Jendela

Uzlah dan Puasa Ponsel

Kebiasaan orang Kanada, sebagaimana di negeri empat musim lainnya, musim dingin adalah masa kerja keras. Liburannya baru pas Natal dan Tahun Baru.

UIN Antasari Banjarmasin
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Banjarmasin Prof Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - Di bulan Ramadan ini, saya ingin mencoba sehari atau lebih puasa ponsel. Tujuannya agar tidak diganggu hiruk-pikuk media sosial, dan dapat berkonsentrasi pada pekerjaan. Hal ini mengingatkan saya akan pengalaman lebih dari 20 tahun lalu, ketika masih kuliah di McGill University, Montreal, Kanada.

Sudah maklum, kalau kita tengah kuliah, kesibukan mengerjakan tugas pasti luar biasa. Kebetulan, dua kali Ramadan yang saya alami di McGill, yakni pada 1999 dan 2000, terjadi pada musim dingin, musim salju. Kebiasaan orang Kanada, sebagaimana di negeri empat musim lainnya, musim dingin adalah masa kerja keras. Liburannya baru pas Natal dan Tahun Baru. Liburan panjangnya, nanti di musim panas.

Saya biasanya menulis malam hari. Pagi hingga sore, saya menghadiri kuliah, membaca atau mencari bahan di perpustakaan. Pas menulis itu, kita tak mau terganggu. Saya dan Munir, kawan se-apartemen, sepakat mematikan telepon. Kala itu belum ada ponsel, masih telepon analog. Enaknya, di sana telepon lokal gratis. Biayanya sudah termasuk dalam abonemen. Jadi, kita bisa ngobrol di telepon sepuasnya.

Di telepon memang ada layanan jawaban mesin yang mengatakan, “Maaf kami tak bisa menjawab Anda, silahkan tinggalkan pesan suara.” Tetapi ini tetap saja membikin kesal kawan yang ingin menghubungi. Kadang pesannya dibuat begini: “Please leave your message as long as it is interesting!” (Silakan tinggalkan pesan asalkan pesannya asyik). Itu dari seorang mahasiswa bule. Lucu, tapi bikin gemas juga.

Mengapa kita kesal? Karena kita ingin berkomunikasi. Lebih-lebih di negeri asing yang dinginnya bisa mencapai -30 °C di malam hari, jauh dari keluarga, dan lingkungan mayoritas tak berpuasa. Perasaan sepi dan bosan itu amat terasa ketika kesibukan sudah berkurang, atau pikiran lagi mampet, tak bisa mengembangkan argumen dalam karya ilmiah yang tengah dikerjakan. Kita perlu curhat, komunikasi.

Di sisi lain, kadangkala ada informasi yang amat penting yang mau disampaikan ke kita, tetapi terhambat karena kita menutup telepon. Pada bulan Februari 1999, kakak ipar saya menelepon dari Indonesia, tak bisa masuk karena ditutup. Lalu dia menelpon ke kawan saya. Kawan saya terpaksa mendatangi kamar saya untuk memberitahu informasi amat penting: anak saya yang pertama sudah lahir dengan selamat!

Namun, andai saya dan kawan-kawan seperjuangan di Montreal itu kerjanya telepon-teleponan melulu, tak bisa mengatur waktu, pastilah kami gagal. Apalagi kalau telepon internasional, yang biayanya sangat mahal. Mungkin dalam seminggu saja, beasiswa akan ludes. Di sinilah pentingnya manajemen waktu dan menentukan prioritas. Mana yang utama, itulah yang didahulukan. Tak mungkin semuanya jadi utama.

Barangkali, mengasingkan diri atau memutus komunikasi dengan dunia luar itulah yang dimaksud oleh kaum Sufi dengan ‘uzlah. Sifatnya sementara, bukan untuk selamanya. Bagi kaum Sufi, ‘uzlah itu antara lain untuk beribadah, belajar mandiri dan menulis. Juga untuk memelihara diri dari perbuatan dosa. Jika kita hanya tidur atau mengerjakan sesuatu yang tidak bermanfaat, maka ‘uzlah itu sia-sia belaka.

Kini kita hidup di era ponsel, yang sangat mudah menghubungkan kita dengan seluruh dunia. Kita hidup pada saat informasi amat berlimpah ruah. Apalagi, saat ini kita tengah menghadapi krisis Covid-19 yang membatasi mobilitas dan interaksi kita dengan orang-orang di luar lingkungan dekat kita. Jalan keluar untuk komunikasi ke dunia luar itu tiada lain kecuali ponsel. Maka tak heran, ponsel selalu bersama kita.

Inilah tantangan sekaligus peluang untuk puasa ponsel. Kita tidak sanggup seperti kaum Sufi dulu, yang mengasingkan diri di menara masjid atau di gua. Kita juga tak sanggup terputus dari dunia luar hingga berbulan-bulan apalagi bertahun-tahun. Namun, Ramadan memberi kesempatan yang luas kepada kita untuk mengasingkan diri sejenak, untuk beribadah, merenungi diri serta menambah ilmu dan hikmah.

Alhasil, sebagai manusia, kita tak bisa hidup sendirian tanpa komunikasi. Namun komunikasi mendalam hanya bisa dilakukan antara seorang pribadi dengan seorang pribadi lainnya, bukan ramai-ramai. Bahkan komunikasi yang paling intens adalah ketika kita berbicara kepada diri sendiri. Tuhan pun sendirian. Hamba yang ingin dekat dengan-Nya, harus berduaan dengan-Nya, tanpa orang lain. Alone with alone. (*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved