Opini Publik

Tenaga Medis dan Mitigasi Kesehatan

CORONA merupakan topik pembahasan paling popular sejak Januari 2020, terlebih Indonesia menjadi negara yang peningkatan kasus coronanya lumayan tinggi

KOMPAS.COM/HANDOUT
Tangkapan layar video seorang petugas medis di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto, melakukan shalat saat masih mengenakan APD lengkap untuk penanganan pasien Covid-19. 

Editor: Didik Triomarsidi

Oleh: ZAYANTI MANDASARI, Asisten Bidang Pencegahan Ombudsman RI Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - CORONA merupakan topik pembahasan paling popular sejak Januari 2020, terlebih Indonesia menjadi negara yang peningkatan kasus coronanya lumayan tinggi. Tak hanya masalah penyebaran corona, cara ‘menangkal’ corona, dan jumlah korban jiwa akibat corona, namun pembahasan meluas baik dari sisi agama, dampak sosial, ekonomi, hingga ajakan untuk di rumahaja sebagai tagar yang terus digaungkan dimana-mana. Namun nampaknya kita terlalu terpaku dengan hal-hal tersebut, sehingga tenaga medis yang merupakan garda depan penanganan corona sedikit tertutup dengan pembahasan di atas.

Beberapa hari yang lalu, beredar luas foto-foto tenaga medis yang terlihat kelelahan, terdapat guratan bahkan luka lecet di sekitar wajah, akibat memakai beberapa alat pelindung diri (APD) dalam menangani pasien corona, sebagai upaya mencegah tenaga medis terjangkit virus corona. Bahkan menurut keterangan salah satu Direktur Rumah Sakit yang menjadi rujukan regional penanganan corona di Kalsel, pada 20 Maret 2020 yang lalu, APD untuk tenaga medis yang menangani corona,hanya tersisa untuk dua hari kedepan. Sehingga hal ini memaksa tenaga medis untuk mencari cara lain, agar tetap safety dalam menangani pasien positif corona.

Tak hanya itu, yang juga membuat miris adalah kabar anggota DPR yang meminta, mereka dan keluarganya untuk dites corona terlebih dahulu, padahal yang paling penting untuk mendapatkan tes tersebut adalah tenaga medis, yang jelas menangani pasien corona.

Perlindungan Tenaga Medis

Siapa saja yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan, serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan, yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan, merupakan bagian dari tenaga medis.

Setidaknya hal tersebut dijabarkan dalam UU No. 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan (UU No.36 Tahun 2014). Dalam menjalankan tugas, tenaga kesehatan juga memiliki beberapa hak, seperti memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas, memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja, perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia, moral, kesusilaan, serta nilai-nilai agama.

Dalam konteks penanganan corona, tenaga medis juga berhak atas perlindungan atas keselamatandan kesehatan kerja, karena tidak sedikit tenaga medis yang kemudian dalam merawat pasien corona, ikut terjangkit virus tersebut, sehingga mengakibatkan meninggalnya tenaga medis.

Lantas, siapa yang bertanggung jawab untuk memenuhi hak tenaga medis tersebut? Sebagaimana UU No. 36 Tahun 2014, yang bertanggungjawab adalah pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Khususnya dalam memenuhi hak tenaga medis untuk mendapatkan perlindungan selama menjalankan tugasnya.

Apa saja langkah pemerintah yang telah dilakukan untuk memenuhi hak tenaga medis tersebut. Jika kita lihat, dalam konteks jangka pendek, pemerintah pusat misalnya, telah mengupayakan ketersediaan alat kesehatan, baik dalam bentuk obat ataupun APD untuk memutus rantai penyebaran virus corona, yang dibawa langsung oleh pesawat Hercules. Selain itu, untuk ‘perlindungan’ jangka panjang, pemerintah juga telah mengupayakan pemberian insentif kepada tenaga medis.

Banjarmasin Post edisi Kamis (9/4/2020).
Banjarmasin Post edisi Kamis (9/4/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)
Halaman
123
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved