Tajuk

Bersatu Atasi Dampak Ekonomi

Siapapun pasti akan mengelus dada. Cemas, bahkan takut. Tidak hanya terhadap penyebaran virus corona yang terus memakan korban manusia,

BANJARMASINPOST.CO.ID - Siapapun pasti akan mengelus dada. Cemas, bahkan takut. Tidak hanya terhadap penyebaran virus corona yang terus memakan korban manusia, tetapi juga dampaknya di pelbagai bidang. Terutama, ekonomi!

Untuk Indonesia, beberapa hari lalu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan skenario terburuk pertumbuhan ekonomi Indonesia bila virus corona terus memangsa dalam waktu lebih dari 3-6 bulan. Dikatakan, pertumbuhan ekonomi negara kita bisa anjlok di level dasar: 2,5-0 persen. Mengerikan.

Kita harus memberi apresiasi kepada pemerintah yang berupaya keras menangani dan memitigasi dampak serius pandemi corona terhadap perekonomian nasional. Kritik, masukan dan saran secara konstruktif tentu sangat diharapkan karena masalah ini bukan tanggung jawab pemerintah saja.

Dalam instruksinya, Presiden Jokowi meminta anggaran pusat dan daerah yang tidak prioritas dialihkan untuk tiga hal. Pertama, bidang kesehatan, terutama untuk pengendalian virus corona. Kedua, adanya jaring pengaman sosial dengan memberikan bantuan sosial kepada masyarakat tidak mampu.

Adapun yang ketiga adalah pemberian insentif ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar bisa tetap berproduksi dan menghindari terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK).

Secara teori, langkah tersebut sangatlah tepat. Akan tetapi perlu segera diimplementasikan secara benar, tepat dan terawasi.

Apapun langkah dan kebijakan pemerintah dalam kondisi gawat darurat harus diperkuat oleh partisipasi masyarakat. Semangat solidaritas dan gotong royong harus tumbuh. Bersama dan bahu membahu melawan corona.

Gayung bersambut. Tidak sedikit pengusaha tergerak hatinya untuk tidak terus memikirkan keuntungan. Mereka legawa menggalang dana untuk membantu penanganan wabah penyakit yang menyerang banyak negara ini.

Bagi masyarakat, cara termudah yang bisa dilakukan adalah mengelola perekonomian keluarga seperti biasa. Tidak perlu melakukan aksi borong. Inilah saatnya semua bersatu. (*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved