Opini Publik

Menjaga Asa Ekonomi Indonesia

Membengkaknya pengangguran jika terus menerus berkelanjutan, jelas memberikan dampak buruk dimana nantinya akan ada banyak masyarakat kelaparan

Oleh: Haris Zaky Mubarak, MA, Peneliti dan Eksekutif Jaringan Studi Indonesia

BANJARMASINPOST.CO.ID - VIRUS Covid-19 berdampak sangat besar bagi rapuhnya sendi-sendi kehidupan ekonomi masyarakat.Kuatnya dampak Covid–19 karena diterapkannya pembatasan sosial membuat banyak pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat menjadi sangat terbatas bahkan tak sedikit dari masyarakat yang akhirnya menjadi korban pemutusan hubungan kerja atau PHK.

Munculnya pemutusan hubungan kerja atau PHK sebagai akibat wabah pandemik virus Covid-19 membuat pertokoan, hotel, restoran dan kantor swasta atau perusahaan mengalami kebangkrutan karena tak ada pemasukan sementara beban operasional tetap berjalan. Kondisi ini membuat orang mengganggur dan kehilangan pekerjaan. Konsekuensi ini tak hanya terjadi di Indonesia tapi juga terjadi diseluruh negara dunia.Mereka terlihat kebingungan dan pasrah dalam menghadapi realitas ini. Para pengusaha pun saat ini cemas akan daya tahan keuangannya karena khawatir tak sanggup membiayai operasional yang terus berjalan.

Membengkaknya pengangguran jika terus menerus berkelanjutan, jelas memberikan dampak buruk dimana nantinya akan ada banyak masyarakat kelaparan bahkan mungkin meninggal dunia karena ketidakmampuan mereka dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi.Efisiensi pengeluaran ditengah pandemik virus Covid-19 ini juga dirasakan oleh pemerintah dimana kebijakan pemberian THR kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS) juga hanya diberikan kepada para pegawai golongan lebih rendah dan pensiunan dimana kelompok ini dianggap sebagai kelompok yang rentan dalam situasi ekonomi tak normal seperti ditengah pandemik virus saat ini. Dapat dibayangkan bagaimana sulitnya kehidupan banyak warga masyarakat Indonesia saat ini ditengah mewabahnya virus Covid-19.

Atur Proyeksi

Mengambil inisiatif dan proyeksi pemetaan boleh jadi menjadi hal rasional untuk dilakukan saat ini ditengah kelumpuhan ekonomi karena wabah virus Covid-19. Banyak masyarakat yang pada akhirnya merasa tertekan, stress dan khawatir bagaimana nasib pemenuhan kebutuhan hidupnya kedepan. Pemerintah Indonesia kini sedang sibuk untuk meluncurkan berbagai bantuan untuk keluarga terdampak covid-19. Ada beberapa bantuan yang dikeluarkan pemerintah seperti melalui bantuan langsung tunai dengan kartu pra kerja tetapi bantuan itu tentu tak akan cukup dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengemukakan akibat wabah virus Covid- 19 maka skenario terburuk dari perekonomian Indonesia hanya akan tumbuh 2,3% dari prediksi awal 2020 yang akan naik 5%. Baik investasi maupun ekspor tumbuh negatif. Pada kuartal IV nanti, situasinya diharapkan membaik. Ketika investasi dan ekspor tumbuh negatif, motor penggerak pertumbuhan yang masih bisa diandalkan adalah konsumsi dalam negeri. Maka beberapa waktu ke depan, pemerintah diharapkan menerapkan kebijakan yang mendorong penguatan konsumsi, baik konsumsi masyarakat maupun konsumsi pemerintah sendiri.

Terkait resesi ekonomi, Indonesia memang tak boleh hanya menunggu. Sikap respons bersama pada resesi ekonomi pun harus dimulai. Negara dan bangsa ini harus menemukan jalan keluar yang meminimalisasi ekses resesi ekonomi. Negara-negara dengan perekonomian yang maju dan kuat sudah merespons resesi. Amerika Serikat dan China, misalnya, sudah berinisiatif dengan beberapa paket kebijakan stimulus ekonomi.

Pemerintah Indonesia berencana menerbitkan obligasi khusus, yang hasilnyaakan disalurkan untuk membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar tetap mampu bertahan dan menciptakan lapangan kerja. Selain itu, Presiden Joko Widodo berjanji menyelenggarakan program padat karya tunai untuk memberi penghasilan sementara bagi pekerja harian yang kehilangan pendapatan akibat pandemi Covid-19. Akan ada beragam program padat karya, termasuk memproduksi masker, disinfektan, dan berbagai keperluan untuk menangani wabah Covid-19 yang kesemuanya akan diproduksi oleh dalam negeri.

Semua asosiasi pengusaha diharapkan merumuskan strategi menghadapi resesi ekonomi di sektor bisnisnya masing-masing. Termasuk bagaimana memacu kerja UMKM untuk dapat tetap produktif meski daya beli turun. Berkurangnya permintaan masyarakat ini gilirannya menyebabkan industri menjadi stagnan, inflasi tidak terkendali, bertambahnya pengangguran. Akhirnya, negara akan terjatuh dalam lubang krisis berkelanjutan.

Respons Cepat

Pandemi Covid-19 ini benar-benar mengakibatkan guncangan penawaran dan permintaan. Sektor bisnis terganggu dengan penurunan produksi dan sedikitnya konsumen untuk berbelanja telah menurunkan permintaan.

Di sisi penawaran, ada pengurangan langsung ketersediaan tenaga kerja akibat mandeknya kegiatan ekonomi karena menahan persebaran wabah melalui pembatasan sosial yang menyebabkan terjadinya penurunan pemanfaatan kapasitas produksi. Pada sisi permintaan, hilangnya pendapatan, ketakutan penularan, dan peningkatan ketidakpastian akan membuat orang menghabiskan sedikit pengeluarannya. Pekerja diberhentikan, karena perusahaan tidak dapat membayar gaji mereka.

Dalam merespons situasi ekonomi Indonesia sekarang ini perlu reaksi positif dari penurunan tingkat bunga mampu direspons oleh dunia usaha melalui kredit produktif karena cost of capital yang rendah dan investasi yang mendorong penciptaan lapangan kerja. Lebih dari itu dalam jangka pendek mampu menjaga daya beli masyarakat dan meskipun berpacu dengan gerusan inflasi yang merangkak naik. Memang biasanya butuh waktu untuk bekerja efektif suatu kebijakan moneter.

Kita harus yakin bahwa simulasi kebijakan ekonomi tidak tergantung pada kebijakan moneter, tetapi juga membutuhkan suatu stimulus dan relaksasi ekonomi. Stabilitas sektor keuangan adalah kata kunci, sedangkan meyakinkan efek kepercayaan yang besar terhadap agen-agen ekonomi dan masyarakat terdampak. Selain itu perlu juga memetakan konsep mitigasi risiko ekonomi yang jelas atas terjadinya penurunan kinerja lintas sektor usaha untuk memastikan pertumbuhan banyak sektor tetap mampu bertahan. Di antaranya melalui penyusunan rumusan reorientasi kebijakan dan program pembangunan ekonomi nasional. Inilah cara yang paling relevan dalam menjaga asa ekonomi kita ditengah wabah Covid-19. (*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved