Opini Publik

Corona dan Dua Mata Sufi

Perbedaan dan pembedaan antara yang relatif dan Yang Mutlak itu sangat mendasar dalam beragama.

istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Editor: Didik Triomarsidi

Oleh: Profesor Mujiburrahman,  Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - Mengapa sebagian umat beragama ada yang nekat, tidak takut terjangkit virus Corona? Mungkin karena agama memberikan jalan bagi manusia untuk terhubung dengan Yang Mutlak, Yang Absolut, Yang Tak Terbatas. Kesalahan terjadi ketika manusia yang nisbi, yang relatif, yang terbatas itu, kemudian merasa yakin mendapat perlindungan dari Yang Mutlak, sehingga seolah dia menjadi Yang Mutlak itu sendiri!

Perbedaan dan pembedaan antara yang relatif dan Yang Mutlak itu sangat mendasar dalam beragama. Ketika perbedaan itu lenyap, maka yang akan muncul dengan sendirinya adalah Yang Mutlak.

“Kami tidak takut pada virus Corona, hanya takut pada Allah,” katanya. Kalimat “hanya takut pada Allah” itu berarti virus itu relatif dan aku relatif, maka keduanya akan kalah dan lenyap di hadapan Yang Mutlak.

Kalau kita cermati lebih jauh, bukan hanya kaum beragama yang percaya pada Yang Mutlak, kaum sekuler dan ateis pun juga. Bagi yang terakhir, yang mutlak itu adalah kematian, atau lebih luas lagi, ruang dan waktu yang membatasi hidup manusia. Jika Anda merasa hidup penuh duka lara dan Anda yakin kematian adalah akhir dari segala-galanya (mutlak), maka bisa jadi Anda nekat rela ditulari virus.

Lebih dahsyat lagi jika kemutlakan orang beragama dan ateis itu bersatu padu. Misalnya, orang yakin bahwa Yang Mutlak berada di pihaknya, yang akan melindungi, mengasihi dan mengampuninya. Di sisi lain, kehidupannya memang tidak begitu bahagia. Dia hidup miskin dan terpinggirkan. Dia menemukan arti hidup justru dalam kerumunan kawan-kawannya. Wajar bukan jika dia nekat menghadapi virus?

Banjarmasin Post edisi Senin (20/4/2020).
Banjarmasin Post edisi Senin (20/4/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Tentu saja ada perbedaan antara orang bertuhan dan ateis. Kaum bertuhan mungkin lebih gagah-berani menjemput maut karena yakin masih ada kehidupan sesudah mati, yang diharap lebih membahagiakan. Sebaliknya, si ateis tak punya harapan itu. Ia boleh jadi berpikir, berpuas-puaslah dalam kesenangan dunia ini. Peduli amat dengan virus. Sekarang atau nanti sama saja, akan mati juga. Hidup hanya sekali.

Lebih berbahaya lagi bagi yang ikut-ikutan saja. Dia sebenarnya tidak paham apalagi yakin dengan Yang Mutlak itu. Dia tidak paham bahaya virus ini, penularannya dan akibat yang ditimbulkannya. Ketika virus itu menyerangnya atau keluarganya, baru dia sadar. Yang relatif itu nyata adanya. Sakitnya benar-benar terasa. Di sinilah berlaku ungkapan: man lam yadzuq lam yadri. Bahasa Banjarnya, marasa maka tahu!

Dalam hal ini, saya teringat Sufi Agung, Ibnu Arabi (1165-1240). Mungkin dialah orang yang paling luas pengetahuan metafisikanya tentang Yang Mutlak di kalangan para pemikir Muslim. Ajarannya, yang disebut wahdat al-wujûd, memang tidak mudah dipahami, dan seringkali menjadi sasaran kritik karena dianggap mengabaikan tanggungjawab moral dan hukum alam yang menuntut usaha-ikhtiar manusia.

Ibnu Arabi hidup pada masa kaum Muslim mengalami krisis politik serius. Dinasti Muwahhidin runtuh dan Cordova dan Valensia jatuh ke tangan non-Muslim. Dari Murcia Spanyol, dia berkelana ke Palestina, Mesir, Mekkah dan kota-kota Islam di Timur yang tengah menghadapi Perang Salib. Dia juga mengetahui ancaman bangsa Mongol yang kelak meluluhlantakkan Baghdad, 18 tahun setelah wafatnya.

Dalam situasi itulah, ia menulis al-Futûhât al-Makkiyah. Mulai ditulis pada 1202 dan selesai pada 1231. Kemudian direvisi lagi dan selesai pada 1238, dua tahun sebelum wafatnya. Karya 8 jilid ini memaparkan dunia keruhanian Islam yang amat luas dan dalam, yang dalam ungkapan Michel Chodkiewicz disebut ‘samudera tak bertepi’ atau oleh anaknya, Claude Addas, disebut ‘pelayaran yang tak pernah kembali’.

Terlepas dari berbagai kritik terhadapnya, para pengkaji Ibnu Arabi sepakat bahwa dia adalah Sufi yang sangat menekankan syariat dan tanggungjawab moral manusia. Dia justru yang berhasil memadu antara konsepsi tentang Tuhan yang hadir (immanen) dan Tuhan Yang Tak Terjangkau (transenden). Dia juga yang menyatakan tentang perpaduan sifat-sifat Tuhan yang feminin (jamâl) dan yang maskulin (jalâl).

Cara melihat secara serempak dengan dua mata itulah kiranya yang diajarkan oleh Ibnu Arabi. Kita harus melihat pohon-pohon sekaligus hutan. Kita harus melihat hukum alam sebagai kehendak bijak Dia Yang Mutlak dalam dunia yang relatif. Kita takkan pernah mengenal sepenuhnya Yang Mutlak. Kita hanya mengenal-Nya melalui tanda-tanda kehadiran-Nya, ayat-ayat-Nya, penampakan-Nya, di alam relatif ini.

Karena itulah, Muhammad Iqbal pernah mengingatkan, tujuan beragama bukanlah melenyapkan diri dalam Yang Mutlak, tetapi menyerap energi dari-Nya agar kita tetap tegar menghadapi hidup. Meskipun hidup yang relatif ini jauh dari sempurna, kata Dewi Lestari dalam Filosofi Kopi, ia sangat layak untuk dinikmati dan disyukuri.(*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved