Tajuk

Jenazah Pasien Covid-19

BARU-BARU ini beredar video yang mengambarkan keluarga dan pelayat membuka dan melihat jenazah seorang perempuan yang berstatus PDP

Jenazah Pasien Covid-19
repro bidik layar YouTube Kompas TV
Video keluarga membawa jenazah seorang perempuan yang berstatus Pasien Dalam Pengawasan covid-19 di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - BARU-BARU ini beredar video yang mengambarkan keluarga dan pelayat membuka dan melihat jenazah seorang perempuan yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra). Video itu menjadi viral di media sosial.

Mengutip Kompas.com, Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sultra dr Rabiul Awal pun menyayangkan sikap keluarga yang tidak mematuhi prosedur pemulasaran jenazah dengan standar korban terinfeksi Covid-19, seperti yang ditetapkan badan kesehatan dunia (WHO), meski korban masih berstatus PDP.

Terkait ini, Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis menjelaskan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait penanganan jenazah yang terinfeksi virus corona. Ia menegaskan penanganan jenazah harus mengikuti SOP dari tim medis.

Hal itu disampaikan oleh Cholil Nafis melalui akun Instagram miliknya @cholilnafis, Selasa (24/3/2020). Ia menjelaskan untuk penanganan jenazah yang terpapar corona harus berhati-hati. Bila kondisi jenazah memungkinkan untuk dimandikan, maka jenazah bisa dimandikan dengan cara menyiram air ke seluruh tubuhnya. Penyiraman dilakukan setelah memastikan jenazah bersih dari najis.

Banjarmasin Post edisi Jumat (27/3/2020).
Banjarmasin Post edisi Jumat (27/3/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Bila kondisi jenazah tidak memungkinkan untuk dimandikan dengan air, bisa dilakukan tayamum. Setelah itu, jenazah bisa dikafani dan disalatkan sebelum dikubur ke tempat peristirahatan terakhir. Salat jenazah bisa dilakukan di masjid, musala, rumah sakit maupun di pemakaman sebelum dikuburkan.

Jenazah tidak boleh disalatkan sesudah dikuburkan. Hal itu masuk dalam kategori haram hukumnya. Cholil Nafis menjelaskan, prosesi tersebut sudah sesuai dengan ajaran Islam. Sehingga, tidak perlu khawatir tidak memenuhi syariat Islam.

Memang, saat anggota keluarga meninggal dunia, apalagi orang tersayang, momen melihat wajahnya untuk terakhir kali sebelum dimakamkan adalah keinginan semua orang.

Tentu, kondisinya sekarang berbeda. Ada risiko yang harus dilihat. Apalagi, dari segi hukum agama juga diatus dan dipertegas melalui fatwa MUI soal penyelenggaraan jenazah itu.

Kini, tinggal pihak berwenang yang memberi pengertian dan menjelaskan pada masyarakat terkait hal ini. Dari segi keagamaannya, tentunya para pemuka agama. Misalnya, dikabarkan sampai ulama-ulama di kampung.(*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved