Jendela

Teori Slavoj Žižek dan Kita

Menurutnya, kita tengah menghadapi kirisis kesehatan, ekonomi dan psikologis yang berdampak politik, dan kita tak bisa lagi kembali normal

UIN Antasari Banjarmasin
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Banjarmasin Prof Mujiburrahman 

Editor: Didik Triomarsidi

Oleh: Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sungguh senang membaca karya filosof asal Slovenia, Slavoj Žižek, berjudul Pandemic! Covid-19 Shakes the World yang baru terbit pada 2020 ini. Menurutnya, kita tengah menghadapi kirisis kesehatan, ekonomi dan psikologis yang berdampak politik, dan kita tak bisa lagi kembali normal seperti dulu. Pascakrisis nanti, kita harus membangun normalitas baru dari reruntuhan kehidupan normal kita yang dulu.

Meminjam teori Elisabeth Kübler-Ross tentang lima tahapan reaksi orang ketika terkena penyakit berat, Žižek mengatakan, krisis Covid-19 juga begitu. Pertama, orang menyangkal (Ah kita tak mungkin kena). Kedua, orang marah (Kok kita kena. Pemerintah lamban). Ketiga, tawar-menawar (kalau begitu, kita mau bekerja dari rumah). Keempat, depresi menghadapi keadaan. Kelima, bersedia menerima nasib.

Sambil merenungkan teori Žižek di atas, saya mencoba melihat keadaan kita saat ini. Apakah kita tengah menghadapi tiga krisis: kesehatan, ekonomi dan psikologis? Ya, tentu saja. Terus, apakah kita tengah menjalani tahap demi tahap dari lima reaksi terhadap penyakit? Ya, juga. Hanya saja saya ragu, kita sedang berada di tahap mana dari kelima tahap itu. Mungkin yang tepat adalah campur baur semuanya.

Seorang dokter bercerita, ada orang yang terindikasi Covid-19 datang ke rumah sakit, mengaku penyakit jantung, padahal dia pernah menghadiri pertemuan keagamaan besar yang menjadi salah satu sumber penularan. Sikap menyangkal dan menutup-nutupi ini tentu membahayakan orang lain. Ada pula yang enggan memeriksakan diri atau tak mau mengisolasi diri sampai akhirnya dipaksa oleh pihak berwenang.

Banjarmasin Post edisi Senin (13/4/2020).
Banjarmasin Post edisi Senin (13/4/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Bagaimana dengan marah-marah? Mungkin lebih banyak. Perhatikan saja tulisan dan video di media sosial. Semakin orang banyak di rumah dan terhubung hanya melalui internet, semakin sibuklah orang dengan gawai. Di tengah tsunami informasi, orang jadi stres dan keluar sifat buruknya. Kata-kata kasar dan sumpah serapah begitu mudah dimuntahkan. Apalagi, hatinya sudah dipenuhi benci dan dengki.

Tawar menawar juga sudah berlaku. Imbauan pemerintah untuk tetap di rumah, memakai masker, tidak kumpul-kumpul, mencuci tangan dengan sabun, sebagian diikuti, sebagian lagi ditawar. Tak apalah salat Jumat, kan belum ada warga sekitar yang kena. Kami mau di rumah, tapi bantu ekonomi kami. Penguasa ingin tegas, tetapi bagaimana jika ada yang melawan? Apa akibatnya sekarang dan nanti dalam pilkada?

Akhirnya, banyak orang yang depresi. Kalangan bawah yang mengais rezeki hari ke hari, tentu sangat prihatin menghadapi krisis ini. Kalangan medis bekerja banting tulang menolong pasien, sementara yang lain harus di rumah saja. Pekerja medis lelah fisik dan mental, sedangkan yang di rumah terutama lelah mental. Adapun para pejabat, banyak yang pusing menghadapi masyarakat yang susah diatur dan egois.

Lengkaplah sudah reaksi kita terhadap krisis ini, kecuali yang kelima: menerima kenyataan. Inilah yang sulit, tetapi harus dilewati. Kita selalu merindukan yang normal, yang selama ini kita alami. Kita ingin kembali bekerja di tempat kerja, belajar di sekolah dan universitas, berdagang di pasar, dan bebas bepergian. Tetapi sekarang tidak boleh. Bisakah kita menerima kenyataan ini dengan lapang dada?

Menerima kenyataan sebagaimana adanya adalah ajaran orang-orang bijak sejak ribuan tahun silam. Ada yang dengan tegas mengatakan, hidup ini adalah ketidaknyamanan atau penderitaan. Kurangilah dan kalau bisa lenyapkanlah keinginan agar kau tidak banyak menderita. Ada juga yang bilang, terimalah nasib yang tak terelakkan dengan rasa cinta. Hadapilah hidup dengan berani, sepahit apapun itu.

Dalam situasi krisis ini, tiap orang ingin mencari jalan keselamatan. Žižek yang mengaku sebagai Kristen ateis (entah apa maksudnya), melihat dua kemungkinan masa depan kita: politik hukum rimba atau kebersamaan manusia, sejenis ‘komunisme’ baru. Dia memilih yang kedua sebagai jalan keselamatan. Krisis virus ini, katanya, akan terjadi lagi jika kita tidak mau bersama-sama menjaga kelestarian alam.

Jalan keselamatan adalah harapan di balik kenyataan. Bagi kaum beriman, kenyataan wajib dihadapi sebijak mungkin, namun kenyataan dunia ini bukanlah satu-satunya kenyataan. Ada kenyataan yang tak terindera dan selalu hadir. Dia sangat tampak, sehingga menjadi tidak tampak. “Benderang mentari membuat mata kelelawar buta,” kata al-Ghazali. Covid-19 adalah peringatan dari Dia Yang Maha Nyata.

Alhasil, pada akhirnya, entah dilihat dari sudut pandang sekuler ataupun agama, Covid-19 adalah ujian berat bagi umat manusia. Yang lulus akan meningkat ke ujian berikutnya. Yang gagal akan terpuruk. Yang menentukan adalah cara kita menghadapinya, sebagai pribadi, bangsa atau warga dunia. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved