Tajuk

PSBB Tanpa Disiplin Kolektif

Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tidak akan berhasil memutus mata rantai Covid-19 tanpa kesadaran masyarakat

Dok Humas Pemprov Jabar
Kabupaten Bogor, Kota Depok, serta Kota dan Kabupaten Bekasi (Bodebek) mulai menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hari pertama. 

Editor: Didik Triomarsidi

BANJARMASINPOST.CO.ID - BEBERAPA daerah baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota mengajukan permohonan ke Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Termasuk Banjarmasin, ibu kota Kalsel. Tetangga, Palangkaraya, ibu kota Kalteng, sudah lebih awal mengajukan, tetapi ditolak. Sedang Banjarmasin belum ada keputusan.

Untuk dapat menetapkan PSBB harus memenuhi kriteria: Jumlah kasus dan atau jumlah kematian akibat penyakit meningkat dan menyebar secara signifikan dan cepat ke beberapa wilayah. Lalu, terdapat kaitan epidemiologis dengan kejadian serupa di wilayah atau negara lain. Selain itu, dampak dan kesiapan daerah pada aspek ekonomi dan sosial.

Ada beberapa daerah yang sudah memberlakukan PSBB. Untuk tingkat provinsi baru DKI Jakarta. Sudah sepekan Jakarta memberlakukan PSBB. Yang menjadi catatan utama, meski terjadi pengurangan aktivitas di luar rumah, tetapi tidak sedikit yang melanggar aturan PSBB. Kondisi ini tentu tidak menguntungkan bahkan sebaliknya, merugikan warga yang benar-benar melaksanakan protokol kesehatan: Jaga jarak, di rumah saja dan selalu memakai masker bila terpaksa ke luar rumah.

Selain penegakan hukum yang tegas dan kesiapan pemerintah daerah melakukan jaring pengaman sosial, kunci keberhasilan PSBB yang berlangsung selama 14 hari adalah kedisiplinan kolektif mematuhi protokol kesehatan. Tanpa itu, status PSBB tidak akan membawa hasil.

Banjarmasin Post edisi Jumat (17/4/2020).
Banjarmasin Post edisi Jumat (17/4/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Banjarmasin harus belajar dari daerah lain yang sudah memberlakukan PSBB, terkait kedisiplinan kolektif. Terutama Jakarta yang bisa dikatakan sebagai episentrum penularan covid-19 di Indonesia.

Di Banjarmasin sendiri, imbauan melalui berbagai cara dan media. Hasilnya? Tidak semua warga Banjarmasin mengiyakan. Dianggap sekadar imbauan tanpa merasa harus melaksanakan.Tragisnya, ada pula yang justru menyepelekan.

Spirit kebersamaan, gotong royong dan solidaritas berperan krusial. Perlu kesadaran dan gerakan bersama untuk menegakkan kedisiplinan kolektif dalam perang melawan covid-19. Tanpa kedisiplinan kolektif mustahil virus itu bisa dikalahkan. Pandemi bisa tak berujung. Jangan sampai itu yang terjadi. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved