Opini Publik

Perlawanan ‘Receh’ atas Dampak Corona

media sosial memang bisa saja menjelma menjadi perlawanan terhadap dampak negatif Corona atas kemanusiaan

DISKOMINFO HULU SUNGAI SELATAN UNTUK BPOST GROUP
Pembagian masker kain gratis oleh ASN Pemkab HSS di pasar-pasar beberapa waktu lalu, dalam rangka mencegah penularan virus corona atau Covid-19 

Oleh: Supriansyah, Peneliti di Kindai Institute Banjarmasin

Editor: Didik Triomarsidi

BANJARMASINPOST.CO.ID - BEBERAPA hari terakhir ini saya melihat gerakan baca wirid dan ratib secara daring. Aksi yang dimotori oleh anak-anak muda dari salah satu organisasi masyarakat (ormas) agama, sebagai upaya mereka berpartisipasi mencegah meluasnya persebaran virus Corona.

Ritual agama yang mereka tampilkan kemungkinan lebih banyak diterima banyak kalangan, terutama kelompok sosial yang memiliki akses terhadap media sosial cukup tinggi, yaitu kalangan kelas menengah, kelompok masyarakat urban dan generasi milenial hingga gen-Z.

Usaha mereka tersebut sempat menyentil perhatian saya, yang selama ini cukup mengikuti perkembangan virus Corona, terutama di media sosial. Sebab bagi saya, keberanian mereka menampilkan aksi tersebut berbeda dengan yang selama ini ada di irisan agama dengan situasi krisis Corona, di mana sebelumnya masih banyak dikuasai oleh para kyai atau pemuka agama yang lebih berumur.

Krisis Corona akhirnya masih lebih banyak berkelindan dengan perdebatan fiqih atau teologi yang berlarut-larut, ketimbang direspons lebih praktis dan bisa menenangkan umat dalam menghadapi krisis ini.

Sejak Corona merebak di Wuhan, Tiongkok, hingga sekarang perbincangan terkait virus beririsan dengan agama tidak pernah surut. Media sosial kita terasa sudah semakin sesak dengan berbagai perbincangan tautan dua hal tersebut. Mungkinkah ini akan berakhir seiring dengan penyebaran virus Covid-19? Entahlah, apalagi di tengah situasi pendemi Covid-19 yang masih tinggi angka penyebarannya.

Media sosial yang sering dipandang sinis oleh sebagian orang, karena dianggap menjadi distraksi atau penganggu kehidupan nyata, sekarang malah diserbu netizen sebagai sarana berinteraksi bersama masyarakat terutama pascaimbauan #dirumahaja mulai menggelora.

Memang warganet sejak dulu sudah dituntut untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial, utamanya mengurangi mengunggah postingan yang bisa memancing kepanikan, kebimbangan juga ketakutan yang melanda masyarakat di tengah situasi pandemi ini.

Ketika cuaca malah makin panas di Facebook, karena disesaki dengan konten negatif, sehingga menjadi alasan bagi sebagian orang mulai menyuarakan gerakan “Media Distancing (Jaga Jarak dengan Media Sosial)”.

Banjarmasin Post edisi Kamis (16/4/2020).
Banjarmasin Post edisi Kamis (16/4/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Alasannya, karena kebanyakan informasi yang beredar di media sosial justru gagal menimbulkan sikap positif tapi malah negatif, seperti psikosomatik atau kecemasan berlebih. Walau tidak sedikit konten religius, seperti berbagi amalan, bacaan hingga kegiatan zikir atau baca ratib bersama, sebagaimana dijelaskan di atas, yang mencoba menebarkan sikap positif, seperti optimisme dan ketenangan.

Halaman
123
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved