Opini Publik

Covid-19, Antara Stigma dan Realita

BERITA virus Corona memang semakin ramai dibicarakan semua kalangan di dunia, tak terkecuali oleh warga Banua. Jumlah korban yang berjatuhan bertambah

Covid-19, Antara Stigma dan Realita
Institut Kesehatan Nasional / AFP
Gambar mikroskop elektron transmisi menunjukkan virus corona SARS-CoV-2, juga dikenal sebagai 2019-nCoV, virus coronavirus yang menyebabkan COVID-19 

Oleh: apt Dini Rahmatika, M.Pharm.Sci

Dosen Prodi Farmasi ULM / awardee LPDP Doktoral- Virologi, University of Oxford

BANJARMASINPOST.CO.ID - BERITA virus Corona memang semakin ramai dibicarakan semua kalangan di dunia, tak terkecuali oleh warga Banua. Jumlah korban yang berjatuhan bertambah dengan cepat di luar dugaan kita semua. Negara yang mulanya menyatakan bebas ternyata justru memimpin dalam pertambahan jumlah kasus terinfeksinya. Tak terkecuali Indonesia, kita dihadapkan pada deretan angka yang merepresentasikan jumlah kasus infeksi virus Corona yang terus bertambah cepat sehingga tidak mungkin lagi diabaikan atau dianggap sebagai masalah ringan.

Sesungguhnya Corona bukan lah jenis virus baru, virus corona telah bertahun tahun dikenal sebagi virus yang menyerang system pernapasan. Salah satu penyakit yang telah lama dikenal dan disebabkan oleh virus corona adalah SARS. Virus corona yang menyebabkan Covid-19 sendiri hanyalah salah satu jenis atau bisa jadi hasil mutasi dari virus corona yang telah kita temui bertahun tahun yang lalu.

Mulai berjatuhannya korbanpun bukanlah hal yang mengejutkan lagi bagi kita, mengingat lalu lalang nya pemberitaan dari beberapa negara di seluruh dunia yang sudah terlebih dahulu mempublikasikan angka kasus covid-19 ini. Italia yang mulanya menanggapi setengah hati terhadap Corona berakhir dengan penutupan total pergerakan manusianya.

Perlu disyukuri warga banua, Kalimantan Selatan sendiri sejauh ini masih belum ada kasus terkonfirmasi positif covid-19. Namun hal ini tidak lalu membuat masyarakat kita menjadi lebih tenang apalagi sampai lengah.

Langkah nyata sudah diambil oleh pimpinan berbagai instansi pemerintah dan tak terkecuali institusi pendidikan yang sudah membuat edaran untuk meliburkan staf atau siswanya. Rektor Universitas Lambung Mangkurat pun sudah membuat keputusan agar proses perkuliahan berjalan denganmetode pembelajaran daring (e-learning). Liburnya anak sekolah dan berjalanannya perkuliahan mahasiswa dengan e-learning tentu bertujuan mengurangi kontak antara penderita dengan yang masih sehat.

Kebijakan meliburkan siswa ini mendapat reaksi yang cukup besar dari masyarakat kita. Satu kelompok menyatakan berlebihan namun dikelompok masyarakat lainnya justru menganggapnya sebagai langkah yang tepat dan cepat menyikapi ancaman bahaya dari Covid-19 yang sulit dideteksi. Kadang orang yang terlihat sehat justru bisa jadi adalah carrier atau pembawa virus. Terlebih kategori masyarakat yang rentan terinfeksi harus melakukan kewaspadaan yang lebih tinggi. Oleh sebab itu pemerintah menghimbau masyarakat untuk pencegahan virus ini melalui berbagai media. Adapun himbauan tersebut meliputi membiasakan cuci tangan mengenai sabun, penggunaan masker, hingga melakukan pembatasan social atau social distancing.

Banjarmasin Post edisi Sabtu (21/3/2020).
Banjarmasin Post edisi Sabtu (21/3/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Covid-19 disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui droplet dan dapat tetap hidup dengan menempel di permukaan benda maupun tubuh kita hingga lebih dari 15 jam. Sifat ini yang perlu kita ingat ketika ada keinginan pribadi menumpuk persediaan masker. Walaupun orang dengan kondisi sehat menggunakan masker seharian penuh namun ada orang disekitarnya yang sedang dalam kondisi sakit tidak menggunakan masker, penggunaan maskernya menjadi kurang efektif. Orang yang sakit ini secara tidak sadar dapat menularkan virusnya sebagai contoh ketika bersin, virus akan menempel pada bagian tubuh orang sehat atau benda di sekitar penderita sehingga menyebabkan penularan terus berlanjut. Oleh karena itu kita diimbau untuk selektif dalam menggunakan masker dengan mengutamakan dan memberikan kesempatan penggunaan masker pada orang yang tepat. Mengingat tingginya permintaan masker dan rendahnya jumlah ketersediaan di Banua kita ini.

Penggunaan masker untuk saat ini baiknya diutamakan untuk orang yang memiliki gejala terinfeksi penyakit yang menyerang saluran pernapasan, tidak hanya covid-19 tetapi juga infeksi lain seperti influenza dan batuk-pilek. Selain orang yang memiliki gejala terinfeksi, orang yang rawan terinfeksi seperti kaum lansia dengan usia di atas 50 tahun dan anak anak dibawah usia 15 tahun juga sebaiknya menggunakan masker saat bepergian dan mendekati tempat yang ramai. Selain dua kategori tersebut, komunitas yang mendapat prioritas pemberian masker adalah tenaga kesehatan yang kontak langsung dengan berbagai macam penderita, dimana mereka lah yang menjadi garda terdepan kita dalam memerangi virus ini.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved