Opini Publik

Efek Positif Wisata Ziarah

Optimalisasi ekonomi kreatif adalah salah satu program utama Kabinet Indonesia Maju di luar ekonomi digital. Ekonomi kreatif yang bersendikan

banjarmasinpost.co.id/ibrahim ashabirin
Libur Jumat (1/5/2015) ini dimanfaatkan masyarakat berwisata religi di Makam Datu Sanggul, Desa Tatakan, Kecamatan Tapin Selatan Kabupaten Tapin, Kalsel. 

Oleh: Satrio Wahono, Sosiolog dan Magister Filsafat UI

BANJARMASINPOST.CO.ID - Optimalisasi ekonomi kreatif adalah salah satu program utama Kabinet Indonesia Maju di luar ekonomi digital. Ekonomi kreatif yang bersendikan pada komoditas budaya memang sangat potensial mengingat produk budaya itu boleh dibilang selalu bisa diperbarui (renewable) dan tak terbatas (limitless) sejauh imajinasi manusia berkelana.

Namun, selama ini produk ekonomi kreatif selalu terasosiasikan dengan musik, film, seni, dan pariwisata secara umum. Padahal, mengingat fakta bahwa Indonesia adalah negara berpenduduk mayoritas Muslim, ada satu produk yang tidak begitu sering digaungkan: wisata ziarah makam.

Meski tergolong pada rumpun wisata berbasiskan Islam, wisata ziarah makam ini berbeda dengan wisata halal atau syariah. Wisata halal dan syariah lebih banyak merujuk pada sarana untuk menyamankan entitas pelancong Muslim, seperti ketersediaan makanan halal, tempat salat, fasilitas keluarga, dan lainnya, sementara aktivitasnya boleh dibilang sama dengan wisata pada umumnya. Sedangkan, wisata ziarah makam merujuk pada aktivitas peziarah, yaitu ni melakukan ibadah ritual pada destinasi ziarah dengan doa dan zikir yang kadang sangat spesifik (Tantan Hermansah, “Mengoptimalkan Peluang Ekonomi Wisata Ziarah,” Republika, 8 Februari 2019)

Kecilnya gaung wisata ziarah ketimbang wisata lainnya sungguh disayangkan. Sebab, tren kunjungan wisata ziarah makam—dalam bahasa Inggris disebut pilgrimage—selalu meningkat stabil bahkan secara eksponensial. Dari 1988 hingga 2004 saja, misalnya, jumlah pengunjung situs-situs utama ziarah Islam di Jawa Tengah meningkat dari 0,5 juta ke 4 juta peziarah. Tak tanggung-tanggung, data Kementerian Pariwisata juga menegaskan pada 2018 jumlah itu melonjak lagi menjadi 12,2 juta wisatawan. Jelas, ini satu potensi pendapatan negara yang signifikan sekaligus memiliki efek pengganda (multiplier effect) berupa hidupnya perekonomian rakyat di lingkungan sekitar situs-situs ziarah. Munculnya kedai-kedai makan, jasa transportasi, jasa-jasa penukaran uang koin untuk kotak-kotak amal di makam, penginapan, dan lain sebagainya adalah bukti dari efek ekonomi wisata ziarah tersebut.

Banjarmasin Post edisi Rabu (19/2/2020).
Banjarmasin Post edisi Rabu (19/2/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Peredam Ekstremisme

Memang, secara teologis, ada yang mengkritik ziarah semacam itu sebagai praktik yang sedikit banyak menyimpang dari ajaran Islam. Sebab, ziarah dianggap sebagai tindakan yang mengkeramatkan atau mengkultuskan sosok tertentu dan bisa menjurus pada dosa syirik (mempersekutukan Tuhan dengan segala sesuatu selain-Nya). Apalagi memang ada beberapa peziarah yang punya motif untuk ngalap berkah (mengharap keberuntungan) dengan memohon kepada makam-makam yang ada. Ini karena daya tarik beberapa tujuan wisata justru merujuk pada karamah (kemuliaan) ulama atau wali yang dimakamkan di situs wisata ziarah. Biasanya, semakin tinggi karamah seorang tokoh, semakin tinggi frekuensi dan intensitas kunjungan ke makam figur suci tersebut. Kritik lain adalah praktik ziarah itu seakan merupakan tindakan mengkomersilkan agama atau menjadikan agama sebagai komoditas.

Namun, itu jika kita melihat dari satu segi. Di sisi lain, wisata ziarah sesungguhnya punya efek-efek positif yang berlimpah. Efek ekonomi tentu salah satunya, tapi yang tak kalah pentingnya adalah efek positif ziarah sebagai peredam ekstremisme. George Quinn dalam studi antropologisnya, “Melempar Uang di Pintu Suci: Ziarah Lokal di Jawa dari Sudut Pandang Komersial,” (dalam buku Expressing Islam, terjemahan, Komunitas Bambu, 2012) menunjukkan bahwa praktik ngalap berkah itu sebagai ekspresi dari teologi jarak dan kedekatan: pandangan bahwa Tuhan dianggap lebih dekat kepada manusia di tempat-tempat dan saat-saat tertentu. Ada pula orang-orang tertentu yang dianggap telah berhasil mendekatkan diri kepada-Nya, yaitu mereka yang disebut sebagai wali atau kekasih Allah. Upaya peziarah mendatangi makam para wali adalah bagian dari ikhtiar mereka melakukan tawassul, memanfaatkan seorang wali Allah sebagai perantara. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin dekat pula ia kepada sumber segala kebajikan dan rezeki, termasuk harta benda material.

Alhasil, teologi jarak dan kedekatan akan efektif meredam ekstremisme Islam yang pada titik terjauhnya seperti ISIS ingin memberantas praktik pengeramatan dan berniat meluluh-lantakkan tempat-tempat suci yang dianggap sebagai sarang kemusyrikan atau syirik. Praktik ekstremisme Islam yang ingin melakukan purifikasi ajaran dengan berkiblat sepenuhnya kepada segala yang berbau Arab akan bertemu dengan ritual Islam yang bersenyawa dengan budaya setempat seperti terekspresikan dalam praktik ziarah. Pertemuan inilah yang akan melahirkan mekanisme checks and balances (saling mengendalikan dan menyeimbangkan) antara apa yang disebut sebagai “Islam tekstual” dan “Islam kontekstual.”

Penjagaan lingkungan

Tambahan lagi, praktik ziarah bisa menyumbangkan satu efek positif lain berupa preservasi lingkungan. Sebab, merujuk pada Yunasri Ali (Mata Air Kebaikan, Elex Media Komputindo, 2015), kerusakan lingkungan di dunia belakangan ini adalah buah dari pengabaian manusia modern terhadap prinsip ekoteologi: suatu prinsip hasil kembangan filsafat al-Jilli yang menyatakan bahwa dunia ini adalah wadah bagi tajalli (ekspresi pengungkapan) Tuhan. Artinya, dunia atau alam merupakan wadah yang sakral, sehingga tidak boleh dieksploitasi semena-mena oleh manusia.

Sayangnya, kedatangan modernitas yang mendewakan kemampuan akal manusia membuat manusia lupa diri dan merasa bahwa alam itu tersedia baginya untuk dieksploitasi secara bebas. Alam tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang sakral, melainkan sebagai objek semata yang harus tunduk kepada manusia modern demi memuaskan kebutuhan nafsu manusia yang seakan tiada habis-habisnya.

Karena itu, satu solusi paradigmatik untuk menjaga (preservasi) lingkungan adalah resakralisasi (mensakralkan kembali) alam atau lingkungan. Pada titik inilah, wisata ziarah persis memiliki makna resakralisasi lingkungan yang demikian. Mengingat makam-makam para wali merupakan tempat komunitas sekitar mengandalkan hajat spiritual dan ekonominya sekaligus wahana bagi para peziarah untuk memuaskan dahaga batin dan materialnya, tentu para stakeholders itu akan berupaya keras untuk menjaga kelestarian tempat-tempat tersebut. Alhasil, tidak akan ada proses eksploitasi yang eksesif menguras habis sumber daya alam di lingkungan sekitar situs makam dan ini tentu punya kontribusi positif pada upaya pelestarian lingkungan.

Akhirulkalam, wisata ziarah adalah satu produk budaya yang punya banyak potensi dan manfaat. Memang, bagi yang kontra, ada semacam keresahan terkait praktik-praktik pengkultusan yang berlebihan. Namun, itu sejatinya bisa ditangkal lewat peran intensif ulama-ulama atau dai-dai moderat yang mendakwahkan cara berziarah yang baik sesuai dengan ajaran Islam. Jika itu bisa dilakukan, niscaya bangsa ini bisa mereguk manfaat berlimpah wisata ziarah secara baik tanpa menimbulkan banyak riak sosial. Semoga! (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved