Breaking News:

Berita Kalteng

Dari Rp 12 Juta perkilogram, Pengusaha Walet Kotim Jual Sarang Walet Rp 8 Juta, karena Dampak ini

Dari Rp 12 Juta perkilogram, Pengusaha Walet Kotim Jual Sarang Walet Rp 8 Juta, karena Dampak ini

Penulis: Fathurahman | Editor: Eka Dinayanti
banjarmasinpost.co.id/fathurahman
.Sarang burung walet yang sudah dipanen terpaksa dijual murah, karena terlalu lama ditahan kualitasnya menurun 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PALANGKARAYA - Kasus virus Corona yang terjadi di Wuhan, Cina, membawa dampak terhadap perekonomian di Indonesia, termasuk Provinsi Kalimantan Tengah.

Buktinya, harga penjualan sarang walet menurun setelah merebaknya virus mematikan tersebut.

Perdagangan sarang burung walet di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalteng, yang selama ini bisa langsung menjual ke Cina sekarang tidak bisa dilakukan lagi.

Penerbangan di Cina dihentikan sementara, karena pemerintah setempat menutup jalur penerbangan .

Dampak yang dirasakan warga Kalteng setelah merebaknya virus corona di Cina, penjualan sarang burung walet terganggu, harga turun dari yang awalnya Rp 12 juta perkilogramnya, saat ini turun jadi Rp8 juta.

Citra Kirana Hamil, Begini Ekspresi Istri Rezky Adhitya Tahu Dirinya Mengandung

Sempat Diisukan Dipecat, Soimah & Dewi Perssik Pamer Foto di LIDA 2020, Bagaimana Nasib Iis Dahlia?

Terungkap, Siapa yang Memberi Perintah Gunduli 3 Tersangka Susur Sungai SMPN 1 Turi Sleman

Penampakan Rumah BCL Seminggu Ditinggal Ashraf Sinclair, Satpam Bunga Citra Lestari Ungkap Ini

Bukan Kriss Hatta! Zaskia Gotik Sudah Pamer Kekasih, Sosoknya Disorot Karena Terkait Artis Ini

Selama ini pemasok terbesar sarang burung tersebut adalah Negara Cina.

"Harga sarang walet sempat turun hingga Rp 6 juta perkilogram jenis mangkok, tapi saat ini mulai naik mencapai Rp 8 juta perkilogramnya. Daripada sarang burung hasil panen kami yang sudah dua bulan tertahan menjadi rusak, terpaksa dijual saja meski hargnya masih berkisar Rp8 juta perkilogramnya," ujar Taufik salah satu pengelola rumah walet di Sampit, Kamis (27/2/2020).

Senada diungkapkan Bahri, pengusaha sarang burung walet lainnya di Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan.

Ia juga terpaksa menjual sarang burung walet yang dipanennya dengan harga murah, karena penjualan ke Cina belum jelas waktunya.

"Terpaksa, sarang walet jika ditahan berbulan-bulan kualitasnya turun, bisa rusak, pilihan saat ini terpaksa dijual murah," ujarnya.

Pantauan di Kota Sampit atau Kota Mentaya, banyak sekali rumah walet yang dibangun di sekitar Pasar Sampit, bantaran Sungai Mentaya, dan saat ini sudah saatnya panen.

Pengusaha walet sempat menahan tidak menjual, karena harga murah, namun melihat kondisi sarang walet yang rusak karena lama dtahan, akhirnya tetap dijual dengan harga murah.

Kilas Balik 1 Tahun Pernikahan Syahrini-Reino Barack, Rencana Nikah Ulang & Drama dengan Luna Maya

Sempat Diisukan Dipecat, Soimah & Dewi Perssik Pamer Foto di LIDA 2020, Bagaimana Nasib Iis Dahlia?

Penampakan Rumah BCL Seminggu Ditinggal Ashraf Sinclair, Satpam Bunga Citra Lestari Ungkap Ini

Nasib Yongki AFI Kini, Jebolan Audisi Pencarian Bakat Nyanyi Sebelum Indonesian Idol Muncul

banjarmasinpost.co.id / faturahman

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved