Opini Publik

Melek Finansial dan Pemberdayaan Kaum Perempuan

Merujuk data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) beberapa waktu lalu, tingkat literasi keuangan perempuan Indonesia saat ini baru mencapai 25,69 persen

Oleh: Rejeki Wulandari Alumni Akademi Keuangan dan Perbankan Indonesia (AKPI) Bandung

 BANJARMASINPOST.CO.ID - UPAYA peningkatan literasi keuangan kaum perempuan Indonesia perlu terus dilakukan, baik melalui sektor formal maupun melalui sektor informal. Dengan begitu, kaum perempuan di negeri ini diharapkan semakin berdaya dan akan kian berkontribusi bagi peningkatan kesejahteraan keluarga dan juga kesejahteraan bangsa.

Merujuk kepada data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dirilis beberapa waktu lalu, tingkat literasi keuangan perempuan Indonesia saat ini baru mencapai 25,69 persen, sementara tingkat literasi keuangan laki-laki sebesar 33, 52 persen. Padahal, nyaris 80 persen urusan keuangan rumah tangga dikelola oleh kaum perempuan.

Secara sederhana, literasi keuangan dapat didefinisikan sebagai pengetahuan dan pemahaman seputar sektor keuangan serta produk-produk jasa keuangan berikut kemampuan dalam membuat keputusan secara efektif yang terkait dengan aspek keuangan maupun produk-produk jasa keuangan yang tersedia di pasaran.

Semakin banyaknya produk jasa keuangan yang dibarengi dengan kemajuan di sektor teknologi serta berubahnya struktur demografi masyarakat saat ini tak pelak membutuhkan pengetahuan dan pemahaman yang mumpuni seputar aspek keuangan, berikut produk-produk jasa keuangannya.

Tingkat literasi keuangan sendiri memiliki kontribusi cukup signifikan terhadap partisipasi ekonomi masyarakat dan kesehatan ekonomi masyarakat. Artinya, semakin tinggi tingkat literasi keuangan sebuah masyarakat, maka semakin tinggi pula partisipasi ekonomi dan kesehatan ekonomi masyarakat itu.

Dalam konteks pemberdayaan kaum perempuan, terdapat beberapa alasan mengapa literasi keuangan begitu penting bagi kaum perempuan.

Pertama, seperti disebutkan di muka, nyaris 80 persen urusan keuangan keluarga dikelola oleh perempuan. Maka, baik buruknya pengelolaan keuangan rumah tangga bergantung pada seberapa jauh tingkat literasi keuangan kaum perempuan. Apabila pengelolaan keuangan rumahtangga dapat dijalankan dengan baik, maka ini akan berpengaruh kepada tingkat keharmonisan keluarga dan tingkat kesejahteraan keluarga. Keharmonisan dan kesejahteraan keluarga pada gilirannya bakal ikut berkontribusi pada keharmonisan dan kesejahteraan di level negara.

Kedua, berbagai penelitian menunjukkan kaum perempuan rata-rata hidup lima tahun lebih lama dari kaum laki-laki. Risikonya, kaum perempuan dituntut untuk bisa lebih mandiri, termasuk dalam soal finansial, ketika mereka lebih dulu ditinggal oleh pasangan mereka. Pengetahuan dan pemahaman seputar sektor keuangan serta produk-produk jasa keuangan berikut kemampuan dalam membuat keputusan secara efektif yang terkait dengan aspek keuangan maupun produk-produk jasa keuangan dapat menjadi modal penting bagi kaum perempuan untuk mampu mandiri secara finansial.

Ketiga, perempuan, terutama yang telah menyandang status sebagai ibu, adalah pendidik bagi anak-anaknya. Sebagai ibu, perempuan memiliki pengaruh besar bagi penanaman nilai-nilai dan pengetahuan bagi anak-anaknya. Dengan menguasai literasi keuangan secara baik, kaum perempuan dapat membekali putra-putrinya sejak dini dengan pengetahuan dan pemahaman seputar sektor keuangan serta produk-produk jasa keuangan berikut pengetahuan bagaimana mengelola keuangan secara efektif dan efisien.

Halaman
12
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved