Tajuk

Melindungi yang Dilindungi

LIMA hari lalu, seorang warga kawasan Jalan Desa Pembantanan RT 7 Kecamatan Sungaitabuk Kabupaten Banjar ditangkap oleh petugas

Melindungi yang Dilindungi
Foto ist subdit IV Tipidter
Satwa dilindungi kucing hutan 

BANJARMASINPOST.CO.ID - LIMA hari lalu, seorang warga kawasan Jalan Desa Pembantanan RT 7 Kecamatan Sungaitabuk Kabupaten Banjar ditangkap oleh petugas Subdit IV Tipidter Direktorat Reserse dan Kriminal Khusus Polda Kalimantan Selatan. Hal ini sebagaimana diwartakan Banjarmasin Post pada edisi Kamis (20/2).

Masalahnya, laki-laki tersebut dianggap terlibat penjualan hewan atau satwa yang dilindungi oleh undang-undang. Modusnya, laki-laki tersebut memperjualkan satwa itu melalui medis sosial (medsos) facebook.

Dalam penangkapan ini, petugas juga menyita barang bukti berupa hewan langka yang dilindungi, yakni beberapa satwa jenis anak burung elang dan beberapa kucing hutan.

Apa yang dilakukan oleh laki-laki tersebut bisa dibilang nekat? Soalnya dia berani terang-terangan memperdagangkan hewan-hewan dilindungi di media sosial. Entah disadari atau tidak, yang jelas aktivitas laki-laki tersebut telah melanggar hukum. Aturan hukumnya jelas dan ancaman hukumannya juga tak main-main.

Menurut Kasubdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Kalsel, AKBP Endang Agustina larangan menjual satwa dilindungi itu diatur dalam pasal 40 ayat (2) jo pasal 21 ayat (2) huruf a UU No.5 Tahun 1990 Tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAE). Ancaman hukumannya paling lama 5 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 100 juta.

Langkah yang dilakukan jajaran Polda Kalsel menangkap laki-laki tersebut mengungkap kasus ini sudah tepat dan memang harus dilakukan. Setidaknya, ini memberikan efek jera kepada laki-laki tersebut dan warga lainnya agar tak mengulang perbuatannya. Serta setidaknya membuka mata dan telinga masyarakat, bahwa menjual hewan-hewan yang dilindungi itu dilarang dan ada hukum yang mengaturnya.

Karena, diyakini, masih ada di luar sana aktivitas jual beli hewan yang dilindungi, baik oleh oknum warga yang sebenarnya mengetahui bahwa itu dilarang atau warga yang tidak mengetahui bahwa aktivitasnya tersebut bertentangan dengan hukum.

Mungkin masih banyak warga desa yang tidak mengetahui, mana hewan dilindungi yang tak boleh diperjualbelikan secara bebas. Sehingga mereka sengaja berburu atau mencari hewan-hewan tersebut untuk dibawa ke kota karena harga jualnya cukup menggiurkan.

Banjarmasin Post edisi Jumat (21/2/2020).
Banjarmasin Post edisi Jumat (21/2/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Lalu bagaimana mengatasai masalah ini? Tentu harus dilakukan pengawasan yang ketat di titik-titik yang sering dijadikan tempat jual beli hewan dilindungi tersebut oleh instansi terkait. Dan jika ditemukan, lakukan penindakan sekaligus pembinaan bahwa aktivitas tersebut dilarang.

Selain itu, pihak terkait, termasuk BKSDA dan aparat hukum harus gencar mensosialisasikan ke masyarakat hingga ke desa-desa, tentang hewan-hewan liar mana saja yang tak boleh diburu dan diperjualbelikan dan mana yang boleh. Sehingga secara tidak langsung, warga yang sadar aturan itu, ikut terlibat dalan melestarikan hewan-hewan tersebut dari kepunahan.

Ya, semua harus terlibat melindungi hewan-hawan yang dilindungi. Harapannya, tidak ada lagi perburuan dan jual beli hewan dilindungi tersebut atau setidaknya bisa diminimalisasi. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved