BPost Cetak

Desa Panggung Jadi Gerai Kerajinan Banua Enam, Dulu Cuma Jual Sapu Ijuk Bikinan Warga

Desa Panggung Jadi Gerai Kerajinan Banua Enam, Dulu Cuma Jual Sapu Ijuk Bikinan Warga

Desa Panggung Jadi Gerai Kerajinan Banua Enam, Dulu Cuma Jual Sapu Ijuk Bikinan Warga
BPost Cetak
Desa Panggung Jadi Gerai Kerajinan Banua Enam, Dulu Cuma Jual Sapu Ijuk Bikinan Warga 

BANJARMASINPOST.CO.ID - “Cil berapa ini sebuting (Bi, berapa ini satu, Red),” tanya seorang calon pembeli kepada penjual tabungan tanah liat di Desa Panggung Kecamatan Haruyan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Minggu (17/2). BPost berada di sana untuk menyaksikan dari dekat kegiatan kerajinan di desa itu.

Meski hari itu gerimis, masih banyak orang yang datang ke tempat penjualan tabungan tanah liat. Maklum, banyak orang berlibur dan mencari oleh-oleh.

Sebelum menjadi sentra kerajinan tabungan tanah liat, mainan serta perkakas logam seperti cetakan kue, wajan dan atau spatula wajan, Desa Panggung merupakan sentra sapu ijuk di Kalimantan Selatan.

Meski penjualan sapu ijuk tak seramai dulu, pembuatannya masih dilakukan warga. Satu di antaranya Halimatus Sadiah.

Cegah Virus Corona Masuk ke Kotabaru, ABK Sakit Ditangani di Kapal

Kontroversi RUU Cipta Kerja, Pemerintah Ternyata Juga Ingin Urusi Pers

Aib Rumah Tangga Lina & Teddy Dibongkar Nenek Rizky Febian & Delina, Mantan Sule Diperlakukan Begini

Lamaran Gading Marten ke Juria Hartmans Disebut Pria Ini, Eks Gisella Didukung Andhika Pratama

Tak hanya membuat, ia pun menjual sapu ijuk di gerainya. Gerai di halaman rumah Halimatus juga menjual aneka kerajinan Banua Enam.

Dalam sehari Halimatus mampu membuat 10 sapu. Tak hanya dijual sendiri, ia menjualnya kepada pengecer. Jika sapu ijuk di gerainya dijual Rp 15 ribu, ia menjual kepada reseller Rp 10 ribu.

“Di desa ini ada beberapa perajin. Biasanya, dijual ke Banjarmasin. Kalau saya cukup di sini saja,” bebernya.

Untuk diketahui bahan baku sapu ijuk adalah serat pohon hanau. Hanau merupakan pohon penghasil kolang-kaling dan gula aren. Sayangnya, menurut Halimatus, saat ini serat hanau sulit didapatkan.

Jika dahulu serat hanau mudah didapat di Desa Panggung, kini perajin harus mendatangkannya dari kabupaten tetangga seperti Balangan, Tapin, atau Hulu Sungai Selatan. “Pohon hanau masih ada tapi di gunung-gunung,” kata Halimatus.

Hal serupa juga dikatakan oleh Mursidah, penjual sapu ijuk. Di tengah sulitnya bahan baku, menurut Mursidah, penyuka sapu ijuk juga berkurang. Sapu ijuk tergerus sapu plastik yang lebih praktis dan mudah dicari.

Halaman
12
Penulis: Eka Pertiwi
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved