Opini Publik

Refleksi Hari Bumi di Tengah Pandemi

Di tengah duka dan ancaman yang menimpa penghuninya, nasib bumi di tengah masa pandemi justru menunjukkan perbaikan

City of Sugar Hill
Hari Bumi 2020 atau Earth Day jatuh di hari Rabu 22 April 2020. 

Oleh: RIBUT LUPIYANTO, Deputi Direktur C-PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration)

Editor : Didik Trio Marsidi

BANJARMASINPOST.CO.ID - SETIAP tanggal 22 April dunia memperingati Hari Bumi. Hari Bumi adalah acara tahunan yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap Bumi, terutama meningkatkan kesadaran publik akan lingkungan. Peringatan tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, lantaran terjadinya bencana pandemi Covid-19 di seantero penjuru bumi. Wabah virus corona atau Covid-19 terus merajalela sejak ditetapkan sebagai pandemik oleh WHO pada Rabu (11/3). Jumlah pasien dan korban kian hari kian meningkat.

Di tengah duka dan ancaman yang menimpa penghuninya, nasib bumi di tengah masa pandemi justru menunjukkan perbaikan. Beberapa perbaikan yang menggembirakan tersebut antara lain perbaikan kualitas udara, penurunan volume sampah, penurunan penggunaan energi, dan lainnya.

Bagaimanapun Covid-19 harus dibasmi, tetapi perilaku yang minim menimbulkan kerusakan bumi penting dilestarikan. Pascapandemi Covid-19 mitigasi ekologi akan kembali menjadi salah satu tantangan besar dunia.

Sejarah dan Hikmah

Hari Bumi pertama kali dicanangkan oleh pengajar lingkungan Amerika Serikat Gaylord Nelson pada 1970. Seiring berjalannya waktu, Hari Bumi mendapat dukungan dari berbagai pihak untuk pembentukan Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) dan berkontribusi pada pengesahan UU Udara Bersih, UU Peningkatan Kualitas Air, UU Spesies Terancam Punah dan beberapa undang-undang lingkungan lainnya.

Live Science (2017) merilis Nelson tergerak pada lingkungan setelah melihat daerah sekitarnya rusak karena tumpahan minyak besar-besaran pada 1969 di Santa Barbara, California. Dia kemudian berinisiatif untuk menjadi pengajar dan mendidik masyarakat sekitar tentang lingkungan. Nelson dan timnya berhasil mengerahkan sekitar 20 juta orang di seluruh AS pada 20 April 1970 untuk mengadakan protes, serta berdiskusi di tempat umum untuk membahas soal lingkungan dan cara mempertahankan planet.

PBB sendiri memilih tanggal 20 Maret saat dimana matahari tepat di atas khatulistiwa sebagai peringatan Hari Bumi. Ini mengacu pada ide “hari bagi orang-orang bumi” yang dicetuskan aktivis perdamaian John McConnell.

Hari yang lebih dikenal sebagai “Hari Bumi Equinoks” ini diperingati PBB setiap tahunnya sejak 21 Maret 1971. Namun PBB juga mengakui tanggal 22 April sebagai hari bumi yang dilaksanakan secara global. PBB secara resmi merayakannya 22 April sebagai “International Mother Earth Day“.

Hari Bumi penting untuk mengingatkan manusia akan ancaman nyata yang sedang dihadapi planet ini dan memikirkan bagaimana untuk melindunginya. Berpikir tentang sejarah aktivisme lingkungan dan cara individu bekerja sama untuk mengubah kebijakan akan membuat kita lebih optimis dan mampu mewujudkan perubahan positif di masa depan.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved