Opini Publik

Rumah, Wajah Sekolah Kita Saat Ini

Hal penting dan konkret untuk ditegaskan adalah apakah peran orangtua sebagai guru sudah mampu melaksanakan tugas-tugasnya?

OLEH: MOH YAMIN Penulis Buku-buku Pendidikan

BANJARMASINPOST.CO.ID - Terhitung pertengahan Maret 2020, semua jenjang pendidikan baik sekolah dasar, menengah, maupun atas/sederajat menyelenggarakan program belajar dari rumah.
Kebijakan ini diambil oleh pemerintah setelah wabah virus corona atau Covid-19. Sudah satu bulan lebih, program belajar dari rumah dilangsungkan. Rumah tidak lagi sebagai tempat berkumpul anak bersama keluarga semata, namun semua anak didik belajar dan berproses berpendidikan dari rumah. Kehadiran orang tua sebagai guru, yang menggantikan guru di sekolah menjadi berperan penting dalam menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran ini. Suasana belajar kondusif di rumah menjadi penting untuk dibangun dan dilangsungkan supaya semua anak didik dapat nyaman belajar dan mereka tetap mendapatkan pendidikan dan pembelajaran.

Hal penting dan konkret untuk ditegaskan adalah apakah peran orangtua sebagai guru sudah mampu melaksanakan tugas-tugasnya? Jika selama ini yang memberikan pendidikan dan pengajaran kepada anak didik adalah guru di sekolah, kini orang tua harus melakukan metamorfosa diri supaya tidak sebatas sebagai orang tua, namun juga sebagai guru bagi anak-anaknya.

Sudah jamak kita mendengar berita baik dari media cetak maupun televisi, ketika para anak didik di sekolah tidak berhasil dalam mencapai prestasi pendidikan dan pembelajarannya, guru secara umumnya menjadi disalahkan dan dipersalahkan. Selain itu, guru menjadi korban dari “kemarahan” para orang tua walaupun tidak semua orang tua memandang sebelah mata terhadap kerja dan pengadian para guru (baca: realitas).

Kini ketika anak-anak sudah di rumah dan dipaksa harus belajar dari rumah, mampukah para orang tua menjadi guru seperti di sekolah? Seberapa sabar dan telaten para orangtua menjadi guru bagi anak-anaknya. Mari kita semua sebagai orang tua melakukan refleksi diri apakah kita mampu menjadi guru yang seutuhnya bagi para anak-anak kita.

Tidak mudah menjadi guru yang selalu teliti dan telaten dalam mendidik anak-anak. Setiap anak memiliki keunikan belajarnya sendiri dan ini belum lagi terkait dengan “kenakalannya” yang tidak mesti dijawab dengan “kekerasan”. Para guru di sekolah sudah mempraksiskan itu dengan kesabaran tingkat tinggi, apakah para orangtua mampu melakukan itu. Kondisi akademik para orangtua saat ini tidak bisa disamakan dengan kondisi akademik para orang tua jaman dulu ketika tahun 1980’an dimana tidak semua orang pada masa itu menjalani proses pendidikan hingga menengah atas atau pendidikan tinggi. Menyelesaikan pendidikan dasar sudah bagus pada saat itu dan itu pun hanya dapat dihitung dengan jari. Kondisi akademik orang tua saat ini jauh lebih terdidik dan berpendidikan sehingga mereka sudah seharusnya mampu menjadi guru bagi anak-anaknya.

Oleh karenanya, dalam kondisi sedang menjalani belajar dari rumah, saatnya para orang tua mengambil peran strategis untuk mengawal pendidikan anak-anak mereka. Apa yang sudah dipelajari oleh anak-anak di sekolah tinggal diingatkan kembali, dimonitor kembali, diperdalam kembali, dan begitu seterusnya oleh para orangtua. Kehadiran orangtua sebagai guru satu-satunya dalam kondisi saat ini sangat dibutuhkan oleh anak-anaknya. Boleh saja selama belajar di dan dari rumah, suasana belajar tidak seserius dan seresmi di sekolah, namun subtansi dan tujuan belajar tetap menjadi tujuan utama sehingga selama anak-anak belum bisa kembali ke sekolah dan belajar di sekolah, kehadiran orang tua memiliki kontribusi bagi pendidikan anak-anaknya. Tidak ada alasan bagi orangtua untuk membiarkan anak-anaknya belajar tanpa ada petunjuk dan pemandu. Tidak ada alasan bagi orangtua bahwa selama belajar dari rumah, anak-anaknya tidak dikawal secara serius dan terpola dengan sedemikian rupa. Saatnya orangttua membuktikan bahwa mereka setidaknya bisa mengalami proses menjadi guru untuk anak-anaknya sehingga ketika mereka kembali ke sekolah dan belajar di sekolah, para orang tua mempunya pengalaman yang bermakna bahwa menjadi guru tidak semata membutuhkan pengetahuan akademik saja, namun yang lebih berat dari itu adalah kesabaran, keikhlasan, dan optimisme dalam mendidik.

Menguji Orangtua

Ini menjadi ujian bagi orang tua, apakah mereka mampu menjalani dan menjalankan tugas barunya sebagai guru di rumah. Rumah harus didefinisikan ulang sebagai sekolah yang menjadi ruang dan tempat bagi anak-anaknya melakukan transformasi diri, menggembleng diri menjadi subyek-subyek pembelajar dinamis. Rumah setidaknya menjadi uji coba bagi orang tua apakah mereka sudah menempatkan rumah sebagai sekolah, tempat baru bagi anak-anaknya dalam belajar. Karena mereka sudah mendapat tugas baru sebagai guru, mereka pun sudah selayaknya bisa memberikan input pengetahuan bagi anak-anaknya sehingga mereka menjadi tetap aktif belajar. Dengan berbagai pengetahuan dari mata pelajaran yang diperoleh selama dan di sekolah, orang tua pun perlu melakukan kontekstualisasi pengetahuan tersebut di rumah sehingga pengetahuan mereka menjadi bermakna dan kaya atas pengalaman hidup.

Ada dua perbedaan pendekatan yang kemudian dapat dikenalkan dalam konteks ini untuk mengindentifikasi kurikulum yang berlaku di sekolah dan di rumah. Secara umum, kurikulum di sekolah adalah terbuka dan membuka sebab sudah didesain secara utuh dan berkesinambungan dalam dokumen; ini berbeda dengan kurikulum yang dibangun dan dikembangkan di rumah sebagai ruang bersekolah baru yang lebih dikenal dengan hidden curriculum. Kontekstualisasi pengetahuan dalam kurikulum di rumah masuk dalam hidden curriculum dan inilah tugas orang tua sebagai guru dalam mempraktikkan itu, selain tetap mengawal tahapan pelajaran yang sudah diikuti dan dipelajari di sekolah.

Tantangan bagi Orangtua

Marilah menjadi guru untuk anak-anak agar mereka tetap menjadi pembelajar walaupun tidak bisa belajar di sekolah. Marilah menjadi orang tua guru yang bisa mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai edukasi kepada anak-anak kita supaya selama masa wabah ini, mereka tetap menjadi subyek-subyek yang terus hidup dengan pendidikan dan pengetahuannya. Jangan karena sibuk dengan pekerjaan, harus bekerja dari rumah atau mungkin tetap bekerja di luar rumah dengan waktu yang dibatasi, kita selanjutnya melupakan tugas sebagai guru di rumah. Mari membangun suasana rumah dengan bernilai edukasi dan sekolah yang menyenangkan sehingga semua anak selama di rumah tetap menikmati hidupnya dengan menyenangkan.

Menjaga emosi secara psikologis selama di rumah sangat penting supaya anak-anak menjadi nyaman selama di rumah. Untuk itu, marilah sulap rumah kita menjadi sekolah yang menyenangkan bagi anak-anak. Kita semua yakin bahwa ini akan menjadi kebanggaan tersendiri ketika rumah benar-benar menjadi sekolah yang membelajarkan dan menyenangkan. Semoga kita sebagai orang tua yang harus melakukan multi-tasking dapat menjalankan peran-peran ganda ini dengan baik. Ada masanya suasana akan kembali normal; anak-anak akan kembali ke sekolah, belajar di sekolah, bertemu dengan teman-temannya, mencium tangan para gurunya yang selama ini sudah banyak mengeluarkan energi ikhlas dan sabar dalam mendidik mereka demi ilmu yang berkah dan manfaat.Kita juga meyakini bahwa para guru di sekolah pun akan merasa bangga dan bangga atas kerja ikhlas para orang tua yang menggantikan perannya selama belajar dari rumah. Wallahu A’lam Bishhowab. (*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved