Tajuk

Antibodi Negara untuk Corona

Hingga Rabu (18/3) sore, jumlah warga yang positif terjangkit virus Corona (Covid-19) mencapai 227 kasus. 19 pasien di antaranya meninggal dunia

Antibodi Negara untuk Corona
Dok. Shutterstock
Ilustrasi virus corona. Hasil studi yang dikeluarkan penelitian yang didanai AS menerbitkan kesimpulan dari studinya pada Selasa (17/03/2020). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Hingga Rabu (18/3) sore, jumlah warga yang positif terjangkit virus Corona (Covid-19) mencapai 227 kasus. 19 pasien di antaranya meninggal dunia. Tak hanya jumlah yang membengkak, wilayah penderita pun meluas.

Sejumlah wilayah yang belum ditemukan kasus postif pun mulai meningkatkan kewaspadaan. Stok ‘sembako corona’ juga langka di berbagai kota di Indonesia. Masker makin sulit dan mahal. Harga handsanitizer melonjak. Bahkan, stok vitamin juga menipis.

Satu sisi, fakta tersebut menujukkan keberhasilan kampanye pencegahan penyebaran corona. Namun, ada satu sisi yang juga mengkhawatirkan, yakni pertumbuhan ekonomi serta daya tahan fiskal kita.

Meski ‘merumahkan’ warga bangsa belum pada puncaknya, sejumlah indikator ekonomi mulai agak mencemaskan. Nilai tukar rupiah sudah melampaui Rp 15 ribu per dollas AS. Indeks harga saham gabungan merosot.

Dalam situasi ini, tentu ‘antibodi’ yang sangat kita harapkan adalah stimulus pemerintah yang tepat program dan sasaran. Bila tidak, roda ekonomi akan memburuk, bak gerakan lambat dalam film seri jadul, The Six Million Dollar a Man.

Banjarmasin Post edisi Kamis (19/3/2020).
Banjarmasin Post edisi Kamis (19/3/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Pemerintah memang telah meluncurkan sejumlah stimulus, baik di sektopr pariwisata dengan mendiskon 50 persen harga tiket penerbangan ke sejumlah destinasi; Relaksasi sejumlah pajak; Penyederhanaan aturan main ekspor impor; Restrukturisasi kredit/pembiayaan.

Berikutnya, pemerintah masih akan menambah sejumlah stimulus. Rencananya, segera meluncur paket untuk jaring pengaman sosial.

Tentu, semua paket itu baik dan sangat membantu masyarakat untuk tetap menggeliat di tengah kondisi sulit. Namun, kita juga perlu waspada terhadap kekuatan keuangan negara.

Kita semua harus bersatu padu agar badai ini segera berlalu tanpa harus menunggu negara kehabisan ‘antibodi.’ Caranya, tidak ada yang mempolitisir situasi, tidak melakukan sub-ordinasi mengambil kebijakan, patuh pada protokol penanggulangan dan berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved