Jendela

Bersama Kita Cegah Corona

Sungguh lega hati saya Sabtu malam lalu, setelah mendapat berita bahwa pasien Ulin 6 yang telah wafat pada Rabu, 18 Maret 2020 lalu, ternyata

Bersama Kita Cegah Corona
UIN Antasari Banjarmasin
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Banjarmasin Prof Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sungguh lega hati saya Sabtu malam lalu, setelah mendapat berita bahwa pasien Ulin 6 yang telah wafat pada Rabu, 18 Maret 2020 lalu, ternyata negatif Covid-19. Namun, siang Ahad kemarin, beredar kabar lagi, 1 orang dari 6 Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di Banjarmasin positif Corona. Kalau selama ini sebagian (besar?) kita masih kurang peduli dengan protokol kesehatan, bagaimana setelah ini?

Saya sempat mencoba memancing tanggapan kawan-kawan di facebook dengan menulis pernyataan filsafat: the absence of knowledge does not mean knowledge of absence (ketiadaan pengetahuan tidak berarti pengetahuan tentang ketiadaan). Dr. Yunus Masrukhin, teman alumni al-Azhar ini mengomentari bahwa ungkapan itu berasal dari kaum Asy’ariah: ‘adam al-‘ilm bi al-syai’i lâ yu’addî ilâ ‘adamih.

Kita tidak bisa memastikan Covid-19 itu belum atau sudah menjalar ke mana-mana di Kalsel. Para ahli medis mengatakan, bisa saja orang yang tampak sehat ternyata terkena virus ini. Apalagi sarana tes kita terbatas dan spesimen harus dikirim ke Jakarta. Baru beberapa hari lalu, satu lembaga di Banjarbaru diberi kewenangan untuk itu. Jadi, pengetahuan kita tentang penyebaran Corona sangat terbatas.

Dalam ketidaktahuan, kita tentu tidak boleh pura-pura tahu. Ini sangat berbahaya. Apalagi merasa yakin bahwa kita tahu, padahal sebenarnya tidak tahu apa-apa. Ini namanya jâhil murakkab, bodoh kuadrat. Yang bijak tentu menyadari apa yang kita ketahui dan apa yang tidak kita ketahui. Dalam keterbatasan pengetahuan itu, kita dianjurkan untuk mengambil langkah pencegahan sebelum wabah ini membiak.

Sebenarnya peringatan pemerintah hingga Fatwa MUI sudah beredar luas melalui aneka media. Bahwa kita semua harus menjaga kebersihan, mencuci tangan dengan sabun, meningkatkan daya tahan tubuh dengan makanan dan minuman yang sehat, menjaga jarak antar orang, tidak berkegiatan mengumpul massa, tidak kontak fisik, bekerja, belajar dan beribadah diutamakan di rumah saja dan seterusnya.

Sejak seminggu lalu, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Kalsel sudah mengeluarkan berbagai kebijakan pula. Kota Banjarmasin dan Kota Banjarbaru sudah ‘meliburkan’ sekolah dan memberlakukan pembelajaran daring (online), serupa dengan kebijakan UIN Antasari, Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan universitas lainnya. Wali Kota Banjarmasin bahkan sudah menutup tempat-tempat hiburan.

Banjarmasin Post edisi Senin (23/3/2020).
Banjarmasin Post edisi Senin (23/3/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Pada Kamis, 19 Maret 2020, saya mengundang sejumlah dosen UIN Antasari untuk diskusi pendalaman Fatwa MUI No.14 Tahun 2020 terkait Covid-19. Secara ilmiah, yakni berdasarkan ilmu-ilmu keislaman, para dosen itu mengatakan bahwa fatwa tersebut sudah sangat baik karena didukung dalil-dalil yang kuat. Tugas para ulama adalah menyebarluaskan dan menyadarkan umat mengenai anjuran fatwa itu.

Namun, diakui pula oleh para dosen itu bahwa tidaklah mudah menyadarkan masyarakat. Seorang dari mereka bercerita, ketika dia menolak berjabat tangan saja, sikap masyarakat sudah lain. Di bulan Rajab ini, sebagian ulama tegas membatalkan ceramah demi pencegahan, tetapi sebagian lagi tidak. Padahal, penyebaran Corona di Malaysia dan Korea Selatan bermula dari pertemuan besar kegiatan keagamaan.

Saya bisa memahami betapa sulit mengambil sikap tegas dalam isu keagamaan ini. Pada era demokratis yang ditopang media sosial saat ini, agama menjelma laksana barang dagangan, yang dijajakan kepada para pembeli yang tidak bisa dipaksa untuk membeli. Siapa yang diikuti umat, tergantung selera umat. Lebih tepatnya lagi, tiap orang atau lapisan masyarakat memilih tokoh panutan dan idolanya sendiri.

Dalam situasi ini, negara harus turun tangan. Pemerintah berwenang mengendalikan masyarakat. Jika pemerintah bisa ‘meliburkan’ sekolah dan universitas, menutup tempat-tempat hiburan, membolehkan ASN bekerja dari rumah, maka demi kemaslahatan umum, ia juga bisa ‘menunda’ kegiatan keagamaan. Namun karena soal ini lebih sensitif, pemerintah perlu berdialog dulu dengan tokoh-tokoh agama.

Saya percaya, para tuan guru kita adalah orang-orang bijak yang tercerahkan. Mereka menyayangi umat ini melebihi kita yang kini mungkin terkesan sok peduli. Saya juga percaya pada keampuhan doa, wirid dan amalan seperti yang diajarkan mereka. Namun, tuan guru yang Ahlussunah tentu tidak mengajarkan akidah Jabariyah, pasrah pada bahaya, tetapi menganjurkan usaha dan ikhtiyar sambil tetap berdoa.

Alhasil, mari kita bersama-sama melawan Corona. Pemerintah dengan kekuasaannya. Para tenaga medis dengan ilmu, obat-obatan dan keterampilannya. Para ulama dengan agama yang menguatkan usaha dan ikhtiar manusia sambil berdoa mengharap pertolongan-Nya. Dan semua orang dengan kesadarannya.(*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved