Opini Publik

Peran Milenial Melawan Covid-19

PERAN generasi milenial dalam perang melawan pandemi Covid-19 memang harus terus digaungkan, salah satunya dengan #dirumahaja

BANJARMASINPOST.CO.ID/MUKHTAR WAHID
Satgas Bidang Kesehatan Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Tapin mengecek suhu tubuh santri putri Darul Hijrah di RTH Rantau Baru, Selasa (14/4/2020). 

OLEH: ALI RIF’AN, Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia

BANJARMASINPOST.CO.ID - PERAN generasi milenial dalam perang melawan pandemi Covid-19 masih belum santer terdengar. Riuh rendah dan kebisingannya pun sayup-sayup. Padahal di sektor isu lainnya--misalnya isu politik--milenial terdengar gahar. Pekik suaranya pun nyaring terdengar. Pertanyaannya, ada apa dengan milenial?

Yang pasti, peran milenial sangat ditunggu dalam upaya membantu pemerintah
mengatasi Covid-19. Pertama, mengutip pandangan Deborah Birx (2020)-Koordinator Respons Virus Korona Gedung Putih, milenial bisa jadi kunci mengalahkan pandemi Covid-19. Melalui kecakapan teknologi informasi dan kreativitas yang dimiliki, milenial dapat meningkatkan awareness (kesadaran) masyarat dalam melakukan physical distancing (menjaga jarak fisik).

Saya sepakat dengan pandangan itu. Apalagi rilis data Asosiasi Penyelenggara
Jasa Internet Indonesia (APJII) 2019 menyebutkan, dari 171,17 juta pengguna Internet di Indonesia, cluster usia 15-19 tahun mempunyai penetrasi paling tinggi (mencapai 91 persen). Kemudian disusul cluster usia 20-24 tahun dengan penetrasi 88,5 persen, kelompok umur 25-29 tahun 82,7 persen, usia 30-34 tahun 76,5 persen, dan umur 35-39 tahun 68,5 persen.

Selain itu, influencer di jagat maya juga didominasi generasi milenial. Artinya, peran kelompok generasi langgas untuk membantu mensosialisasikan himbauan Presiden Jokowi— physical distancing ataupun (yang terbaru) Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)—sangat penting karena mereka paling dominan menggunakan internet.

Memang (sebagian) generasi milenial sudah menggaungkan tagar di rumah aja (#dirumahaja), sempat trending topic di Twitter dengan cuitan sekitar 18 ribu pada 16 Maret 2020 lalu. Namun bila dibandingkan tagar #2019GantiPresiden dengan 63.817 cuitan dan #Jokowi2Periode dengan 18.452 cuitan (17 April 2018) ataupun jumlah cuitan terkait debat capres 2019 yang mencapai 1,5 juta cuitan (18 Februari 2019), tagar #dirumahaja masih kalah jauh. Harusnya, karena virus mematikan ini sudah ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) sebagai pandemi, gaung kelompok milenial dalam mengkampanyekan pencegahan Covid-19 lebih besar.

Banjarmasin Post edisi Rabu (15/4/2020).
Banjarmasin Post edisi Rabu (15/4/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Covid-19 merupakan ancaman mematikan yang membahayakan kelangsungan hidup manusia. Bayangkan, data Senin (13/4/2020) menyebutkan, total pasien positif terjangkit Covid-19 mencapai 1.852.686 kasus dan menyebar di 210 negara. Sementara di Indonesia yang positif sudah mencapai 4.241 kasus dan tersebar di 34 provinsi alias seluruh Indonesia.

Kedua, milenial bisa menjadi contoh yang baik soal physical distancing, khususnya tentang bekerja dari rumah (work from home/WFH). Studi yang dilakukan oleh OnePoll (2018) menyebutkan bahwa generasi milenial lebih suka jam kerja yang fleksibel dan dinamis, termasuk sistem kerja jarak jauh. Hal senada terungkap dalam riset visix.com (2019) bahwa 75 persen kaum milenial lebih suka bekerja dari rumah atau lokasi lain yang mereka anggap nyaman.

Selain itu, alasan lain mengapa milenial perlu melakukan WFH ialah karena
mereka tidak kebal Covid-19. Staf Khusus Presiden, Adamas Belva Syah Devara (2020), pernah membeberkan angka penyebaran Covid-19 di Korea Selatan. Dari 250-300 ribu orang yang tes, 30 persen yang positif Covid-19 berusia 20-29 tahun. Jumlah tersebut dua kali lebih besar dari cluster umur 30-39 dan tiga kali lebih besar cluster umur 40-49 tahun. Itu artinya asumsi bahwa milenial sangat kecil potensinya-- alias kebal--terjangkit Covid-19 tidak sepenuhnya benar.

Karena itu, dalam konteks Covid-19, posisi milenial ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi dapat mempercepat pencegahan Covid-19, namun di sisi lain bisa mempercepat penularan. Ini mengingat selain jumlahnya dominan (data Bappenas menyebut terdapat 90 juta jiwa generasi milenial di Indonesia), milenial merupakan salah satu generasi yang mobilitasnya sangat tinggi. Artinya, apabila generasi milenial masih tetap berkeliaran di luar rumah (abai terhadap physical distancing), maka penyebaran Covid-19 berpotensi sangat cepat.

Ketiga, membantu perang melawan hoaks. Ini salah satu persoalan krusial. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (12/3/2020) menemukan 196 hoaks dan disinformasi seputar Covid-19 di Indonesia. Padahal info bahwa Indonesia terdapat positif korona baru 02 Mei 2020. Artinya, dalam rentang waktu yang singkat, gelombang hoaks sudah terjadi secara masif. Tren ini diperkirakan akan meningkat. Tentu hoaks harus dicegah lantaran dapat menimbulkan keresahan, bahkan perpecahan di masyarakat. Hoaks juga dapat menggangu pemerintah ataupun tim medis dalam upaya perang melawan Covid-19. Sebagai kelompok yang adaptif dengan teknologi, melek informasi, dan sangat mafhum
dengan media sosial, generasi milenial diharapkan ikut menangkal hoaks seputar
Covid-19.

Keempat, membantu lewat sebuah kreativitas. Sekadar contoh, dalam rangka ikut mencegah Covid-19, milenial bernama Rama Raditya (founder & CEO Qlue) misalnya meluncurkan Indonesia Bergerak (indonesiabergerak.com), sebuah platform berbasis integrasi data, chatbot, dan pelaporan warga terkait perkembangan Covid-19 yang dapat diakses publik. Begitu pula dengan Natali Ardianto, CEO PT Indopasifik Teknologi Medika Indonesia (ITMI). Ia meluncurkan Jovee (sebuah aplikasi telemedis bantu penanganan Covid-19) dan Lifepack, (apotek digital yang menawarkan layanan lengkap dan didukung tim dokter dan apoteker).

Tentu selain Rama Raditya dan Natali Ardianto, kreativitas generasi milenial
lainnya dalam membantu mengatasi Covid-19 sangat ditunggu. Mengutip Hershatter dan Epstein (2010), milenial merupakan generasi yang paling mampu mengintegrasikan teknologi ke dalam dunia kerja dan kehidupan.

Akhirnya, di tengah situasi pandemi yang makin mencemaskan, kita berharap pekik milenial kembali nyaring terdengar. Perang melawan Covid-19 ialah perang bersama yang membutuhkan kesadaran semua elemen bangsa. Tak terkecuali generasi milenial. Semoga. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved