Breaking News:

Wabah Virus Corona

Tanpa Lockdown, Korea Selatan Berhasil Turunkan Kasus Virus Corona, Ternyata Caranya Biasa Saja

Tanpa Lockdown, Korea Selatan Berhasil Turunkan Kasus Virus Corona, Ternyata Caranya Biasa Saja

Editor: Didik Triomarsidi
Ahn Young-joon / AP Photo
Pasangan yang mengenakan masker naik sepeda tandem di sekitar taman di Seoul pada hari Sabtu. Lebih dari 7.000 orang di Korea Selatan telah didiagnosis dengan virus. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Korea Selatan merupakan satu di antara negara yang memiliki kasus penyebaran virus corona (Covid-19) terbesar di luar China.

Namun, Negeri Gingseng itu mampu menurunkan jumlah kasus secara drastis pekan ini. Padahal pemerintah tidak menerapkan lockdown seperti Italia dan China.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC) mengatakan ada peningkatan 131 kasus dari Minggu (8/3/2020) ke Senin (9/3/2020).

Padahal, rata-rata "Negeri Ginseng" mencatatkan penambahan 500 kasus per hari.

Virus Corona Merebak di Indonesia, Ini Bacaan Doa Tolak Bala dan Doa Dijauhkan dari Penyakit

Penundaan Konser Ayu Ting Ting Imbas Virus Corona Disinggung, Ruben Onsu Sebut Tunggu Instruksi

Video TikTok Etika Batuk & Bersin Vidi Aldiano Saat Virus Corona Mewabah Jadi Perhatian

Masker Hotman Paris Saat Bareng Raffi Ahmad & Nagita Slavina demi Cegah Virus Corona Jadi Sorotan

Namun sejak Jumat pekan lalu turun jadi 438 kasus baru, kemudian 367 kasus baru pada Sabtu, dan 248 pada Minggu.

Dilansir dari South China Morning Post (SCMP), penurunan ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pengujian massal, komunikasi publik, dan penggunaan teknologi.

Pengujian ekstensif juga telah selesai dilakukan terhadap anggota Gereja Shincheonji Yesus, yang dikaitkan dengan lebih dari 60 persen kasus di negara itu.

Para pejabat Korsel juga berbagi pengalaman mereka dalam mengatasi wabah tersebut, dengan mengatakan bahwa penutupan kota seperti yang dilakukan di Wuhan, sulit ditegakkan di masyarakat terbuka.

"Tanpa merusak prinsip masyarakat yang transparan dan terbuka, kami merekomendasikan sistem respons yang memadukan partisipasi publik sukarela dengan apilikasi kreatif teknologi canggih," kata Wakil Menteri Kesehatan Korsel, Kim Gang-lip dikutip dari SCMP.

Menurutnya, tindakan konvensional dan paksaan seperti penguncian daerah yang terkena dampak memiliki kelemahan, karena menggerogoti semangat demokrasi dan mengasingkan publik yang harus berperan aktif dalam upaya pencegahan.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved