Tajuk

PSBB Tak PSBB

Aktivitas warga di siang hari hampir sama seperti hari-hari biasa saat tidak ada PSBB

BANJARMASINPOST.CO.ID - Saat pertama kali diterapkan, Pembatasan Sosial berskala besar (PSBB) kesannya menyeramkan. Selepas Maghrib pada hari Jumat 24 April 2020 jalan-jalan di Kota Banjarmasin mendadak sepi. Warung, toko maupun penjual makanan yang biasanya buka sampai jauh malam, pada malam itu tutup sekitar pukul 19.00 Wita.

Banjarmasin bak kota mati pada saat itu karena diberlakukannya jam malam yang dimulai sejak pukul 21.00 Wita. Perlahan namun pasti, suasana lengang, sepi di malam hari itu kembali ke arah ‘normal’. Di beberapa jalan, aktivitas warga kembali seperti sediakala. Malam hari seperti dak ada jam malam, karena selepas pukul 23.00 pun jalan masih tergolong tidak sepi. Masih banyak warung, toko yang buka, hingga Kamis 7 Mei 2020, tepat 14 hari PSBB berjalan.

Bagaimana saat siang hari? Malah lebih parah. Aktivitas warga di siang hari hampir sama seperti hari-hari biasa saat tidak ada PSBB. Membedakan hanya sekarang warga lebih banyak memakai masker dibanding sebelum PSBB digelar di Banjarmasin. Selebihnya, di titik keramaian aktifitas warga tetap berlangsung.

Pasar tetap ramai, apalagi saat sore hari jelang berbuka puasa, di tepi-tepi jalan terlihat kerumunan warga yang mencari penganan untuk berbuka puasa. Tidak tampak pembatasan sosial, social distancing atau atur jarak antre dalam berbelanja.dan, imbauan dari pemerintah daerah atau apparat pun nyaris tak terlihat, memberikan penyuluhan, pengertian agar jangan terlalu lama di luar rumah, lakukan social distancing dan hindari kerumunan.

Selama PSBB berlangsung hingga jelang akhir di 8 Mei 2020, media melihat PSBB berkutat di seputar pembatasan dan penjagaan di titik keluar masuk Kota Banjarmasin. Pembagian sembako untuk warga yang layak selama PSBB pun baru terlaksana 4 hari sejak awal dilaksanakan. Padahal kabarnya Wali Kota Banjarmasin menyiapkan dana Rp 21 miliar anggaran untuk PSBB. Tapi apakah memadai atau kurang, tidak tersampaikan pula ke publik. Belum lagi soal transparansi penggunaan dananya.

Jika ukuran keberhasilan PSBB Banjarmasin adalah untuk social distancing, physical distancing dipatuhi masyarakat, maka PSBB Banjarmasin boleh dikatakan gagal. Ukuran akhirnya keberhasilan tentu saja angka positif Covid-19, ODP, PDP dan OTG harus turun secara signifikan pula, sementara data mengatakan tidak.

Esensi PSBB bukan sekadar menjaga perbatasan atau pintu masuk Kota Banjarmasin lalu mengecek orang atau pengendara yang keluar masuk. Bukan, jelas bukan cuma itu. PSBB bertujuan membatasi gerak warga agar tidak terlalu banyak terkonsentrasi dalam kerumunan atau di titik-titik yang rawan terjadi penyebaran Covid-19.

Peran aparat lah yang menjadi dominan saat penerapan PSBB. Bukan hanya menjaga perbatasan, lalu piket sampai pagi menjaga keluar masuk pengendara. Aparat sebagai ujung tombak utama PSBB mengambil peran sebagai penyampai misi sosial social distancing, physical distancing dipatuhi masyarakat. Tentu tidak seperti polisi India yang memukul warganya yang kedapatan berkeliaran karena PSBB jelas juga bukan lockdown.(*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved