Wabah Virus Corona

Begini Tata Cara Shalat bagi Tenaga Kesehatan Covid-19, Fatwa MUI: Boleh Pakai APD & saat Tidak Suci

Begini Tata Cara Shalat Tenaga Kesehatan Covid-19, Fatwa MUI: Boleh Gunakan APD dan saat Tidak Suci

Begini Tata Cara Shalat bagi Tenaga Kesehatan Covid-19, Fatwa MUI: Boleh Pakai APD & saat Tidak Suci
KOMPAS.COM/ARI MAULANA KARANG
Tim medis menggunakan APD lengkap saat menunjukan ruang isolasi pasien corona di RSU dr Slamet Garut, beberap waktu lalu. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Saat ini di Indonesia kasus positif tertular virus corona atau terjangkit covid-19 mencapai 893 orang. Petugas kesehatan harus bekerja keras berjam-jam sehingga banyak yang tidak bisa shalat tepat waktu.

Untuk itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa mengenai pedoman shalat bagi tenaga kesehatan yang memakai alat pelindung diri (APD) saat menangani pasien Covid-19.

Fatwa bernomor 17 tahun 2020 itu diterbitkan oleh MUI pada Kamis (26/3/2020), ditandatangani oleh Ketua Komisi Fatwa Hasanuddin AF dan Sekretaris Komisi Fatwa Asrorun Ni'am Sholeh.

Terdapat 11 ketentuan hukum dalam fatwa tersebut. Pada pokoknya, fatwa menyebutkan bahwa tenaga kesehatan yang tengah mengenakan APD karena menangani pasien Covid-19 tetap diwajibkan menunaikan shalat.

Pria Ini Positif Covid-19 Setalah Bikin Aksi Gila Coronavirus Challenge Menjilati Toilet Pesawat

Real Madrid Sumbangkan Stadion Santiago Bernabeu untuk Markas Perangi Virus Corona di Spanyol

Anang Hermansyah Ikut Cegah Covid-19, Suami Ashanty Tutup Sementara Bisnis Karaokenya

Panik Corona

Namun demikian, dalam kondisi tertentu, mereka dapat melaksanakan shalat dengan jama', baik ta'khir maupun taqdim.

Dalam kondisi tertentu tenaga kesehatan yang tidak dapat mengambil air wudu juga diperbolehkan bertayamum, atau sama sekali tidak bersuci jika memang keadaan tak memungkinkan.

Berikut 11 ketentuan hukum yang diterbitkan dalam fatwa MUI:

1. Tenaga kesehatan muslim yang bertugas merawat pasien Covid-19 dengan memakai APD tetap wajib melaksanakan shalat fardhu dengan berbagai kondisinya,

2. Dalam kondisi ketika jam kerjanya sudah selesai atau sebelum mulai kerja ia masih mendapati waktu shalat, maka wajib melaksanakan shalat fardhu sebagaimana mestinya,

3. Dalam kondisi ia bertugas mulai sebelum masuk waktu dzuhur atau maghrib dan berakhir masih berada di waktu shalat ashar atau isya, maka ia boleh melaksanakan shalat dengan jama’ ta’khir,

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved