Opini Publik

Ekologi Budaya Banjar Menangkal Wabah Corona

Virus Corona akhirnya menembus masuk Indonesia. Dua orang WNI asal Depok Jawa Barat diumumkan terkena virus menakutkan tersebut

Ekologi Budaya Banjar Menangkal Wabah Corona
SHUTTERSTOCK/WOOCAT
Ilustrasi pencegahan wabah virus corona. 

Oleh: RIBUT LUPIYANTO, Deputi Direktur C-PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration)

BANJARMASINPOST.CO.ID - Virus Corona akhirnya menembus masuk Indonesia. Dua orang WNI asal Depok Jawa Barat diumumkan terkena virus menakutkan tersebut. Beberapa bulan terakhir, darurat Virus Corona sedang dihadapi dunia. Virus mematikan yang berasal dari Wuhan Cina ini dikabarkan telah puluhan negara. Negara yang terkonfirmasi terpapar antara lain AS, Thailand, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Malaysia, Vietnam, Nepal, Perancis, Jerman, Australia, Kanada, Kamboja, dan terakhir Indonesia. Kasus terbanyak di Cina dengan penderita mencapai puluhan ribu dan korban tewas ribuan.

Kasus Corona merupakan salah satu bentuk bencana kesehatan lingkungan. Salah satu mitigasi preventifnya adalah dengan kebersihan dan pelestarian lingkungan. Salah satu aspek yang dapat dioptimalkan adalah kontribusi budaya atau sistem pengetahuan lokal. Budaya adalah pemandu dan pemerkaya pembangunan berkelanjutan. Dimensi budaya penting diintegrasikan dengan aspek lain dalam mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan. Ekologi budaya Banjar dapat menjadi salah satu upaya mencegah atau meminimalisasi dampak Corona.

Kekuatan Budaya

Pembangunan berkelanjutan merupakan proses pembangunan yang berprinsip memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan (Brundtland, 1987). Pencapaian pembangunan berkelanjutan ditentukan oleh upaya melestarikan dan memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan ekonomi dan keadilan sosial.

Budaya memuat nilai-nilai luhur dan keyakinan sebagai pedoman, rencana perilaku, serta dasar memecahkan masalah yang berlaku antar generasi. Nilai tersebut meneguhkan keberpihakan budaya terhadap kelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Misalnya budaya Suku Bajar memiliki nilai kearifan lokal yang disebut kapamalian. Budaya ini merupakan aturan-aturan adat yang memberikan batasan terhadap penggunaan air dan sumberdaya alam lainnya yang berdampak pada lestarinya sumber mata air. Kearifan lokal lainnya terkait lahan basah yang dimiliki suku masyarakat banjar ialah seperti pasar terapung, jukung, sistem pertanian lahan rawa, kearifan lokal petani lahan rawa lebak, dan lain sebagainya.

Semua suku dan adat di Indonesia memiliki kearifan lokal yang ramah lingkungan. Nilai-nilai inilah modal kuat bagi upaya pelestarian lingkungan. Faktanya banyak terjadi kesenjangan antara nilai budaya tersebut dengan perilaku sehari-hari. Sairin (2009) menjelaskan bahwa budaya perilaku (behaviour culture) telah menjauh dari budaya idealis yang dicita-citakan (expected culture).

Manusia secara alamiah memiliki empat model budaya lingkungan, yaitu merusak, mengabaikan, memelihara, dan memperbaiki (Tasdiyanto, 2010). Model budaya mengabaikan dan merusak lingkungan hidup lebih cenderung terjadi dalam budaya rasional. Sedangkan budaya memelihara dan memperbaiki lingkungan terjadi dalam budaya tradisional. Perilaku manusia terhadap lingkungan akan direspon sesuai dengan model budayanya. Hoff (1998) mengemukakan bahwa pembangunan berkelanjutan membutuhkan perubahan-perubahan sosial budaya, khususnya dalam nilai dan perilaku ramah lingkungan.

Banjarmasin Post edisi Sabtu (7/3/2020).
Banjarmasin Post edisi Sabtu (7/3/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Strategi Mitigasi

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved