Tajuk

Memerangi Asusila

Pada 14 Februari 2020, yang disebut sebagian orang sebagai hari Valentine atau kasih sayang, petugas Satpol PP Kota Banjarmasin merazia sejumlah hotel

Memerangi Asusila
istimewa/satpol pp banjarmasin
Puluhan pasangan tak resmi diamankan saat razia Satpol PP Jumat pagi (14/2/2020) Wita sampai pukul 08:00 Wita. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pada 14 Februari 2020, yang disebut sebagian orang sebagai hari Valentine atau kasih sayang, petugas Satpol PP Kota Banjarmasin merazia sejumlah hotel melati di kota Seribu Sungai. Dalam razia tersebut, 28 pasangan tak resmi diamankan oleh petugas. Ironisnya, ada juga pasangan yang masih berstatus pelajar.

Memilih untuk menginap dengan bukan pasangan resminya, kasih sayang mereka terjemahkan dengan sangat-sangat mentah dan cenderung hanya memenuhi nafsu biologis semata.

Hanya berselang dua hari kemudian, kali ini jajaran Binmas dan Buser Polsekta Banjarmasin Selatan, bersama beberapa anggota Satpol PP Kota Banjarmasin, lagi-lagi memergoki 12 orang pasangan tanpa nikah, Minggu (16/2) dini hari.

Ternyata aksi razia yang dilakukan petugas, tak membuat pasangan-pasangan mesum tersebut berpikir ulang. Hotel masih saja dijadikan sarana melepas nafsu birahi.

Dari kenyataan tersebut, pemerintah Kota Banjarmasin perlu mengambil langkah konkret mencegah makin maraknya praktik asusila tersebut. Tak hanya mencoreng kota Banjarmasin yang mengklaim religius, tetapi juga masa depan mereka, para generasi muda.

Pemko Banjarmasin harus menegakkan peraturan mengenai pengawasan hotel, tanpa pandang bulu. Pengelola hotel dengan kategori pelanggaran berat perlu dipanggil dan diberi peringatan, bahkan bila perlu bagi yang membandel diberi tindakan tegas.

Tak lupa, ada pihak lain yang harus aktif terlibat, yaitu keluarga dan sekolah. Pemanggilan kepada orangtua, mereka yang terjaring razia, diharap menjadi shock therapy. Orangtua selain harus menjamin, anaknya tak lagi melakukan tindak asusila, juga harus memberi contoh, memberi arahan dan pemahaman kepada anak-anak mereka.

Banjarmasin Post edisi Senin (17/2/2020).
Banjarmasin Post edisi Senin (17/2/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Sementara pihak sekolah, walau peristiwa terjadi di luar jam sekolah, bukan berarti bisa berpangku tangan. Mereka harus menambah porsi pendidikan seks dan pendidikan moral, agar pelajar paham, apa-apa saja yang boleh dilakukan dan dilarang.

Sebagai cacatan, sekolah juga jangan semata melihat dari sudut pandang citra. Jangan-jangan siswa yang ketahuan melakukan aksi asusila, langsung dikeluarkan. Artinya, kebijakan tersebut justru menambah masalah ke depannya. Agar tak terjadi dan mencoreng nama sekolah, lakukan sosialisasi sejak awal.

Ke depan juga jangan sampai ada polisi moral yang ikut-ikutan melakukan razia. Cukup aparat berwenang yang melakukan penegakan norma hukum dan asusila, agar tidak membuat kondisi penegakan hukum di negeri ini makin ruwet.

Kita belum berbicara dalam konteks dugaan praktik prostitusi, tapi dalam kasus ini paling tidak, penegak hukum, masyarakat, perhotelan, sekolah dan pemerintah, bisa satu kata, satu kebijakan memeranginya. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved