Opini Publik

Pasukan Cilik Pemberantas Nyamuk Demam Berdarah

DEMAM berdarah merupakan salah satu penyakit yang setiap musim hujan mengancam kita (terutama anak-anak). Pada musim hujan populasi nyamuk penyebab

Pasukan Cilik Pemberantas Nyamuk Demam Berdarah
Dinkes Banjar untuk banjarmasinpost.co.id
PSN - Dinkes Banjar melibatkan kalangan pelajar dan pramuka pada kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di permukiman penduduk. 

Oleh: Fachrur Rozy, Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Anak Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - DEMAM berdarah merupakan salah satu penyakit yang setiap musim hujan mengancam kita (terutama anak-anak). Pada musim hujan populasi nyamuk penyebab demam berdarah (Aedes aegypti) meningkat. Mereka beranak pinak di wadah-wadah air yang berada di halaman rumah seperti botol plastik yang berisi air, pot bunga yang kosong (kedap air dasarnya) bak mandi dan lain-lain. Namun, kesadaran penduduk untuk melakukan pembersihan wadah-wadah penampung air ini masih rendah, sehingga populasi nyamuk penyebab demam berdarah.

Aedes aegypti merupakan nyamuk urban. Ia senang tinggal di kota-kota, yakni di lingkungan perumahan yang di situ banyak terdapat genangan air bersih seperti bak mandi, tempayan air. Ia tidak hidup pada genangan air di bawah kolong rumah yang langsung bersentuhan dengan tanah. Oleh karena perilakunya yang hidup di perumahan di perkotaan maka korban yang terkena penyakit demam berdarah pada umumnya adalah masyarakat kota. Beda dengan saudaranya nyamuk A. albopictus yang cenderung berada di daerah hutan berpohon rimbun (sylvan areas).

Faktor pendukung peningkatan populasi Aedes aegypti di perkotaan ialah ialah peningkatan pembangunan gedung-gedung bertingkat, rumah susun, padatnya perumahan, kolam renang, perkantoran, kepadatan lalu lintas dan penduduk, sehingga dapat memungkinkan berjangkitnya demam berdarah. Oleh karena ventilasi lingkungan tersebut kurang bagus, maka kesempatan berkembang nyamuk menjadi lebih besar.

Aedes aegypti bersifat diurnal, yakni aktif pada pagi hari hingga siang hari, yakni dari pagi hingga sore. Malam mereka umumnya rehat, yakni pada benda-benda yang bergantungan seperti pakaian, gorden, kelambu dan di sekeling tempat berbiaknya. Oleh karena aktivitas mereka ini pada pagi hari hingga siang hari maka banyak anak-anak sekolah yang terkena penyakit demam berdarah ini ketika di sekolah karena para Aedes aegypti ini sedang mencari mangsa untuk disedot darahnya. Kaki-kaki anak anak yang duduk di bangku sekolah dari pagi hingga siang hari merupakan sasaran nyamuk Aedes aegypti yang bertempat tinggal di kelas-kelas.

Aedes aegypti ini adalah nyamuk antrofilik (sangat senang kepada manusia). Dan yang menggigit manusia tersebut adalah nyamuk betina. Yang jantan walaupun juga antrofilik tetapi tidak menggigit manusia. Untuk keperluan nutrisinya ia mengisap nektar bunga. Umur sang jantan hanya kurang lebih seminggu. Nyamuk yang mengisap darah tersebut adalah nyamuk betina. Darah manusia itu mereka butuhkan untuk pertelurannya.

Nyamuk sebetulnya tidak menggigit ia menusuk dan mengisap. Alat penusuk dan pengisapnya disebut stilet. Tetapi istilah yang salah kaprah ini sudah umum digunakan dalam masyarakat. Sehingga kalau ada yang menggunakan istilah “Wah banyak nyamuk tadi malam menusuk dan mengisap saya,” yang malah jadi janggal kedengarannya. Ya, sudah nyamuk “menggigit” kita. “Begitu aja kok repot”, ujar Gus Dur.

Dengue Haemaorrhagic Fever (DHF) atau yang di Indonesia terkenal dengan sebutan demam berdarah (DBD) disebabkan oleh virus dengue. Selain dengue, nyamuk A.aegypti merupakan vektor penyebab virus deman kuning (yellow fever), chikungunya, dan virus zika penyebab demam zika. Ketiga penyakit tersebut tersebar luas di daerah tropis.

Penyakit DBD mula-mula pertama kali dilaporkan pada tahun 1930 di Manchuria, yakni menyerang pasukan Jepang dan Uni Sovyet yang sedang berhadap-hadapan. Terjadi kematian yang tinggi pada para prajurit tersebut. Penyakit ini kemudian dengan cepat menjadi endemi ke seluruh dunia. Penelitian terbaru melaporkan bahwa sekitar 50 juta hingga 100 juta orang di seluruh dunia menderita penyakit ini.

DBD di Indonesia pertama kali dilaporkan ada di Surabaya pada tahun 1968, dan sejak itu menyebar ke seluruh Indonesia. Sejak tahun 1995 dilaporkan penyakit ini telah ada pada 20 provinsi di Indonesia. Sekarang penyakit ini telah ditemukan pada hampir semua provinsi di Indonesia, kecuali di daerah dengan ketinggian 1.000 meter lebih. Di daerah dengan ketinggian 1.000 meter atau lebih nyamuk ini tidak suka. Kedinginan barangkali.

Banjarmasin Post edisi Sabtu (22/2/2020).
Banjarmasin Post edisi Sabtu (22/2/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)
Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved