Breaking News:

Suara Rekan

Bergerak Bersama

SERBUAN virus corona (Covid-19) membuat dunia panik setelah korban berjatuhan tak kunjung henti. Italia mencatat korban meninggal paling besar.

Editor: Didik Triomarsidi
Bergerak Bersama
dokbpost
H Pramono BS

Oleh: Pramono BS

BANJARMASINPOST.CO.ID - SERBUAN virus corona (Covid-19) membuat dunia panik setelah korban berjatuhan tak kunjung henti. Italia mencatat korban meninggal paling besar. Dalam waktu 24 jam terakhir korban meninggal akibat Covid-19 sebanyak 427 orang sehingga total hingga Sabtu pagi kemarin 3.405 orang. Jumlah ini melampaui “negara” asalnya, Cina, yang mencatat korban meninggal 4.200 orang. Istimewanya Cina berhasil menghentikan amukan corona dan sekarang tidak ada korban baru. Menurut detiknews (20/3/2020) hingga jam 19.57 korban corona yang meninggal di seluruh dunia sudah menyentuh angka 10.000 orang.

Iran, Spanyol, German, Prancis adalah negara dengan korban yang tinggi. Corona juga tidak takut singgah di Amerika Serikat dan sampai 19/2/2020 tercatat 7.769 kasus dan 55 meninggal.

Bagaimana dengan Indonesia? Datanya terus bergerak, sampai Jumat (2020) jam 15.00 tercatat 369 kasus, sembuh 17 dan meninggal 32. Terbanyak DKI (215 kasus) dengan jumlah meninggal 18 orang (CNN 20/3/2020). Jumlah korban meninggal di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara. Malaysia kendati jumlah positif Sabtu kemarin mencapai 900 tapi jumlah meninggal jauh lebih sedikit. Filipina, Thailand, Vietnam jumlahnya belum melampaui DKI Jakarta.

Mengingat pertambahan jumlah yang sangat signifikan Gubernur DKI Jakarta mengumumkan mulai Senin 22/2/2020 DKI memasuki fase tanggap darurat. Kalau selama ini hanya meliburkan pegawai, sekolah-sekolah dengan imbauan agar mengurangi aktivitas di luar rumah (social distance), mulai Senen esok akan lebih tegas lagi. Pabrik-pabrik yang tidak bisa berhenti bekerja hanya boleh bekerja dengan kapasitas minimal. Karyawan yang lain bekerja di rumah.

Tanggap darurat memang belum sampai lockdown (karantina wilayah) yang selama ini dituntut oleh beberapa kalangan. Namun sudah lebih jelas dan tegas. Masalahnya semua pihak mau berdisiplin atau tidak. Yang membuat Wuhan (Cina) sekarang tidak ada lagi kasus baru adalah kerja keras semua pihak, kepemimpinan yang kuat dan disiplin masyarakat yang tinggi. Rakyat Cina terkenal sangat disiplin dan patuh terhadap pimpinan.

Di Indonesia sedikit saja mengurangi hak sudah dibilang melanggar HAM (Hak Asasi Manusia). Para pengamat bukan bekerjasama tapi mencari celah kelemahan pihak lain apalagi kalau ditayangkan oleh televisi nasional. Dalam situasi seperti ini mungkin ada baiknya lebih selektif mencari narasumber.

Banjarmasin Post edisi Minggu (22/3/2020).
Banjarmasin Post edisi Minggu (22/3/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

***

Kisah yang sangat aneh terjadi di Blora (Jawa Tengah). Pekan lalu 37 anggota DPRD (sebagian beserta keluarga) tiba dari kunjungan kerja di Lombok, NTB, di terminal Bojonegoro. Petugas Kesehatan Blora sudah siap menunggu untuk melakukan tes Covid-19. Ternyata mereka menolak. “Saya ini bukan anak gembala tapi setingkat bupati,” kata salah satu anggota dari Fraksi Hanura. Mereka menolak karena tempat pemeriksaannya tidak di rumah sakit seperti pejabat yang lain.

Tak kalah menyakitkan adalah sikap anggota DPRD Pematang Siantar (Sumatera Utara). Mereka membentak-bentak petugas kesehatan karena hasil tesnya menunjukkan mereka masuk kategori ODP (Orang Dalam Pemantauan). Mereka tidak terima dimasukkan dalam kelompok itu dan menuduh putusan itu dikaitkan dengan politik. Walikota Bogor Arya Bima saja mengumumkan sendiri dirinya positif corona.

Mereka tidak sadar bahwa virus itu tidak pandang jabatan, tempat atau kaya miskin. Orang gembel dan pejabat negara sama bahayanya kalau ketempelan virus, apalagi sekarang ini fasenya semakin mengerikan. Mustahil mereka tidak tahu. Seandainya mau, pemerintah punya hak untuk memaksa mereka menjalani tes, tak usah menunggu tempat yang nyaman karena virusnya keburu menyebar. Penyebaran virus corona terjadi dalam hitungan detik.

Kita sekarang menghadapi ancaman serius, semua harus bergerak bersama dalam satu komando, petugas kesehatan sampai rakyat harus bersinergi. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved