Pusat Pengrajin Gerabah Desa Bayanan
Pengrajin di Desa Bayanan HSS ini Pernah Pasok Ribuan Buah Gerabah ke Bali
2019 lalu, Ramli berhasil bekerjasama dengan mitra usaha di Banjarmasin yang mengirim produk gerabah ke luar pulau, seperti Bali.
Penulis: Hanani | Editor: Eka Dinayanti
Editor: Eka Dinayanti
BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Keahlian para pengrajin gerabah di Desa Bayanan, Kecamatan Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan membuat gerabah tak diragukan.
Mereka melakukannya secara turun temurun, sebagai pekerjaan sampingan.
Pekerjaan utama, tetaplah bertani, mencari ikan serta usaha produktif lainnya.
Inovasi produk yang tak lagi hanya mengandalkan tungku dan panai, membuat pengrajin setempat berhasil bangkit setelah sempat terseok, setelah program konversi minyak tanah ke kompor gas program pemerintah pusat beberapa tahun lalu.
• Pengrajin Gerabah Desa Bayanan Daha Selatan Tak Lagi Andalkan Tungku dan Panai
• Ada Terong Jumbo Seharga Rp 750 Ribu, Pengrajin Butuh Waktu Tiga Hari Membuatnya
Adalah Ramli, yang mengaku bisa bertahan dan sampai sekarang berhasil mengembangkan usahanya.
Bahkan pada 2019 lalu, Ramli berhasil bekerjasama dengan mitra usaha di Banjarmasin yang mengirim produk gerabah ke luar pulau, seperti Bali.
“Tahun 2019, lebih 1.000 produk gerabah saya pasok ke mitra usaha tadi untuk dikirim ke Bali,”ungkap Ramli, yang saat ditemui sedang membuat replika buah semangka berukuran besar.
Menurutnya, biasanya gerabah berbentuk buah-buahan, ikan dan sayur dibeli pemilik usaha rumah makan serta untuk keperluan lainnya, termasuk untuk pajangan di rumah.
Namun, diakui di tengah wabah virus corona seperti sekararang, pengiriman tersendat, karena terbatasnya penerbangan ke luar daerah.
(banjarmasinpost.co.id/hanani)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/hasil-akhir-produk-gerabah-yang-siap-dipasarkan-ke-daera-daerah-di-kalsel.jpg)