Jendela

Ramadan, Personal dan Humor

Tidak ada Pasar Wadai (pasar kue). Tidak ada mudik. Ramadan kosong dari ciri-cirinya yang khas. Adakah tersisa dari yang biasa selain ibadah puasa

UIN Antasari Banjarmasin
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Banjarmasin Prof Mujiburrahman 

Editor : Didik Trio Marsidi

Oleh: Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari
BANJARMASINPOST.CO.ID - Jelas banyak yang terasa hilang pada Ramadan tahun ini. Tidak ada salat tarawih di masjid dan musalla. Tidak ada kuliah subuh atau sebelum witir di masjid. Tidak ada buka puasa bersama, baik dengan teman-teman ataupun masyarakat umum. Tidak ada Pasar Wadai (pasar kue). Tidak ada mudik. Ramadan kosong dari ciri-cirinya yang khas. Adakah yang tersisa dari yang biasa selain ibadah puasa?

Tak dapat disangkal, bagi kaum Muslim, suasana ini sungguh mengundang derai airmata. Hal ini tampak pada getaran suara Imam Masjidil Haram saat memimpin salat tarawih terbatas dan singkat di awal malam Ramadan kemarin. Ia tentu terkenang biasanya tiap tahun jutaan kaum Muslim dari berbagai penjuru dunia datang ke masjid itu untuk beribadah. Suasananya seperti musim haji, bahkan lebih.

Saya jadi teringat sosiolog Emile Durkheim yang menyebut agama sebagai penghadiran kebersamaan (collective representation) melalui simbol-simbol. Masjid, ritual-ritual, pakaian hingga berbagai budaya khas Ramadan adalah simbol-simbol yang menampilkan kebersamaan. Kini simbol-simbol itu tak dapat digunakan untuk menghadirkan kebersamaan lagi. Bagi Durkheim agama dan kebersamaan itu identik.

Namun, watak komunal dari agama itu kiranya tidak dapat pula menyangkal sisi personal, pengalaman orang perorang dalam beragama. Wilfred Cantwell Smith menegaskan, tidak ada yang lebih personal dibanding pengalaman beragama. Agama tidak tergantung di langit, statis dan selesai, tetapi ia dinamis di hati pemeluknya. Ketika Anda menangis saat berdoa, itulah pengalaman pribadi dalam beragama.

Karena itu, saya sangat setuju dengan filosof Muhammad Iqbal yang mengatakan, agama itu tidak hanya perasaan, pikiran atau tindakan; agama adalah ekspresi keseluruhan jatidiri manusia. Manusia itu pribadi sekaligus anggota masyarakat. Karena itu, agama juga kedua-duanya, ada yang bersifat komunal dan ada pula yang personal. Menyangkal salah satu berarti menyangkal hakikat agama itu sendiri.

Krisis Covid-19 telah memaksa kita untuk meninggalkan banyak sisi komunal dalam beragama. Ini tentu saja menyakitkan. Bagaimanapun, menjadi bagian dari satu umat beragama adalah suatu perlindungan dan penghiburan. Kini identitas sebagai umat itu tidak lagi bisa diwujudkan kecuali di dunia maya saja. Melalui teknologi internet dan ponsel, kita berusaha menjaga komunalitas itu meskipun sangat terbatas.

Di sisi lain, mungkin inilah pula kesempatan emas buat umat beragama untuk menengok ke dalam, ke relung-relung jiwa yang personal dalam beragama. Boleh jadi selama ini kita terlalu sibuk dengan sisi komunal atau kelompokdalam beragama, sementara sisi penghayatan pribadi kurang diperhatikan. Kini saatnya kita merenung, apa artinya agama itu bagi hidup kita, diri kita dan keluarga kecil kita.

Kaum Sufi adalah orang-orang yang sangat menekankan sisi personal itu. Bagi mereka, agama itu tidak cukup hanya dipikirkan dan dikerjakan, melainkan dialami dan dihayati. Hamzah Fansuri, Sufi Nusantara abad ke-16 itu melukiskan dalam syairnya yang amat terkenal: Hamzah Fansuri di dalam Mekkah; Mencari Tuhan di Baitul Ka’bah; Di Barus ke Kudus terlalu payah; Akhirnya dapat di dalam rumah.

Banjarmasin Post edisi Senin (27/4/2020).
Banjarmasin Post edisi Senin (27/4/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Apakah ini berarti, agama akan menjadi sangat pribadi, seperti yang dulu pernah dibayangkan oleh John Naisbitt dan Patricia Aburden dalam Megatrends 2000, dengan slogan spirituality yes, organized religionno (spiritualitas ya, agama terorganisasi, tidak)? Saya yakin tidak akan begitu, meskipun ada orang-orang yang memilih jalan itu. Agama, bagaimanapun, tetap kedua-duanya: sisi komunal sekaligus personal.

Saya kira yang penting adalah hikmah di balik ini. Kesempatan kita untuk menghayati agama secara pribadi atau bersama keluarga inti diharapkan akan melahirkan keseimbangan baru dalam cara kita beragama. Sisi agama komunal yang ramai-ramai dan gebyar akan diimbangi dengan sisi agama personal yang syahdu, ketika hati manusia bertemu Dia yang misterius, mempesona sekaligus menakutkan.

Selain itu, jangan sampai kita kehilangan humor dalam beragama. Saya teringat kisah Si Palui yang ditulis Yustan Azidin di BPost. Palui mengimami salat tarawih di rumahnya. Ketika sampai i’tidâl, Palui dengan keras bersuara, “Sami’allâhu liman Hamidah.” Si isteri juga tidak mau kalah, “Rabbanâ lakal Hamdan!” katanya. Rupanya Hamidah dan Hamdan adalah mantan mertua masing-masing. Mereka pun terbahak!

Jangan salah paham! Saya tidak menganjurkan Anda main-main dalam beribadah. Yang ingin saya katakan, daripada stres karena jauh dari komunalitas, mengapa kita tidak menertawakan diri sendiri? (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved