaraan Indonesia dengan cara membakar atau merobek-robek paspor, menandai berakhirnya kewarganegaraan Indonesia mereka. Jadi wajar kalau pemerintah tidak menanggapi keinginan mereka untuk kembali ke Indonesia.

Selama ini pemerintah memang masih toleran, banyak eks ISIS yang kembali ke Indonesaia, diterima dan dibiarkan hidup dengan masyarakat. Tapi nyatanya banyak yang kembali ke doktrinnya, menjadi teroris. Bahkan tidak pakai bom lagi tapi memakai cara satu lawan satu seperti yang dilakukan seorang teroris di Polrestabes Medan 25 Juni 2017 lalu.

Ada pengamat yang bilang, tidak semua yang berangkat ke Suriah bertugas di garis depan atau melakukan teror dengan bom. Sebab ada pula yang hanya jadi juru masak sehingga kapasitasnya sebagai teroris tidak sama. Tetapi bukan soal juru masak atau membuat bom, tapi tekad untuk bergabung dengan tentara ISIS menunjukkan cita-cita yang sama.

Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai mengatakan, Irak dan Suriah sudah tidak menguntungkan bagi ISIS. Di Irak ISIS sudah dideklarasikan kalah, di Suriah banyak yang lari.

Pernyataan Mbai ini menguatkan dugaan kalau ISIS menang, pastilah mereka tidak pulang. Mereka mau balik karena cita-citanya kandas, tapi doktrin yang sudah merasuki tak bisa hilang begitu saja apalagi mereka juga sudah dibaiat.

Banjarmasin Post edisi Minggu (16/2/2020).
Banjarmasin Post edisi Minggu (16/2/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

***
Karena pemerintah sudah memutuskan untuk tidak memulangkan mereka ke Indonesia maka upaya mencegahnya harus konsisten. Banyak perbatasan negara kita yang bolong, bisa untuk lalu lintas dari dan ke negara lain. Contohnya perbatasan dengan Malaysia, banyak WNI yang kini jadi tenaga kerja ilegal di negeri jiran ini. Mereka melalui jalan yang tidak resmi. Juga perbatasan dengan Sarawak, banyak jalan tikus yang sampai sekarang banyak digunakan untuk menyelundupkan barang, bukan tak mungkin narkoba juga dibawa lewat jalan seperti itu. Masih banyak lagi pintu-pintu masuk yang mungkin tidak semua bisa terdeteksi mengingat Indonesia negara kepulauan sehingga memiliki pantai yang amat panjang.

Tak kalah berbahaya adalah mereka yang tidak pernah pergi ke Suriah tapi menyimpan cita-cita yang sama. Mereka ini potensial untuk menjadi teroris. Dari semua teroris yang ditangkap atau mati lewat bom bunuh diri di Indonesia tidak semua pernah ke Suriah.

Eks Suriah bukan hanya orang tua, anak-anak pun sudah diajari ke medan tempur. Kepada mereka sudah ditanamkan ideologi radikal. Karena itu kebijakan pemerintah untuk memulangkan anak-anak eks anggota ISIS perlu dilakukan dengan ekstra hati-hati.

Masih ada pihak yang keberatan dengan penetapan pemerintah yang melarang ISIS eks WNI kembali dengan alasan sudah kehilangan kewarganegaraan. Sebab yang bisa memutus mereka masih WNI atau bukan adalah pengadilan. Itu kalau mereka tidak melakukan hal yang bisa menghapus kewarganegaraan. Mereka sudah melakukannya dengan membakar paspor WNI. Kalau mereka sendiri sudah tidak mengakui sebagai WNI, apa yang harus dibela. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved