Berita Hulu Sungai Selatan

Terdampak Corona, Sopir Angkutan Kabupaten HSS Lebih Sering Nganggur

Meski sopir antarkabupaten dalam provinsi masih dibolehkan masuk Banjarmasin, tingkat masyarakat menggunakan angkutan umum kini kian merosot.

Tayang:
Penulis: Hanani | Editor: Alpri Widianjono
banjarmasin post group/ hanani
ILUSTRASI - Suasana di terminal angkutan umum antar kota provonsi, jalan HM Yusi, Kandangan, Hulu Sungai Selatan. 

Editor: Alpri Widianjono

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Sopir angkutan umum  jenis L-300 masih diizinkan operasioal mengangkut penumpang ke Banjarmasin, meski ibu kota Kalsel itu dalam status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Menurut para sopir yang tergabung dalam Organda Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), hanya angkutan antarprovinsi yang dilarang masuk.

Meski sopir antarkabupaten dalam provinsi masih dibolehkan masuk Banjarmasin, tingkat masyarakat menggunakan angkutan umum kini kian merosot.

Ketua Organda Kabupaten HSS, Abdul Rasyid, dihubungi Banjarmasinpost.co.id, Rabu (29/4/2020) mengatakan, sebelum PSBB di Kota Banjarmasin, warga yang bepergian ke luar daerah, khususnya Banjarmasin maupun Kabupaten Tanahbumbu sangat sedikit.

“Dalam satu minggu, paling satu kali berangkat dari Kandangan-Banjarmasin. Itupun penumpangnya dalam satu hari paling banyak empat sampai lima orang. Jadi, lebih banyak nganggurnya,” ungkap Rasyid.

Rasyid yang juga sopir angkutan mini bus L-300 menuturkan, untuk hari ini, dia sudah keliling mencari penumpang sejak pukul 08.00 Wita.

Angkutan Kandangan Banjarmasin Sulit Dapat Penumpang di Tengah Wabah Corona

Sterilkan Pengunjung Pasar dan Penumpang Angkutan Umum, ini yang Dilakukan Dishub HSS

Sikap Sopir Angkutan Umum di Kabupaten HSS Saat Jumlah Penumpang Turun Drastis

Sampai pukul 15.00 Wita, hanya ada satu orang yang hendak ke Banjarmasin, sehingga dirinya memutuskan tak jadi berangkat. 

Disebutkan, di Kabupaten HSS total jumlah armada angkutan rute Kandangan Banjarmasin atau Nagara- Banjarmasin sebanyak 146 mobil.

Sebagian besar para sopir kini menganggur. Sebab, jika memaksa ke Banjarmasin, bakal rugi biaya operasional.

Padahal untuk pulang pergi rute tersebut, memerlukan Rp 250.000.

“Jika penumpangnya lima orang, dan pulangnya ada yang numpang lagi, baru tercukupi biaya bensin dan ada penghasilan sedikit,” kata Rasyid.

Diakui, sebelum wabah corona, para sopir angkutan masih bisa meraih menghasilan dari jasa tersebut, meski penumpangnya juga tak pernah full.

Sekarang, sebut dia, tanpa disuruh physical distancing pun, otomatis sopir sudah melakukannya, saking minimnya penumpang.

“Mungkin warga takut dan jadi berpikir untuk bepergian ke Banjarmasin karena takut terpapar corona,”katanya.

Rasyid mengatakan, semua anggota Organda terdampak Covid-19 tersebut datanya sudah diserahkan ke pihak pemerintah, agar diberikan bantuan tunai langsung (BLT). 

Karena tak hanya ojek dan bekak yang terdampak, para sopir pun menjadi kehilangan pekerjaan.

Apalagi, kebanyakan sopir hanya pekerja yang mengoperasikan mobil milik orang lain.

(Banjarmasinpost.co.id/Hanani)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved