Jendela

Merindukan Wali Kutub

Merindukan ‘wali kutub’, pemimpin ruhani dan duniawi, kultural dan struktural, yang menjadi saluran ke titik pusat kehidupan, yaitu Tuhan

Merindukan Wali Kutub
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Oleh: Profesor Dr  H Mujiburahman MA

BANJARMASINPOST.CO.ID - Haul Guru Zaini atau Guru Sekumpul ke-15 usai sudah. Jemaah menyemut padat, mungkin jutaan orang.

Mereka dilayani 25 ribu relawan, 175 unit dapur umum yang memasak 9 ribu blek beras dan memotong 200 sapi.

Tersedia angkutan mobil dan bus gratis, makan-minum gratis di sepanjang jalan menuju lokasi, penginapan gratis hingga bahan bakar gratis untuk sepeda motor di SPBU tertentu. Sungguh luar biasa!

Ada apa gerangan? Bagi kebanyakan jemaah, menghadiri haul dan bersedekah kepada para tamu adalah wujud cinta mereka kepada Sang Guru dan cara untuk mendapatkan berkah dalam hidup karena beliau dipercaya sebagai seorang wali Allah.

Kapolres Banjarbaru AKBP Doni Hadi Turun Tangan Atur Jemaah Haul Guru Sekumpul di Jalur A Yani

Taman Siring Nol Kilometer Jadi Wisata Alternatif di Banjarmasin

Tangis Sule & Rizky Febian Pecah, Kakak Putri Delina Gelar Konser untuk Lina Jubaedah

Nama Nikita Mirzani Terbawa, Foto Ratna Sari Dewi, Mantan Istri Presiden Soekarno Disorot di Twitter

Bagi para pedagang, ini kesempatan sekali setahun untuk menjual-laris dagangan mereka. Bagi para politisi, ini momen berharga untuk mendapatkan simpati publik.

Bagi saya, mungkin akan lebih bermakna jika fenomena ini dilihat dari sudut pandang perenialisme yang percaya akan adanya kearifan abadi (sophia perenis/al-hikmah al-khâlidah) dalam hidup ini.

Salah satu kearifan abadi itu adalah, manusia selalu rindu akan pusat, titik sentral atau kutub dalam hidupnya. Pusat itu adalah Tuhan yang Absolut, atau kehadiran yang Absolut itu dalam bentuk cinta kasih-Nya.

Menurut Frithjof Schoun (Muhammad Isa Nuruddin), “Menjadi normal adalah menjadi satu, dan untuk menjadi satu harus memiliki titik pusat.”

Kita hidup dalam keanekaragaman yang jika dibiarkan tanpa titik pusat sebagai arah sekaligus titik kendali, maka akan tercerai-berai dan kacau.

Halaman
123
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved