Opini Publik

Covid-19, Antara Stigma dan Realita

BERITA virus Corona memang semakin ramai dibicarakan semua kalangan di dunia, tak terkecuali oleh warga Banua. Jumlah korban yang berjatuhan bertambah

Institut Kesehatan Nasional / AFP
Gambar mikroskop elektron transmisi menunjukkan virus corona SARS-CoV-2, juga dikenal sebagai 2019-nCoV, virus coronavirus yang menyebabkan COVID-19 

Selain penggunaan masker, yang juga dihebohkan oleh masyarakat adalah pembeliaan handsanitizer, sebagai pengganti proses mencuci tangan dengan sabun. Sebenarnya sebelum kita percaya dengan stigma pencegahan atau disinfeksi virus menggunakan handsanitizer kita perlu mengetahui dulu sifat utama dari virus. Berbeda dengan bakteri, virus tidak dapat didisinfeksi seefektif bakteri menggunakan handsanitizer. Justru, tindakan mencuci tangan menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir adalah yang paling tepat. Pada saat mencuci tangan menggunakan sabun yang benar selain proses disinfeksi juga ada proses pelepasan seluruh bakteri, virus maupun kontaminan lain dari permukaan tangan kita yang kemudian diikuti peluruhan saat proses membilas. Hal ini jelas lebih efektif di banding bergantung pada komponen disinfektan yang terkandung pada handsanitizer tanpa melalui proses peluruhan.

Anjuran penggunaan handsanitizer memang benar masih jauh lebih baik dibanding tidak ada proses pembersihan tangan sama sekali, dan pemilihan handsanitizer sendiri tidak kalah penting. Kandungan persentase alcohol yang lebih tinggi pada handsanitizer tidak selalu diikuti dengan efektifitas yang meningkat. Penggunaan handsanitizer yang benar harus dapat disebarkan pada seluruh permukaan telapak dan punggung tangan tanpa mengering dalam jangka waktu paling sedikit 1 menit untuk memberikan waktu komponen dalam handsanitizer bekerja. Lalu bagaimana dengan bagian tubuh lain dan benda di sekitar kita?

Bagaimana cara untuk membunuh virus yang sudah terlanjur tertempel? Jawabannya adalah sederhana yakni dengan adanya paparan sinar matahari langsung. Satu satunya cara membunuh virus dengan sangat efektif adalah menyinarinya dengan matahari langsung. Sinar UV dapat memotong motong genetika dari virus sehingga virus akan mati dan tidak bisa berkembang biak. Hal ini lah yang mendasari anjuran untuk membuka akses sinar matahari kedalam rumah dan menjemur barang barang yang sudah kontak dengan orang yang dicurigai terinfeksi virus. Berjalan di bawah sinar matahari juga baik untuk meminimalisir kemungkinan infeksi dari virus yang tertempel pada bagian tubuh kita. Mengurangi kontak langsung dengan permukaan yang kemungkinan tersentuh orang banyak juga bisa di jadikan alternatif, seperti handrail pada escalator dan gagang pintu.

Apakah semua orang yang terinfeksi pasti akan langsung terlihat gejala? Tentu tidak, virus membutuhkan masa inkubasi sampai menimbulkan gejala. Untuk Covid-19 sendiri masa inkubasi kurang lebih adalah 14 hari. Maka ada baiknya apabila kita merasakan gejala batuk-pilek, demam , dan gangguan pernafasan dalam masa inkubasi tersebut untuk memeriksakan diri ke RS yang telah ditunjuk pemerintah, untuk daerah Kalimantan Selatan adalah Rumah Sakit Ulin. Dan tidak melakukan banyak kontak dengan orang lain selama masa inkubasi.

Bagaimana akhir dari penyebaran virus corona ini? Masih belum ada yang tahu. Namun perlu diingat bahwa infeksi virus memiliki sifat self-limiting disease dimana virus akan tertangani dengan sendirinya ketika imunitas penderita menguat. Hal ini yang menyebabkan rendahnya tingkat kematian Covid-19, hanya kurang dari 4% penderita yang berakhir dengan meninggal dunia. Angka ini sungguh jauh bila di bandingkan penyakit lain yg juga marak tersebar di Indonesia dan disebabkan oleh bakteri, yaitu Tuberkulosis (TBC).

Hingga saat ini peneliti di dunia sedang berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan antivirus maupun vaksin untuk virus corona. Namun hingga saat ini belum dipublikasikan obat yang jelas terbukti membunuh virus tersebut. Beredarnya stigma mengenai berbagai pengobatan yang tidak bisa dipertanggung jawabkan harus diluruskan, dan baiknya masyarakat dapat memilah informasi yang dapat dibuktikan kebenarannya dan mana yang tidak. Masyarakat juga di himbau untuk dapat membedakan antara obat untuk mengobati corona dan obat untuk meningkatkan sistem imun. Untuk obat corona sendiri masih belum ditemukan, namun untuk meningkatkan sistem imun tentu banyak pilihan yang dapat dicoba dan menjadi solusi yang tepat. Mencegah lebih baik daripada mengobati. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved