Jendela

Ilmu dan Hikmah

Setiap kejadian di dunia ini selalu mengandung hikmah. Hanya saja kita seringkali gagal atau enggan memahaminya. Begitulah nasihat yang sering kita

Ilmu dan Hikmah
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Profesor Dr H Mujiburrahman MA

BANJARMASINPOST.CO.ID - Setiap kejadian di dunia ini selalu mengandung hikmah. Hanya saja kita seringkali gagal atau enggan memahaminya. Begitulah nasihat yang sering kita dengar.

Apa arti hikmah? Menurut Ibnu Rusyd, hikmah adalah pengetahuan tentang hakikat yang ada (wujûd) yang didapatkan oleh akal manusia. Ia menyamakan hikmah dengan falsafah, yang artinya kerinduan akan kebijaksanaan. Kata ‘hikmah’ dalam bahasa Arab seakar dengan kata ‘hukm’ yang berarti hukum, ketertiban, keteraturan dan kekuasaan. Bagi Ibnu Rusyd, hikmah dan syariah (agama) itu sejalan.

Allah menciptakan alam semesta dalam keteraturan. Begitu pula dalam kehidupan manusia. Karena itu, jika terjadi sesuatu, maka pelajarilah dan renungkanlah dalam kerangka keteraturan itu. Jika musim hujan saat ini banjir melanda kita, sedangkan di musim kemarau nanti giliran asap menyerbu kita, maka pasti ada sebab-sebab di balik itu. Inilah hikmah, penuntun kita untuk mengambil sikap yang tepat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hikmah sama dengan ‘kebijaksanaan’ atau ‘makna yang dalam’. Padanannya dalam bahasa Inggris adalah ‘wisdom’. Biasanya, orang yang bijaksana adalah orang yang dianggap menentukan sikap secara tepat terhadap peristiwa yang dihadapinya. Banyak hal dalam hidup ini terjadi di luar kendali keinginan dan kekuasaan kita. Tetapi ada satu hal yang bisa kita kendalikan: cara kita menyikapinya.

Seorang sufi keluar dari masjid. Ternyata sandalnya hilang. Wajar jika hatinya kesal dan sedih. Dia pun pulang tanpa alas kaki. Di tengah jalan, dia berpapasan dengan seorang pria yang tersenyum berseri-seri, padahal dia berjalan ditopang tongkat kayu. “Astaghfirullah. Mengapa aku berduka. Dia kehilangan kaki saja bisa berbahagia, mengapa aku sedih kehilangan sandal?” Inilah cara menyikapi yang bijaksana.

Seorang anak berjalan ke masjid membawa sebatang lilin. Di tengah jalan dia berjumpa dengan seorang lelaki yang berkata, “Apakah kamu yang menyalakan lilin ini?” “Ya”. Karena khawatir anak-anak akan bermain api, lelaki itu bertanya lagi,”Sebelum lilin itu kau nyalakan, dari manakah datangnya nyala itu?” Anak itu tertawa, lalu memadamkan nyala lilinnya. “Tuan, kemanakah nyala lilin tadi pergi?”

Lelaki itu tersadar. “Saat itulah aku menyadari betapa bodohnya aku selama ini. Siapa yang menyalakan nyala kebijaksanaan? Ke mana nyala itu pergi? Aku mengerti, seperti lilin itu, pada suatu saat seseorang membawa nyala suci di hatinya, tetapi tak pernah tahu dari mana nyala itu datang… Aku mulai percaya bahwa nyala itu selalu memberi penerangan saat aku sangat memerlukannya” (Coelho 2019:274).

Melihat ke luar lalu memaknai ke dalam adalah upaya menggali hikmah/kebijaksanaan karena segala yang ada merupakan ayat-ayat, tanda-tanda, petunjuk-petunjuk, dari kehadiran-Nya. Petunjuk di luar diri itu akan bertemu dengan petunjuk di dalam diri yang disebut ‘hati nurani’, diserap dari kata Arab nûrânî artinya bercahaya. Cahaya itu menerangi langkah hidup kita dan melapangkan perasaan kita.

“Hikmah itu barang milik seorang mukmin yang hilang. Karena itu, di mana pun ia menemukannya, dia akan mengambilnya,” kata hadis.

Kebenaran hikmah itu universal tanpa memandang dari manapun asal-usulnya. “Perhatikan apa yang dikatakannya, jangan peduli siapa yang mengatakan,” kata pepatah Arab. Jika yang keluar dari pantat ayam itu kotoran, maka abaikan. Tetapi jika yang keluar itu telor, ambil saja!

Apa hubungan antara ilmu dan hikmah? “Ilmu itu berguna untuk menjawab masalah-masalah hidup,” kata Guru Zuhdiannor.

Inilah ilmu yang menjadi hikmah, yaitu berfungsi sebagai pelita dalam kehidupan. Ilmu-ilmu sosial, humaniora, termasuk ilmu-ilmu agama, ilmu-ilmu alam dan penerapannya menjadi teknologi, akan menjadi hikmah jika ia membantu kita menjalani hidup dalam kebaikan dan kebenaran.

Hubungan antara ilmu dan hikmah juga tercermin dalam istilah ‘arif-bijaksana’ dalam bahasa Indonesia. Kata ‘ârif dalam bahasa Arab artinya orang yang mengenal sesuatu. Istilah ‘ârif ini dikenal dalam kajian tasawuf sebagai sebutan untuk orang yang telah mendapatkan ma’rifah, yakni ilmu tentang rahasia-rahasia ketuhanan. Wajar jika orang ‘ârif itu amat bijaksana. Dialah wali yang hatinya selalu tenteram.

Alhasil, hikmah itu ada di setiap titik kehidupan, yang selaras dengan suara hati nurani kita. Hanya saja, kita seringkali mengabaikannya. Krisis manusia modern bukan karena kekurangan Ilmu, tetapi hikmah. Ilmu yang didapat tidak lagi menjadi pelita dalam menjalani hidup. Ilmu hanya untuk bekerja, mengejar harta dan tahta belaka. Ilmu akhirnya tak lagi menjadi hikmat, melainkan laknat bagi kehidupan! (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved