Breaking News:

BPost Cetak

Menguak Pembajakan Hak Cipta Lagu, Manajer Kafe Kaget Wajib Bayar Royalti

Menguak Pembajakan Hak Cipta Lagu, Manajer Kafe Kaget Wajib Bayar Royalti

Editor: Hari Widodo
BPost Cetak
BPost Edisi Senin (24/2/2020). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Suasana sebuah kafe jaringan internasional di sebuah pusat perbelanjaan Kota Tangerang Selatan, Banten, Minggu (17/2/2020) sore, ramai oleh tamu.

Lagu Laskar Pelangi yang dinyanyikan dan dipopulerkan grup band Nidji terdengar jelas dari speaker.

Menyusul adalah suara Ari Lasso yang membawakan lagu Mengejar Matahari. Lagu tersebut diputar menggunakan aplikasi pemutar lagu yang terhubung internet.

Manajer kafe terkejut saat Tribun Network memberitahu tempat usahanya harus membayar royalti karena memutar lagu tersebut. Peraturan ini tercantum dalam Pasal 9 Undang-Undang Hak Cipta. Sebagai tempat kegiatan usaha jasa kuliner bermusik, maka kafe tempat YN bekerja menjadi subjek royalti.

Pasha Ungu Tiba-tiba Meninggal Dunia Seperti Suami BCL, Ashraf Sinclair Jadi Ketakutan Adelia Pasha

Segarnya Air Pemandian Kolam Belanda Situs Sejarah Peninggalan Belanda di Mandingin Kabupaten Banjar

Curi Celana Dalam Wanita, Pria Ini Lakukan Ritual Seks Aneh, Bersetubuh dengan Jok Motornya Sendiri

VIDEO Mahasiswi Ini Rutin Beri Makan Kucing Liar Setiap Hari di Sudut-sudut Kota di Banjarmasin

“Saya tidak tahu soal aturan itu, baik lagu Indonesia maupun lagu luar negeri. Pihak mal juga tidak pernah menegur,” ujar manajer berinisial YN tersebut.

Namun saat bekerja di cabang kafenya di mal lain, dia mengaku pernah ditegur pengelola pusat perbelanjaan itu untuk tidak memutar lagu Indonesia saat beroperasi. Namun demikian, pihak mal memberikan lampu hijau jika memutar lagu luar negeri.

“Dari pusat kami tidak pernah diberi instruksi apa pun. Saya bahkan tidak tahu kalau memutar lagu barat juga harus bayar royalti,” kata YN.

Hal senada diutarakan AG, pengusaha kafe di kawasan perumahan Jakarta Timur. Kafenya terhitung kecil, sekadar memanfaatkan teras rumah. Kendati demikian kafenya tergolong ramai. AG selalu memutar lagu untuk memperkuat atmosfer di kafe yang berdiri sejak 2011 tersebut.

“Saya tidak tahu pasti, hanya pernah dengar aturan soal memutar lagu di tempat komersial. Setahu saya ini hanya untuk performer lokal,” kata AG kepada Tribun Network, Senin (17/2/2020).

Dia mengaku tidak tahu soal status kafenya sebagai subjek pembayar royalti. Belakangan dia memutar lagu menggunakan aplikasi dan berlangganan. Seperti YN, AG tidak tahu langganan tersebut sebatas konsumsi pribadi, bukan untuk diputar di kafe.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved