Tajuk

Nyepi, Menepi dan Peradaban Baru

Rabu, 25 Maret 2020 umat Hindu merayakan nyepi. Aktifitas duniawi ditinggalkan dan memilih tinggal diam di rumah dalam upaya membersihkan diri

Nyepi, Menepi dan Peradaban Baru
Banjarmasinpost.co.id/Isti Rohayanti
Nyepi di Pura Agung Jagat Nata, Jalan Gatot Subroto, Kota Banjarmasin, Rabu (6/3/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Rabu, 25 Maret 2020 umat Hindu merayakan nyepi. Aktifitas duniawi ditinggalkan dan memilih tinggal diam di rumah dalam upaya membersihkan diri dan alam semesta.

Perayaan ini berbarengan menepinya warga dunia, untuk menghambat penularan virus Covid-19. Di Indonesia, ‘menepi’ sudah digaungkan sejak 10 hari lalu dan pelaksanaanya makin masif. Wujudnya, kemudian muncul berbagai jargon; Di rumah saja, kerja di rumah, kami di rumah dan sebagainya.

Secara formal, makna ‘menepi’ ini beda dengan nyepi. Meski, sejatinya secara subtantif bisa berarti sebangun. Yakni sama-sama upaya menghentikan bahaya.

Lebih dari itu, nyepi dan ‘menepi’ juga punya maksud jangka panjang, agar tata peradaban kita di masa depan akan semakin baik. Karena itu, mumpung kita sedang “Di Rumah Aja”, seharusnya bisa dimanfaatkan untuk ‘mensucikan’ diri. Tidak sekadar sebagai langkah ‘menghindar’ dari virus.

Menyucikan diri bisa dimulai dengan mereview hubungan antar-anggota keluarga. Selama menikmati semua waktu bersama keluarga, seharusnya menjadi momentum menghitung kesalahan kita dan kebaikan anggota dalan dalam keluarga. Untuk kemudian, menjadi bahan cetak biru hubungan antar-anggota keluarga saat kita kembali ke ‘keramaian.’

Banjarmasin Post edisi Kamis (26/3/2020).
Banjarmasin Post edisi Kamis (26/3/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Dalam soal hubungan sosial. Momen menepi seharusnya menjadikan kita mudah menemukan kebaikan dan keburukan orang-orang di lingkungan sosial kita. Termasuk, seharusnya secara mudah dapat menemukan kacaunya sikap sosial kita. Demikian juga soal hubungan kita dengan lingkungan alam dan Tuhan semesta alam.

Intropeksi sosial dan spiritual itulah yang akan menjadi modal kita membangun peradaban baru pasca-menepi.

Kantor yang sepi karena karyawannya bekerja di rumah, akan menyadarkan kita untuk membangun peradaban baru di tempat kerja. Bahwa, kerja bukan sekadar angka-angka, target-target dan gaji. Tapi, juga tentang spirit hidup yang lahir dari interekasi fisik antar-pekerjanya. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved